"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Dino Patti Djalal Dorong Prabowo Berkibar di ASEAN



Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, menyoroti pentingnya kembali aktifnya Indonesia dalam mengurusi kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Ia menyampaikan pandangan ini melalui Instagram yang sudah diverifikasi dengan judul 3 Reality Check untuk Diplomasi Presiden Prabowo, pada Jumat 10 April 2026.

Menurut Dino, ada persepsi kuat bahwa Presiden Prabowo lebih tertarik berada di panggung global ketimbang fokus pada ASEAN. Hal ini terlihat dari kunjungan pertama Prabowo setelah dilantik menjadi Presiden. “Berbeda dari tradisi diplomatik Indonesia, kunjungan pertama beliau setelah dilantik bukanlah ke negara-negara ASEAN, tapi ke Tiongkok, Amerika, Inggris, Peru, Brazil, Emirates, Mesir, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dalam 18 bulan terakhir, dari total 49 kunjungan luar negeri Prabowo, hanya empat yang menyasar negara-negara ASEAN, yaitu Malaysia, Thailand, Brunei, dan Singapura. Prabowo juga pernah berjanji untuk mengunjungi Timor Leste, yang memiliki nilai politik, historis, dan emosional bagi Indonesia. Namun, hingga saat ini, kunjungan tersebut belum terlaksana. “Prabowo jauh lebih sering mengunjungi Timur Tengah dan Eropa ketimbang ASEAN,” kata Dino.

Respon Indonesia dinilai tidak ada terhadap konflik antara Thailand dan Kamboja yang meletup. Hal ini menimbulkan banyak tanda tanya di kalangan negara-negara ASEAN. Selain itu, pemerintah juga dinilai kurang peduli terhadap situasi Myanmar, serta hilangnya penyebutan ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP) yang merupakan doktrin geopolitik ASEAN yang diprakarsai Indonesia. Doktrin ini sempat muncul dalam pidato dan strategi internasional Prabowo.

“Persepsi bahwa Indonesia ‘cuek bebek’ terhadap ASEAN bisa merugikan reputasi dan kredibilitas Indonesia di mata dunia, terutama mengingat keterbatasan Indonesia dalam dunia internasional,” ujar Dino.

Ia menilai bahwa dalam perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Indonesia tidak bisa berbuat banyak. Indonesia mempunyai banyak kawan, namun secara realita, Indonesia adalah pemain non-mayor di geopolitik Timur Tengah, mirip seperti Arab Saudi atau Qatar yang juga bukan pemain utama di Asia Tenggara. “Karena itulah Indonesia harus melakukan rekalibrasi dengan memprioritaskan teater Asia Tenggara,” katanya.

Dino Patti Djalal menegaskan bahwa Indonesia tak bisa mengendalikan Great Powers di Timur Tengah, Eropa, Afrika, atau Samudra Hindia. Sebaliknya, ia mengatakan Indonesia justru bisa membatasi pengaruh mereka di Asia Tenggara jika ASEAN kompak. “Dalam suasana dunia yang kacau balau, dimana hampir semua negara di Asia Tenggara terkena imbasnya, ASEAN harus merapatkan barisan,” lanjutnya.

Ia menyarankan agar Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Cebu Filipina pada Mei mendatang menjadi momen krusial untuk kembali membuktikan peran Indonesia. “KTT ASEAN di Cebu menjadi momen penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia is back in ASEAN,” kata Dino.

Menurut mantan juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, Indonesia harus ikut membahas bagaimana ASEAN bisa selamanya menjadi mandor di Asia Tenggara. Indonesia harus bahas bagaimana mencegah intervensi luar dan kekerasan seperti yang terjadi di Venezuela atau Iran oleh Amerika Serikat atau Israel. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan merampungkan Code of Conduct Laut Cina Selatan. Hal ini dinilainya bisa menjadi menunjukkan kepada dunia bahwa kondisi di Asia Tenggara ini semakin stabil.

Indonesia, kata Dino, juga harus ikut meredam konflik Thailand-Kamboja, membahas Myanmar hingga memperkuat sekretariat ASEAN. Dengan begitu Indonesia bisa mendekatkan ASEAN ke rakyatnya hingga menjadikan ASEAN benteng ketahanan Asia Tenggara.

Dino juga mengingatkan bahwa sekretaris jenderal ASEAN berikutnya akan berasal dari Indonesia. Artinya, penting bagi Indonesia mempersiapkan calon yang kompeten. “Bukan abal-abal, dan calon sekjen dari Indonesia itu jangan diposisikan sebagai anak buah presiden Indonesia, tapi justru sebagai pengabdi setia ASEAN secara keseluruhan,” kata Dino.

Dino mengatakan Indonesia tidak perlu menjadi macan ASEAN, tapi Indonesia lebih baik menjadi mesin ASEAN untuk membentengi ketahanan kawasan di tengah dunia yang kacau.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *