Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, mengklaim bahwa negosiasi dengan Iran sedang berjalan lancar karena delapan kapal tanker minyak mentah telah berhasil keluar dari Selat Hormuz. Namun, pernyataan ini ditolak oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari yang sama, yaitu Kamis (26/3).
Trump menyampaikan bahwa jumlah kapal tanker yang keluar dari Selat Hormuz akan meningkat menjadi 10 unit pada hari ini. Menurutnya, keberhasilan ini adalah hadiah dari pemerintah Iran sebagai bagian dari proses negosiasi untuk menyelesaikan konflik di kawasan Asia Barat.
“Pemerintah Iran mengatakan bahwa mereka ingin menunjukkan bahwa kami nyata, solid, dan siap melakukan negosiasi. Oleh karena itu, mereka akan mengirimkan delapan kapal minyak mentah besar. Ini dinyatakan dua hari yang lalu,” ujar Trump dalam rapat kabinetnya yang dikutip pada Jumat (27/3).
Namun, Araghchi menyatakan bahwa pihaknya belum memulai negosiasi penyelesaian perang dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan media milik pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting.
Araghchi menekankan bahwa Selat Hormuz tetap dapat dilalui oleh semua negara, kecuali Amerika Serikat dan sekutunya. Ia juga mengonfirmasi bahwa beberapa hari terakhir telah ada kapal minyak mentah yang keluar dari Selat Hormuz, berasal dari Cina, Rusia, Pakistan, Irak, India, dan Bangladesh.
“Bagi beberapa negara ini yang kami anggap sebagai mitra, pasukan kami telah memberikan jalan yang aman. Ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang,” kata Araghchi.
Menurut Araghchi, Selat Hormuz merupakan zona perang. Karena itu, hanya musuh Iran—yaitu Israel, Amerika Serikat, dan sekutunya—yang dilarang melalui jalur tersebut.
Maka dari itu, Araghchi mengimbau pemerintah negara lain untuk menjauhkan diri dari Amerika Serikat jika ingin kapal minyak mentah mereka bisa melintasi Selat Hormuz.
“Kami memperingatkan semua negara, akan ada eskalasi tensi dan penciptaan masalah yang kompleks jika ada pasukan bersenjata masuk ke Selat Hormuz,” ujarnya.
Malaysia dan Thailand Akui Lobi Iran, Bukan Amerika
Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyatakan bahwa kapal tanker negaranya berhasil mendapatkan akses melintasi Selat Hormuz setelah mendapat izin dari Iran.
“Kini kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta para pekerjanya agar mereka dapat meneruskan perjalanan pulang,” ujar Anwar dalam pidato khusus yang disiarkan secara langsung di stasiun televisi nasional, Kamis (26/03), sebagaimana dilansir kantor berita Bernama.
Anwar menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz.
Selain Malaysia, kapal tanker minyak Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman. Izin ini diberikan setelah melakukan koordinasi diplomatik dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, mengatakan kapal tanker milik Bangchak Corporation itu melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/03) menyusul pembicaraan antara dirinya dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.
Situasi di Selat Hormuz
Sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, sekitar 1.900 kapal komersial tertahan di kawasan Selat Hormuz, terutama di Teluk Persia.
Sejak awal serangan, Teheran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang, sehingga lalu lintas maritim di selat itu terhenti.
Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.
Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan.
Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, Rabu (25/3) mengatakan bahwa pihak Iran telah mengubah aturan di selat tersebut dan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang, seraya menegaskan bahwa entitas yang terkait dengan AS dan Israel tidak memiliki hak untuk melintas.
Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz. Di antara kapal yang tertahan terdapat sekitar 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, dan 211 kapal tanker minyak mentah.
Sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut, kata perusahaan analisis Vortexa.
Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, 37 kapal angkut berat, serta 34 kapal tanker LPG atau kimia di kawasan tersebut, sementara sisanya terdiri dari berbagai jenis kapal lain seperti kapal Ro-Ro, kapal pengangkut bahan bakar, dan kapal angkut berat.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











