Peran Presiden Prabowo dalam Diplomasi Konflik Timur Tengah
Langkah diplomatik yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menjadi perhatian utama. Dianggap sangat berhati-hati dibandingkan ketegasannya dalam isu Palestina, pendekatan ini dinilai sebagai kalkulasi terkait dampak politik domestik.
Anton Aliabbas, kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, menjelaskan bahwa perbedaan sikap ini bukan tanpa alasan. Ia menilai, Presiden Prabowo menggunakan pendekatan bottom-up dengan mengundang tokoh-tokoh elit terlebih dahulu sebelum mengambil posisi resmi pemerintah.
“Pak Presiden menunjukkan sikap yang sangat hati-hati dalam merespons ini. Beliau sangat paham berhitung, karena politik luar negeri adalah kelanjutan politik domestik,” ujar Anton saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews.
Menurut Anton, ada risiko besar jika Prabowo bersikap terlalu frontal dalam isu Iran, terutama yang berkaitan dengan sentimen yang mudah digoreng di media sosial. Hal ini dianggap krusial bagi citra politik Prabowo ke depan, terutama jika ia masih memiliki agenda politik untuk tahun 2029.
“Ada potensi dampak negatif yang bisa dipelintir atau di-spin oleh pihak yang tidak suka melalui media sosial. Pak Prabowo tentu berhitung soal ini,” jelas Anton.
Isu Iran berbeda dengan isu Palestina yang memiliki dukungan bulat secara nasional. Isu Iran lebih kompleks karena bersinggungan dengan kepentingan banyak aliansi global. Meskipun menteri-menteri terkait sudah bersuara, Anton tetap memandang kehadiran narasi langsung dari Presiden sangat penting untuk menjaga wibawa negara.
Anton membandingkan dengan pemimpin negara lain yang kerap muncul memberikan state address untuk menjelaskan posisi negara dan dampak konflik bagi rakyatnya.
“Wibawa kita di depan Israel dan dunia internasional dipertaruhkan. Kita butuh konsolidasi suara antara Jakarta dan New York agar pesan kita sampai dengan keras,” jelas Anton.
Respons terhadap Serangan terhadap Pasukan UNIFIL
Terkait dengan serangan terhadap pasukan TNI yang bertugas sebagai pasukan pengamanan PBB UNIFIL, Anton menjelaskan bahwa tiga anggota TNI meninggal dan sekitar delapan orang terluka. Hal ini menjadi dampak langsung bagi pasukan yang menjaga perdamaian di sana.
“Ya pertama tentu ketika ada tiga prajurit TNI yang gugur itu adalah duka cita yang mendalam kehilangan kita yang mendalam itu satu. Kedua harus dipahami bahwa serangan yang dilakukan oleh Israel itu bukanlah kali pertama. Sebelumnya juga Israel pernah melakukan serangan walaupun di tempat yang berbeda tapi di kawasan yang sama di Lebanon Selatan UNIFIL markas UNIFIL yang di mana ada orang walaupun waktu itu tentara Indonesia nggak meninggal dunia hanya luka-luka.”
Ketiga, Anton menjelaskan bahwa respons yang dilakukan adalah dengan adanya kecaman dan permintaan investigasi. Itu dilakukan oleh Dubes Umar Hadi di PBB. Namun, apakah itu cukup?
“Apakah itu cukup ketika misalnya ada ketua MPR mengusulkan untuk menarik diri. Satu bagi saya ketika bicara UNIFIL, UNIFIL ini sudah sebentar lagi habis sebenarnya mandatnya. Ya kan ini sekarang ini sudah sedang perpanjangan gitu ya perpanjangan gitu jadi akhir tahun ini selesai semestinya gitu dan penarikan selesainya adalah tanggal di tahun depan gitu penarikan mundurnya gitu jadi bagi saya ya sudah mau habis.”
Namun, Anton menyarankan opsi strategis lain. Salah satunya adalah mengajak Dewan Keamanan PBB untuk meninjau ulang misi UNIFIL. “Apakah ini masih relevan atau tidak relevan kenapa karena di situ itu sudah tidak ada lagi perdamaian di situ sudah adanya perang sementara ini kan untuk misinya misi perdamaian kan itu sebenarnya batal demi syariat tapi lagi-lagi itu kan berdasarkan resolusi PBB karena itulah kemudian di secara strategis Indonesia apa mengajak negara-negara anggota Dewan Keamanan untuk berpikir ulang ini penting untuk kita tinjau ulang apa nggak misi UNIFIL.”
Perlu Ada Statement Resmi dari Pemerintah
Anton menilai bahwa statement resmi dari pemerintah sangat penting. “Yang kedua saya lagi-lagi berharap pemerintah kita yang ada di Jakarta itu mestinya memang meresonansi apa yang dilakukan oleh diplomat-diplomat di PBB. Jadi antara Jakarta dan New York itu semestinya sama-sama membuat statement yang sama.”
Dalam wawancara tersebut, Anton juga menyoroti pentingnya sikap yang jelas terhadap Israel. “Ini untuk apa? Ini untuk menunjukkan bahwa saya nggak terima ya dengan Anda. Bagi saya serangan yang dilakukan oleh Israel ke UNIFIL yang di mana ada orang Indonesia itu adalah dengan intensi.”
Ia menegaskan bahwa statement langsung dari pemerintah sangat dibutuhkan. “Yes bagi saya penting untuk kayak gitu?” Tanya Anton.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











