Peran Korea Utara dalam Dinamika Regional dan Global
Serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Para analis mengatakan bahwa peristiwa ini mungkin memperkuat keyakinan Kim Jong Un bahwa senjata nuklir sangat penting untuk kelangsungan hidup negaranya. Dalam situasi seperti ini, Korea Utara kemungkinan tengah mengalami perubahan pikiran yang kompleks, terutama setelah melihat bagaimana AS dan Israel menangani ancaman dari Iran.
Korea Utara segera mengecam serangan tersebut sebagai “perang agresi yang tidak dapat dibenarkan”. Namun, hubungan antara Iran dan Korea Utara telah lama menjadi aliansi yang kuat, khususnya dalam pengembangan rudal. Sejak 1979, kedua negara menjalin kemitraan dalam bidang militer, dengan Iran menjadi salah satu pasar utama ekspor senjata Korea Utara. Menurut sumber anonim mantan diplomat Korea Utara, hal ini menunjukkan adanya ketergantungan yang besar antara dua negara tersebut.
Namun, menurut para analis, ada dua faktor yang membuat posisi Korea Utara lebih menguntungkan dibandingkan Iran. Pertama, Korea Utara secara de facto telah menjadi negara bersenjata nuklir. Pada 2025, Presiden AS Donald Trump menyebut negara itu sebagai “semacam kekuatan nuklir” yang memiliki “banyak senjata nuklir”. Berdasarkan laporan dari Stockholm International Peace Research Institute pada 2025, Korea Utara diperkirakan memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir dan cukup bahan fisil untuk memproduksi 40 hulu ledak tambahan.
Pada Juli 2024, Korea Selatan memperingatkan bahwa Korea Utara sedang dalam tahap akhir pengembangan senjata nuklir taktis, yang dirancang untuk penggunaan di medan perang. Tahun lalu, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, juga menyatakan bahwa Korea Utara hampir berhasil mengembangkan rudal balistik antarbenua yang dapat menghantam daratan AS dengan senjata nuklir—meskipun masih dipertanyakan kemampuan sistem pemandu rudal dan daya tahan hulu ledak saat masuk kembali ke atmosfer.
Di sisi lain, Iran memiliki program nuklir yang besar dan ambisius, tetapi belum menunjukkan bukti adanya program terstruktur untuk memproduksi senjata nuklir. Setelah perjanjian nuklir penting pada 2015, Iran menyetujui pembatasan lebih lanjut terhadap program pengayaan uraniumnya. Inspeksi IAEA juga diperluas, yang membantu memperlambat program nuklir Iran. Namun, setelah Presiden Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018, Iran mulai membatasi akses IAEA ke fasilitas nuklirnya.
Kekuatan Nuklir dan Hubungan Internasional
Korea Utara melakukan uji nuklir pertamanya pada 2006 dan tiga tahun kemudian mengusir seluruh inspeksi IAEA. Negara itu kemudian melakukan lima uji coba nuklir tambahan, dengan yang terakhir terjadi pada 2017. Pada masa itu, Korea Utara berusaha menjalin keterlibatan dengan AS, yang menghasilkan dua pertemuan bersejarah antara pemimpin kedua negara pada 2018 dan 2019. Kim ingin sanksi internasional dicabut dan menawarkan untuk membongkar fasilitas nuklir Yongbyon. Namun, pembicaraan akhirnya runtuh karena Trump menginginkan lebih dari apa yang ditawarkan.
Korea Utara kini tampak lebih percaya diri, karena perang di Ukraina membuatnya semakin dekat dengan Rusia, yang memberikan kerja sama ekonomi dan militer yang sangat dibutuhkan. Namun, Trump dan Kim tampaknya memiliki hubungan personal yang baik, dengan presiden AS itu masih memuji pemimpin Korea Utara tersebut hingga tahun lalu. Kim memahami adanya “peluang unik ketika berurusan dengan Trump”, tetapi tidak akan “mengorbankan apa pun untuk menghidupkan kembali hubungan itu”.

Strategi Geografis dan Diplomasi
Aspek geografi juga menguntungkan Korea Utara—negara itu berbatasan langsung dengan China, yang memandangnya sebagai benteng penting melawan AS dan sekutunya, Korea Selatan. Dan jika rezim Korea Utara runtuh, China bisa menghadapi gelombang besar pengungsi. Inilah sebabnya, secara historis, hubungan antara dua negara komunis tersebut kerap digambarkan sedekat “bibir dan gigi”. Sejak 1961, China berjanji akan melindungi Korea Utara jika negara itu diserang, melalui perjanjian pertahanan bersama—satu-satunya pakta semacam itu yang pernah ditandatangani Beijing.
Korea Utara juga menjadikan Korea Selatan dan Jepang sebagai “sandera nuklir” karena kedekatan geografisnya. Kedua Korea hanya dipisahkan oleh zona demiliterisasi sepanjang sekitar 250km dan selebar 4km, sementara ibu kota kedua negara hanya berjarak sekitar 200km. Itu berarti Wilayah Metropolitan Seoul—yang mencakup Incheon dan Provinsi Gyeonggi—berada dalam zona serangan langsung Korea Utara. Jepang juga berada dalam zona serangan langsung Korea Utara, dan Korea Utara secara rutin menembakkan rudal ke Laut Jepang selama uji coba.

Masa Depan Korea Utara dan Perspektif Dunia
Perang di Iran kemungkinan menanamkan pada Kim persepsi kuat bahwa Ali Khamenei “tidak berdaya karena ia tidak memiliki senjata nuklir” dan bahwa negosiasi dengan AS tidak menjamin kelangsungan hidup rezim. Ellen Kim dari lembaga kajian Korea-US Economic Institute yang berbasis di Washington DC menyatakan bahwa Korea Utara mungkin telah mengalami banyak kesulitan selama bertahun-tahun dalam mengejar kemampuan penangkal nuklir, tetapi dalam momen seperti ini, Kim Jong Un hampir pasti yakin bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat—menyadari bahwa risiko menyerang negara bersenjata nuklir terlalu besar untuk menjadi opsi yang realistis.












