"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Tragedi Penembakan di Puncak, 8 Warga Tewas dan Anak 5 Tahun Jadi Korban

Insiden Berdarah di Distrik Kemburu, Papua Tengah

Sebuah peristiwa tragis kembali terjadi di wilayah Papua Tengah. Dalam operasi militer yang dilakukan di Distrik Kemburu, Kabupaten Puncak, sebanyak sembilan warga sipil, termasuk seorang anak berusia lima tahun, dilaporkan tewas. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan memicu tuntutan transparansi dari berbagai pihak.

Laporan yang diperoleh menyebutkan bahwa insiden tersebut terjadi pada Senin, 14 April 2026, sekitar pukul 05.00 WIT. Operasi militer yang melibatkan helikopter dan pasukan darat diduga menyasar kawasan permukiman warga sipil yang sebelumnya disepakati sebagai zona aman bagi para pengungsi. Korban tewas terdiri dari warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata.

Di antara korban, terdapat seorang anak berusia lima tahun yang mengalami luka tembak di bagian dada. Selain itu, warga yang selamat disebut mengalami trauma psikologis berat akibat serangan tersebut.

Wilayah Distrik Kemburu sebelumnya telah disepakati oleh pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan aparat keamanan sebagai lokasi pengungsian. Namun, operasi militer justru terjadi di wilayah tersebut, meskipun pertempuran utama antara kedua pihak disebut berpusat di Distrik Pogoma yang berjarak cukup jauh dari lokasi kejadian.

Sehari sebelum insiden di Kemburu, yaitu pada 13 April 2026, operasi militer juga dilaporkan berlangsung di Distrik Pogoma dengan penggunaan helikopter dan pengeboman yang menyasar markas TPNPB di Kampung Guamo. Warga dari wilayah tersebut kemudian mengungsi ke Distrik Kemburu untuk mencari perlindungan. Namun, situasi berubah ketika operasi militer justru terjadi di wilayah pengungsian tersebut.

Sumber di lapangan menyebut tindakan aparat dilakukan secara “membabi buta”, tanpa membedakan warga sipil dan pihak yang terlibat konflik. Hingga kini, operasi militer dilaporkan masih berlangsung.

Daftar korban meninggal dunia yang berhasil diidentifikasi antara lain:

  • Wundili Kogoya (36)
  • Kikungge Walia (55)
  • Pelen Kogoya (65)
  • Tigiagan Walia (76)
  • Ekimira Kogoya (47)
  • Daremet Telenggen (55)
  • Inikiwewo Walia (52)
  • Amer Walia (77)
  • Para Walia (5), seorang anak

Peristiwa ini menambah panjang daftar kekerasan terhadap warga sipil di wilayah konflik Papua. Jika benar Distrik Kemburu telah disepakati sebagai zona aman, maka operasi militer di wilayah tersebut patut dipertanyakan secara serius. Negara tidak boleh abai terhadap prinsip perlindungan warga sipil dalam situasi konflik.

Penggunaan kekuatan bersenjata tanpa verifikasi target jelas berpotensi melanggar hukum humaniter dan hak asasi manusia. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak TNI maupun pemerintah terkait insiden tersebut.

Minimnya transparansi justru memperkuat kecurigaan publik dan memperdalam luka kepercayaan masyarakat. Masyarakat mendesak pemerintah daerah, aparat keamanan, serta lembaga seperti DPRK dan MRP untuk segera turun tangan melakukan investigasi independen.

Penarikan pasukan dari wilayah sipil dan penegakan hukum terhadap pelaku pelanggaran HAM menjadi tuntutan terus menguat. Tanpa langkah tegas dan transparan, tragedi serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan warga sipil kembali menjadi korban.


Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *