Program Desa Berdaya: Membangun Kemandirian Ekonomi Keluarga Miskin Ekstrem
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mempersiapkan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin ekstrem. Salah satu inisiatif utamanya adalah program Desa Berdaya yang mengadopsi pendekatan transformatif. Dalam dua tahun ke depan, pihak terkait menargetkan peningkatan pendapatan sebesar 1,5 kali Upah Minimum Provinsi (UMP), peningkatan aset sebesar 50 persen, serta peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan.
Pelatihan bagi Pendamping Desa
Untuk mencapai target tersebut, Pemprov NTB akan menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi para pendamping desa. Tujuan dari pelatihan ini adalah memastikan bahwa intervensi yang diberikan kepada 6.711 KK miskin ekstrem tepat sasaran dan berkelanjutan. Ir. Lalu Hamdi, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMPD Dukcapil) NTB, menegaskan bahwa peran pendamping desa sangat penting dalam menentukan masa depan keluarga-keluarga yang menjadi sasaran.
Melalui Diklat ini, para pendamping akan dilatih untuk mengidentifikasi mata pencaharian yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga. “Pendamping desa harus mampu memfasilitasi keluarga miskin ekstrem dalam menyusun proposal sederhana. Kita akan tentukan apa kegiatannya dan berapa biayanya melalui aplikasi yang sedang disiapkan Kominfo,” ujar Lalu Hamdi saat ditemui di ruang kerjanya.
Target Graduasi: Keluar dari Kemiskinan
Program ini mengusung pendekatan “graduasi”, artinya keluarga sasaran tidak hanya dibantu sementara, tetapi harus “tamat” atau keluar sepenuhnya dari status kemiskinan ekstrem dalam waktu dua tahun. Untuk mencapai target ini, Lalu Hamdi menetapkan indikator keberhasilan yang cukup tinggi. Selain pendapatan yang harus mencapai 1,5 kali UMP, aset keluarga juga harus meningkat 50 persen, mampu makan bergizi tiga kali sehari, dan memiliki tabungan yang terus bertumbuh.
Fokus utama dari bantuan sosial produktif sebesar Rp7 juta per KK adalah menciptakan mata pencaharian yang memiliki kepastian pasar. “Pasarnya harus ada setiap hari, bukan musiman, dan usahanya harus berkelanjutan,” tambahnya.
Intervensi Layanan Dasar dan Hunian Layak
Selain penguatan ekonomi, Pemprov NTB juga melakukan intervensi pada layanan dasar. Pendamping desa berkewajiban memantau akses keluarga sasaran terhadap bantuan sosial (Bansos), Kartu Pintar untuk anak sekolah, hingga kepesertaan BPJS Kesehatan. Dari sisi infrastruktur, hasil verifikasi dan validasi lapangan mengungkap fakta memprihatinkan. Terdapat 49 rumah yang masuk kategori prioritas karena memenuhi empat unsur ketidaklayakan: luas lantai kurang dari 9 meter persegi per orang, belum memiliki MCK, dinding non-permanen (berbahan daun atau bedek kualitas rendah), serta atap yang tidak layak.
“Kita sudah identifikasi. Rumah-rumah ini akan difasilitasi untuk diperbaiki, termasuk akses air minum sehat dan penerangan listrik,” katanya.
Terobosan Data Mandiri
Dalam prosesnya, Lalu Hamdi mengakui adanya kendala teknis terkait ketersediaan data nasional. Namun, NTB melakukan terobosan dengan melakukan verifikasi dan validasi (verivali) mandiri di 40 desa sasaran sebelum data resmi pusat terbit. “Kami melakukan langkah mendahului data nasional demi percepatan. Dari data awal 7.250 KK, setelah diverifikasi secara ketat, ditemukan 6.711 KK yang benar-benar layak diintervensi dan sisanya 539 KK tidak ditemukan,” ungkapnya.
Menariknya, dalam proses pemilahan data, ditemukan 373 KK lansia sebatangkara yang tidak produktif. Untuk kategori ini, pemerintah akan menerapkan skema perlindungan sosial yang berbeda, bukan melalui bantuan modal usaha.
Transformatif ini dijadwalkan masuk dalam usulan APBD Perubahan pada Juni mendatang. Begitu ditetapkan, dana bantuan akan langsung dicairkan untuk menggerakkan mesin ekonomi di tingkat akar rumput.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











