Ringkasan Berita
Kebakaran hebat menghanguskan dua unit rumah milik tiga kepala keluarga (Asma Musa, Irwan Husna, dan Hendriyanto Hunowu) pada Senin sore (23/3/2026). Pemilik rumah, Asma Musa, sempat mengalami syok berat hingga nyaris menerobos kobaran api sebelum akhirnya ditenangkan oleh warga. Tim Damkar mengerahkan tiga unit armada, namun sempat terhambat oleh kendaraan warga yang parkir di bahu jalan menuju lokasi. Api akhirnya berhasil dikendalikan setelah petugas menerapkan strategi pendinginan.
Kebakaran Hebat Melanda Rumah Warga
Kebakaran hebat melanda rumah warga Kelurahan Huangobotu, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Senin sore (23/3/2026). Peristiwa ini tidak hanya menyisakan kerugian materi, tetapi juga momen-momen dramatis yang terekam di lokasi kejadian. Berdasarkan data, terdapat lima fakta utama yang merangkum kronologi serta suasana mencekam saat api mengamuk.
5 Fakta Kebakaran di Huangobotu Gorontalo
Korban Nyaris Terobos Api karena Syok
Fakta pertama yang paling menggetarkan hati adalah aksi nekat salah satu korban pemilik rumah, Asma Musa. Saat api masih berkobar hebat melahap bangunan miliknya, Asma tampak kehilangan kendali atas emosinya. Di tengah kepulan asap hitam yang tebal, ia berusaha mendekat bahkan hampir menerobos masuk ke dalam rumahnya yang terbakar. Aksi tersebut diduga dilakukan karena rasa syok yang luar biasa melihat tempat tinggalnya hangus dalam sekejap. Beruntung, warga yang berada di sekitar lokasi bertindak sigap dengan menahan tubuh Asma agar tidak melakukan tindakan berbahaya. Petugas pemadam kebakaran yang sedang berjibaku juga sempat teralihkan perhatiannya karena aksi nekat korban tersebut. Asma akhirnya berhasil ditarik menjauh dari titik panas oleh warga setempat yang terus menenangkannya. Setelah itu, suasana berubah menjadi haru saat Asma menangis histeris meratapi musibah yang menimpanya. Kondisinya yang sangat lemah membuatnya harus dipapah oleh warga untuk mencari tempat perlindungan yang lebih aman. Cucunya pun terlihat terus mendampingi di sampingnya, mencoba memberikan kekuatan di tengah situasi sulit tersebut.
Kepanikan Melanda Penghuni Kos di Sekitar Lokasi

Fakta kedua berkaitan dengan dampak sosial yang ditimbulkan akibat kebakaran di kawasan padat tersebut. Tepat di samping rumah yang terbakar, terdapat bangunan kos yang dihuni oleh banyak orang. Begitu api terlihat membesar, para penghuni kos tersebut langsung berhamburan keluar karena rasa takut yang luar biasa. Ruli Ahmad, penghuni kos, menceritakan bahwa situasi saat itu benar-benar kacau dan tidak terduga. Ia mengaku tidak merasakan tanda-tanda awal seperti bau asap sebelum akhirnya diberitahu oleh orang lain. “Ada yang kasih tahu kalau api sudah besar,” ujar Ruli menggambarkan detik-detik awal kepanikan tersebut. Setelah melihat kobaran api yang sudah sangat dekat dengan bangunan kos, mereka langsung bergerak cepat. Langkah antisipasi segera diambil dengan mengamankan barang-barang penting milik para penghuni. Tas berisi dokumen, alat elektronik, hingga pakaian dipindahkan ke area yang dianggap tidak terjangkau api. Mereka khawatir jika arah angin berubah, api akan dengan mudah merembet ke bangunan kos yang posisinya sangat mepet. Meskipun pada akhirnya api tidak sampai menjalar ke kos, para penghuni tetap dalam kondisi waspada tinggi. “Untungnya tidak sampai ke sini, tapi bagian belakang belum sempat kami periksa,” tambah Ruli. Hingga proses pemadaman selesai, penghuni kos masih terlihat berjaga-jaga di depan bangunan mereka.
Dua Rumah Ludes Terbakar dan Data Keluarga Korban
Fakta ketiga mengenai objek yang terdampak secara langsung oleh amukan si jago merah. Dua unit rumah dilaporkan ludes terbakar dan tidak lagi bisa ditinggali oleh para pemiliknya. Rumah pertama yang diduga menjadi sumber api dihuni oleh dua kepala keluarga (KK). Keluarga tersebut adalah keluarga Asma Musa dan keluarga Irwan Husna. Anggota keluarga Irwan Husna yang terdampak meliputi istrinya, Afani T. Zubedi, serta dua anak mereka, Alpha I. Husna dan Ali I. Husna. Sementara itu, rumah kedua yang juga hangus terbakar adalah milik Hendriyanto Hunowu. Hendriyanto tinggal bersama istrinya, Sandra Gani, serta dua orang anak mereka, Srih Jihan Hunowu dan Jibran Hunowu. Total terdapat tiga kepala keluarga yang harus kehilangan tempat tinggal akibat insiden Senin sore tersebut. Pihak kelurahan dan kepolisian kini tengah mendata kerugian materi yang dialami oleh para korban. Barang-barang di dalam rumah dilaporkan hampir tidak ada yang bisa diselamatkan karena api merambat sangat cepat. Hanya pakaian di badan yang tersisa bagi sebagian besar anggota keluarga korban.
Mobil Damkar Terkendala Parkir Liar di Bahu Jalan
menyoroti kendala teknis yang dihadapi oleh tim penyelamat saat berusaha mencapai titik api. Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Gorontalo mengaku menerima laporan pertama pada pukul 16.12 WITA. Laporan tersebut masuk melalui grup WhatsApp resmi Damkar Kota Gorontalo dan segera direspon. Total ada tiga unit mobil pemadam yang dikerahkan menuju lokasi kejadian di Kelurahan Huangobotu. Dua armada didatangkan dari tingkat Provinsi, sementara satu armada bantuan datang dari Bone Bolango. Namun, setibanya di sekitar lokasi, gerak armada pemadam sempat terhambat oleh kondisi jalan. Ismail, salah satu personel Damkar, menjelaskan bahwa akses jalan masuk tertutup oleh kendaraan warga. Banyak kendaraan yang terparkir di pinggir jalan, sehingga ruang gerak mobil tangki yang berukuran besar menjadi terbatas. “Kendala hanya kendaraan yang berada di sekitar jalan masuk mobil Damkar yang parkir di pinggir jalan,” jelas Ismail. Hal ini menyebabkan proses pemadaman sedikit memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Petugas mengimbau agar ke depannya warga lebih memperhatikan ketertiban parkir demi kelancaran penanganan darurat.
Strategi Pemadaman Melalui Pendinginan Atap

Fakta terakhir adalah mengenai taktis penanganan yang dilakukan oleh tim pemadam kebakaran untuk melokalisir api. Mengingat lokasi kebakaran berada di pemukiman padat, risiko api merembet ke rumah lainnya sangatlah tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, petugas menggunakan teknik pemutusan jalur api melalui bagian atas bangunan. “Kita memutus dengan pendinginan lewat atap rumah,” ungkap Ismail setelah api berhasil dikendalikan. Petugas memanjat dan menyemprotkan air secara intensif pada bagian atap yang belum terbakar namun sudah terpapar panas. Langkah ini terbukti efektif untuk mencegah api melompat ke bangunan di sebelah rumah Hendriyanto Hunowu. Proses pemadaman hingga pendinginan total berlangsung hampir selama satu jam. Setelah api dinyatakan benar-benar padam, petugas kepolisian langsung memasang garis polisi (police line). Pemasangan garis polisi ini dilakukan untuk menjaga status quo di lokasi kejadian selama proses penyelidikan berlangsung. Pihak berwenang masih mencari tahu penyebab pasti dari munculnya percikan api pertama di rumah korban. Masyarakat sekitar pun diimbau untuk tidak melewati batas garis polisi agar tidak mengganggu olah tempat kejadian perkara. Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi kebakaran sudah mulai kondusif meskipun duka masih menyelimuti para korban.











