Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menyampaikan pernyataan penting terkait kondisi pasukan TNI yang bertugas sebagai bagian dari Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libanon (UNIFIL). Ia menilai bahwa para prajurit TNI kini berada di zona perang, bukan di wilayah yang seharusnya menjadi tugas mereka.
Menurut SBY, pasukan perdamaian PBB seharusnya ditempatkan di blue line atau zona biru, yaitu wilayah perbatasan antara Israel dan Libanon. Namun, saat ini, posisi pasukan TNI justru berada di daerah pertempuran atau war zone.
“Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar blue line kini sudah berada di war zone, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 kilometer dari blue line,” ujar SBY melalui akun X miliknya, @SBYudhoyono, pada Minggu, 5 April 2026.
Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya bagi para prajurit TNI. SBY menjelaskan bahwa tugas utama pasukan perdamaian PBB adalah menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan menciptakan perdamaian (peacemaking). Pasukan peacekeeping tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak diberi mandat untuk melakukan tugas-tugas pertempuran.
Ia menegaskan bahwa hal ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Berdasarkan peraturan tersebut, peacekeeper bertugas menjaga perdamaian di zona biru, bukan menjadi peacemaker di zona perang.
“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York, segera mengambil keputusan dan langkah tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” ujar SBY.
Selain itu, dalam unggahan di akun media sosial X tersebut, SBY juga menyampaikan duka cita atas gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian di Libanon. Mereka adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Zulmi Aditya Iskandar, dan Muhammad Nur Ichwan.
SBY bercerita bahwa hatinya ikut bergetar saat menyaksikan tangis keluarga prajurit. Ia juga turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto memberikan penghormatan terakhir kepada ketiga jenazah, yang digelar di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Sabtu, 4 April 2026.
Ia menyatakan bisa merasakan duka mendalam yang dirasakan keluarga yang ditinggalkan. “Saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka,” kata SBY. Karena itu, ia mendukung langkah pemerintah menuntut PBB melakukan investigasi terkait insiden-insiden yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.
SBY memahami bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang dinamis seperti ini tidak mudah. Namun, ia tetap percaya bahwa investigasi dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative).
Beberapa poin penting yang disampaikan oleh SBY antara lain:
Perlu adanya evaluasi terhadap penugasan UNIFIL di wilayah konflik.
Pentingnya perlindungan bagi pasukan perdamaian yang berada di zona perang.
Keberlanjutan tugas peacekeeping harus sesuai dengan mandat yang telah ditetapkan.
Diperlukan transparansi dan akuntabilitas dari PBB terkait insiden-insiden yang terjadi.
Dede Leni Mardianti berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











