"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Kronologi Pak Tarno Diteror Leasing Saat Sakit, Mobil Diduga Digadaikan Mantan Sopir hingga Rugi Puluhan Juta

Perjuangan Pak Tarno dalam Kondisi Sakit dan Kehilangan Aset

Pak Tarno, pesulap legendaris Indonesia yang dikenal dengan jargon “Tolong dibantu ya”, kini menghadapi tantangan berat. Di tengah perjuangannya melawan penyakit, ia harus kehilangan aset pentingnya, yaitu kendaraan pribadi. Kejadian ini terjadi akibat dugaan penggelapan yang dilakukan oleh mantan karyawan.

Awal Masalah yang Mengancam Kesehatan

Peristiwa ini terungkap melalui penuturan Pak Tarno bersama istri keduanya, Lisa Karlina, dan manajernya, Laura. Masalah bermula saat Pak Tarno sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam kondisi yang lemah, seorang mantan sopir berinisial A diduga menggadaikan mobil milik Pak Tarno tanpa izin.

Teror dari Pihak Leasing

Lisa Karlina menceritakan bahwa mereka mulai merasakan keanehan saat telepon genggam Pak Tarno terus-menerus dihubungi oleh pihak penagih (debt collector).

“Tiba-tiba ada tagihan nelpon, hampir beberapa kali, ada 10 kali, kadang 5 kali. Tahunya ada tagihan dari leasing,” ungkap Lisa saat ditemui di kontrakan Pak Tarno di kawasan Warakas, Jakarta Utara, Jumat (10/4/2026).

Pak Tarno mengaku menerima teror telepon yang tidak kenal waktu. Padahal, kondisi kesehatannya sedang menurun.

“Dapat telepon pagi, siang, sore. Padahal saya lagi di rumah sakit,” ujar Pak Tarno.

Kondisi ini sempat membuat pesulap senior itu stres dan kebingungan. Ia merasa tidak pernah meminjam uang maupun menjaminkan mobilnya. Namun tiba-tiba Pak Tarno diminta pihak leasing membayar tagihan bernilai fantastis yakni mencapai Rp35 juta.

“Lah saya 35 juta dapet dari mana, orang sakit begini,” ujar Pak Tarno dengan terbata-bata.

Penjualan Mobil untuk Melunasi Utang

Karena merasa tertekan dengan teror telepon yang masuk terus-menerus, Pak Tarno dan keluarga akhirnya mengambil keputusan pahit. Agar beban pikiran tidak memperparah kondisi kesehatan Pak Tarno, mereka memutuskan untuk menjual mobil tersebut.

Mobil tersebut terjual dengan harga sekitar Rp54 juta. Uang hasil penjualan itu seluruhnya digunakan untuk melunasi utang di leasing agar pihak penagih berhenti menelepon.

Namun, masalah tidak berhenti di situ. Pak Tarno mengaku tidak mendapatkan sisa uang dari penjualan tersebut, dan kini ia sama sekali tidak memiliki kendaraan pribadi.

“Mobil itu sudah dijual, tapi Bapak (Pak Tarno) mungkin tidak tahu dan uangnya tidak ada ke beliau. Mungkin untuk menutupi utang-utang di leasing tersebut supaya Bapak tidak kepikiran dan tidak tambah sakit,” jelas sang Manajer, Laura.

Kini Andalkan Ojek Online untuk Bekerja

Akibat kejadian ini, Pak Tarno yang dulu selalu didampingi sopir pribadi, kini harus rela hidup prihatin. Untuk keperluan syuting atau bepergian, ia terpaksa menggunakan jasa ojek online atau mengandalkan jemputan dari pihak stasiun televisi.

“Sekarang Pak Tarno nggak punya mobil. Ke mana-mana pakai ojek online atau kalau ada syuting dijemput sama orang TV-nya,” tambah Laura.

Tak hanya itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Pak Tarno kini hanya berjualan maninan di kawasan Kota Tua. Dalam sehari Pak Tarno dan istri menerima penghasilan yang tak menentu.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *