"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Baru Seminggu Perang, AS Keluarkan Rp191 Triliun

Anggaran Militer AS untuk Perang dengan Iran Mencapai Rp191 Triliun dalam Seminggu

Dalam beberapa hari terakhir, anggaran militer Amerika Serikat (AS) yang dialokasikan untuk konflik dengan Iran dilaporkan mencapai angka fantastis. Dalam waktu seminggu saja, AS telah menghabiskan dana sekitar US$11,3 miliar atau setara dengan Rp191 triliun. Angka ini terungkap dalam pertemuan tertutup antara pejabat tinggi Pentagon dan para anggota dewan di Capitol Hill, Selasa (10/3/2026).

Menurut sumber internal, mayoritas dana tersebut digunakan untuk pembelian amunisi. Namun, angka ini hanya merupakan “puncak gunung es” dari total pengeluaran militer yang sebenarnya. Pentagon disebut belum memasukkan biaya lain yang sangat besar, seperti mobilisasi pasukan besar-besaran ke Timur Tengah, perawatan medis bagi prajurit yang terluka, hingga penggantian pesawat tempur yang hancur di medan laga.

Pada hari-hari pertama serangan, AS terlihat sangat agresif dalam penggunaan senjata. Mereka sempat menghabiskan sekitar US$2 miliar atau Rp33 triliun per hari untuk menjatuhkan bom-bom pintar ke wilayah Iran. Salah satu senjata utama yang digunakan adalah bom luncur AGM-154 Joint Standoff Weapon, yang memiliki harga per unit sebesar Rp13 miliar. Kini, demi menghemat anggaran, militer AS mulai beralih menggunakan amunisi yang lebih ekonomis seperti JDAM (Joint Direct Attack Munition). Meski lebih murah, penggunaan yang sangat masif tetap membuat stok persenjataan Negeri Paman Sam menipis dengan cepat.

Permintaan Dana Tambahan oleh Trump

Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan sedang bersiap mengajukan anggaran tambahan kepada Kongres guna mendanai operasi militer besar-besaran di Iran. Ketua Komite Alokasi DPR AS, Tom Cole, mengungkapkan bahwa Pentagon saat ini sedang menghitung rincian dana yang dibutuhkan. Meski angka pastinya belum dirilis, Cole memprediksi jumlahnya akan “sangat fantastis” mengingat mahalnya biaya pengoperasian dua gugus tempur kapal induk secara simultan di Timur Tengah.

“Menjaga kesiapan tempur dua kapal induk itu tidak murah, apalagi ditambah pengeluaran sumber daya lainnya,” ujar Cole kepada media. Rencana ini dipastikan tidak akan berjalan mulus. Kubu Demokrat di DPR secara terang-terangan melayangkan protes. Mereka menilai tindakan militer Trump sebagai “perang ilegal” yang tidak memiliki landasan hukum kuat.

Hakeem Jeffries, pemimpin kelompok minoritas Demokrat, menegaskan bahwa pemerintah belum mampu memberikan penjelasan logis mengapa AS harus terseret dalam konflik yang disebutnya sebagai “perang pilihan” di Timur Tengah. Tak hanya dari lawan politik, tantangan juga datang dari internal Partai Republik sendiri. Kelompok “elang fiskal” yang peduli pada penghematan anggaran menuntut kejelasan mengenai strategi jangka panjang dan bagaimana dana tersebut akan dibayarkan tanpa menambah beban utang negara.

“Kami ingin tahu apa tujuan akhirnya. Kami mendukung penumpasan musuh, tapi harus ada batasan biaya dan target yang jelas,” tegas Chip Roy, anggota DPR dari faksi Republik.

Ancaman Iran ke AS

Situasi di Washington saat ini kian memanas, mengingat permintaan dana tambahan ini muncul di tengah kondisi pemerintah yang sedang mengalami penutupan sebagian atau partial government shutdown. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terang-terangan mengeluarkan ancaman mematikan kepada militer Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya, Iran memperingatkan tentara Paman Sam untuk segera angkat kaki dari kawasan tersebut jika tidak ingin “terkubur di bawah reruntuhan.”

Ancaman ini merupakan bagian dari “Operasi Janji Setia 4” yang tengah dilancarkan Teheran. Sebagai bentuk keseriusan, IRGC mengaku telah menghujani target-target strategis dengan rudal balistik raksasa jenis Kheibar Shekan. Tak main-main, setiap rudal tersebut diklaim membawa hulu ledak seberat satu ton yang mampu meratakan bangunan dalam sekejap.

“Pergi sekarang, atau hadapi serangan langsung di mana pun kalian bersembunyi,” tegas pernyataan resmi IRGC, mengutip WANA. Sejumlah titik penting dilaporkan menjadi target amukan rudal dan drone Iran. Mulai dari Pangkalan Udara Muwaffaq al-Salti hingga instalasi militer AS di Manama dan Erbil disebut-sebut hancur terkena serangan paling intens sepanjang sejarah konflik kedua negara.


Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *