Menteri Dalam Negeri Mendorong Kepala Daerah Lebih Kreatif dalam Mengelola Anggaran
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian memberikan respons terhadap keluhan sejumlah kepala daerah mengenai pembatasan belanja pegawai dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Ia menyarankan agar para kepala daerah lebih kreatif dalam mencari pendapatan baru, bukan hanya memecat Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Beberapa kepala daerah mengeluh karena tidak bisa membiayai operasional pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) jika anggaran belanja pegawai dibatasi maksimal 30 persen dari APBD. Aturan ini mulai berlaku pada 2027 dan tertuang dalam UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD).
Kepala Daerah Diminta Kreatif dalam Mencari Pendapatan
Tito menjelaskan bahwa ada beberapa cara agar penerapan UU HKPD tidak menyebabkan pemecatan PPPK. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kreativitas kepala daerah dalam mencari pemasukan untuk APBD.
“Daerah juga kreatif mencari pendapatan baru. Tidak hanya dengan mengandalkan Transfer ke Daerah (TKD) dari APBN. Itulah gunanya kepala daerah. Kalau cuma kerja-kerja rutin saja, menghabiskan APBD, semua orang bisa,” ujar Tito saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2026).
Dengan catatan kebijakan tersebut tidak memberatkan masyarakat. Misalnya dengan meningkatkan efektivitas kerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), mendorong dunia usaha, hingga pembenahan sistem pajak.
“Kemudian dia (kepala daerah) bisa mendorong UMKM atau mendorong usaha di wilayahnya, sehingga bisa hidup dan kemudian bisa dapat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari situ tambahan. Kemudian berikutnya lagi, misalnya pajak restoran segala macam yang tadinya tidak nyampe semua ke Dispenda, buat sistem, sehingga akhirnya masuk ke Dispenda,” tutur Tito.
Efisiensi Pengeluaran APBD yang Dirasa Tak Perlu
Cara lain yang bisa dilakukan kepala daerah adalah melakukan efisiensi terhadap pengeluaran dari APBD, seperti mengurangi rapat yang tak perlu, perjalanan dinas, dan akomodasi logistik.
“Daerah itu harus melakukan efisiensi belanja-belanja yang lain. Saya khawatir mereka belum melakukan itu. Efisiensi misalnya rapat-rapat, perjalanan dinas, makan-minum. Ada daerah yang bisa melakukan efisiensi dan efisiensi itu bisa menutup untuk bayar PPPK. Ada yang seperti itu,” imbuh dia.

Masih Ada Waktu Berbenah Hingga Opsi Terakhir
Tito menegaskan bahwa aturan maksimal belanja pegawai 30 persen dalam APBD tidak langsung berlaku. Faktanya, UU HKPD ini dibuat pada tahun 2022 dan akan berlaku pada 2027, memberikan waktu selama lima tahun bagi kepala daerah untuk menyesuaikan kebijakan.
Selain itu, UU HKPD ini memungkinkan adanya penyesuaian bagi daerah tertentu yang tidak mampu menjalankan maksimal belanja pegawai sebesar 30 persen. Bisa saja ada daerah yang batas maksimalnya mencapai 40 persen. Namun Tito menegaskan, opsi ini jadi yang paling terakhir, bukan prioritas, dan akan diberlakukan jika memang terdesak.
“Besaran mengenai proporsi belanja pegawai itu dapat disesuaikan oleh menteri yang menyelenggarakan Menteri Keuangan, setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri PANRB. Artinya kami akan melihat dulu exercise dari semua daerah-daerah ini nanti. Mana daerah-daerah yang betul-betul sudah nyerah. Dia udah melakukan efisiensi, dia sudah nyari, memutar otak nyari pendapatan baru yang gak beratkan masyarakat, masih juga gak bisa nutup PPPK,” ungkap Tito.
“Mungkin kita cari solusi yang lain, tapi jangan mengharapkan solusi yang terakhir ini. Penyesuaian besaran 30 persen itu diubah, jangan dulu arahnya ke sana sebelum berusaha. Kita juga pengen lihat kepala daerah-daerah yang hebat-hebat siapa. Ada kepala daerah yang mungkin langsung nyerah, gitu aja. Biar kan rakyatnya kenapa pilih dia, nggak kreatif,” imbuh dia.

Kebijakan Pengurangan PPPK di Daerah
Sebelumnya, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (Wagub NTT) Johni Asadoma menegaskan pihaknya berkomitmen mencari solusi terbaik terkait isu pengurangan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun ia mengingatkan agar PPPK tetap rajin dan jangan malas agar dapat mempertahankan pekerjaan mereka.
Pemprov NTT sebelumnya mengungkap rencana memangkas 9 ribu PPPK akibat kebijakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD). Kebijakan ini memangkas 30 persen dari belanja pegawai dan akan dilaksanakan pada 2027.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai mengkaji kemungkinan pengurangan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sebagai bagian dari penyesuaian fiskal daerah. Hal ini berkaitan dengan target pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD pada 2027.
Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, mengatakan opsi tersebut muncul dalam pembahasan di tingkat pusat. Pembahasan itu juga melibatkan Komisi II DPR RI.
“Tahun depan ada kemungkinan (merumahkan PPPK), karena sudah dirapatkan di Komisi II DPR RI,” kata Jufri, Jumat (27/3/2026).
Saat ini, jumlah PPPK di lingkup Pemprov Sulsel mencapai sekitar 1.500 orang. Menurut Jufri, keberadaan PPPK memberi dampak signifikan terhadap struktur belanja pegawai daerah.
“Kita kan sekitar 1.500-an sekarang PPPK. Pengaruhnya signifikan, pasti mengurangi belanja pegawai. Karena kan ditetapkan tahun 2027 itu paling tidak belanja pegawai sudah harus di bawah 30 persen,” katanya.
Selain menekan belanja pegawai, pemerintah daerah juga diarahkan meningkatkan porsi belanja pembangunan. Fokus peningkatan tersebut terutama pada sektor infrastruktur.
“Dan kita harus memicu peningkatan belanja infrastruktur mendekati angka keidealan 80 persen,” katanya.
Jufri mengakui kebijakan pengurangan PPPK berpotensi menimbulkan dampak sosial, termasuk meningkatnya angka pengangguran. Namun, pemerintah menilai setiap kebijakan memiliki konsekuensi yang harus dipertimbangkan secara matang.
“Iya, pasti. Setiap kebijakan itu pasti ada plus minusnya. Jadi kebijakan itu adalah pilihan atas alternatif-alternatif,” katanya.
Menurutnya, dalam kondisi fiskal yang terbatas dan banyaknya kewajiban anggaran yang harus dipenuhi, pemerintah perlu menentukan pilihan kebijakan secara selektif. Opsi yang diambil pun diarahkan pada langkah dengan manfaat terbesar dan risiko paling kecil.
“Kalau dipilih untuk merumahkan PPPK, berarti itu kebijakan yang paling dianggap tepat untuk kondisi saat ini, dalam kondisi fiskal yang sangat terbatas, sementara banyak mandatori yang mesti dipenuhi,” jelasnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











