"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Kemudahan Konsumen Didekati Bisnis

Strategi Promosi dalam Dunia Bisnis

Promosi dan strategi promosi merupakan senjata ampuh bagi pelaku bisnis untuk menarik perhatian konsumen. Dengan melakukan promosi yang gencar menggunakan bintang iklan dan konten iklan yang menarik, konsumen dapat dengan mudah dipengaruhi oleh pelaku bisnis. Begitu juga dengan strategi promosi yang mereka lakukan.

Banyak model dan ragam strategi promosi yang terus digunakan oleh pelaku bisnis, mulai dari memoles produk hingga membranding produk orang lain dengan branding dirinya sendiri.

Mempoles Produk

Dalam dunia bisnis, strategi promosi yang dilakukan boleh saja dan sah-sah saja. Kini, ada kecenderungan pelaku bisnis memoles suatu produk dengan menempelkan merek dirinya pada produk orang lain melalui kerja sama dengan pemilik atau produsen produk tersebut.

Contohnya, di sebuah unit bisnis seperti rumah makan atau restoran. Agar pemilik rumah makan atau restoran tersebut dapat menggiring dan memberikan daya ingat serta rasa bangga terhadap tempatnya, maka produk yang dijualnya diberi atau dipasang merek dagang mereka meskipun itu adalah produk orang lain. Misalnya, air mineral botol yang diproduksi oleh produsen tertentu, tetapi ditempelkan merek dagang rumah makan atau restoran tersebut.

Biasanya, pada botol air mineral tersebut tertera merek dagang dari produsen air mineral botol tersebut dan juga merek dagang rumah makan atau restoran tersebut.

Dalam etika bisnis, strategi promosi ini dianggap sah karena kedua belah pihak sudah melakukan kerja sama dan atau perjanjian tertentu. Tidak ada pihak yang dirugikan, justru saling diuntungkan.

Metode promosi semacam ini juga diikuti oleh unit bisnis lain, seperti perguruan tinggi, khususnya saat mereka akan di survey untuk dilakukan penilaian atas akreditasi perguruan tinggi yang akan mereka lakukan. Perguruan Tinggi tersebut bekerja sama dengan produsen air mineral kemasan agar produk air mineral botol mereka dipasang atau ditempel merek atau nama perguruan tinggi tersebut, agar terkesan bahwa pihak perguruan tinggi tersebut kreatif dan memiliki nilai jualnya.

Fenomena yang Marak

Begitu juga dengan unit bisnis lainnya, seperti supermarket dan ritel modern. Ada yang masih melakukan kerja sama ke dua belah pihak dan ada yang sudah mengeluarkan sendiri produk atas merek atau brand mereka.

Supermarket atau ritel modern yang sudah “mengeluarkan produk” atas nama merek dagang atau brand mereka kini makin marak. Jika sebelumnya, hal demikian hanya dilakukan untuk produk atau barang tertentu saja, kini hampir separuh lebih produk yang ada pada etalase mereka sudah menggunakan merek dagang atau brand mereka. Entah itu memang mereka yang memproduksinya atau hanya menempelkan merek dagang atau brand mereka saja.

Terlepas dari apakah mereka hanya “merubah nama”, “merubah merek”, atau “menempel merek” produk orang lain menjadi merek dagang mereka, yang jelas konsumen menyaksikan bahwa berbagai produk atau barang yang dipajang pada etalase mereka sudah menggunakan merek atau brand mereka.

Bagaimana Ke Depan?

Fenomena menempel dan atau diduga merubah merek dagang orang lain ke merek dagang mereka atau brand mereka ini, sepertinya ke depan akan semakin marak. Bagi sesama pelaku bisnis, muncul pertanyaan, siapa yang akan dirugikan dan siapa yang akan diuntungkan? Begitu juga dikalangan konsumen, apakah konsumen akan diuntungkan atau justru dirugikan?

Dari pengamatan di lapangan, produk yang diduga menggunakan merek dagang atau brand mereka sendiri tersebut, memang harganya ada yang lebih murah dibandingkan dengan produk yang biasanya konsumen beli. Namun, kualitas barang yang ditempel/dipasang merek atau brand mereka tersebut sepertinya lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan kualitas barang yang biasanya dibeli konsumen.

Konsumen Bingung?

Dengan adanya strategi promosi dan atau strategi produk tersebut, sepertinya konsumen bingung dalam menentukan pilihan atau dalam membeli suatu barang. Mau membeli barang dengan merek yang biasa mereka beli dengan merek yang sudah terkenal atau yang sudah mempunyai brand, atau mau membeli barang yang sama dengan merek atau brand dari supermarket atau ritel modern tersebut. Bingung! Bingung! Bingung!

Konsumen ragu. Di lapangan memang tidak sedikit konsumen yang ragu, sering kita saksikan pada saat konsumen berada di depan etalase barang yang akan dibelinya, mereka terkadang “tertegun” atau “sedikit menyita waktu”, untuk mempertimbangkan membeli barang yang akan dibelinya tersebut sesuai dengan barang aslinya atau sesuai dengan merek dagang yang sudah sering mereka beli selama ini atau mau membeli barang yang sama dengan merek atau brand dari supermarket atau ritel modern tersebut.

Konsumen Rasional?

Dalam menyikapi fenomena ini, memang ada dua kelompok konsumen yang ada, ada konsumen rasional yang kuat dengan pendiriannya dan ada konsumen yang tidak rasional yang mudah tergoda atau tergoyahkan dengan strategi promosi atau strategi produk yang mereka lakukan.

Bagi konsumen rasional, mereka sangat berhati-hati dalam memutuskan untuk membeli suatu produk atas merek yang ada. Mereka lebih memilih barang yang dibelinya adalah barang yang biasa mereka beli. Dengan kata lain, mereka tidak terpengaruh dengan strategi promosi atau strategi produk yang dilakukan pelaku bisnis atau supermarket atau ritel modern tersebut.

Namun, tidak sedikit pula konsumen yang tergoda dan mengalihkan untuk membeli barang merek atau brand dari supermarket atau ritel modern tempat mereka akan membeli barang tersebut.

Bagaimana Sebaiknya?

Dalam menyikapi fenomena ini, menurut saya, konsumen harus mengedepankan unsur rasionalitas dalam berbelanja. Jangan tergoda dengan merek atau brand supermarket atau ritel modern tersebut, walaupun harga barang tersebut lebih murah.

Pelaku bisnis jangan hanya menempel merek atau brand mereka saja, tetapi harus benar-benar produk sendiri. Jika akan dilakukan kerja sama, harus jelas dan di pihak produsen yang merasa produknya “di sabotase”, harus ada klarifikasi dan tindakan tertentu.

Kemudian harus ada pengaturan dari pihak yang berwenang, agar antar pelaku bisnis jangan sampai ada yang dirugikan dan konsumen jangan sampai dikorbankan. Selamat Berjuang!!!!!!

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *