Kesepakatan dengan India untuk Pengadaan Rudal BrahMos
Kementerian Pertahanan Indonesia telah mencapai kesepakatan dengan India dalam rangka memperkuat alat utama sistem persenjataan (Alutsista) melalui pengadaan sistem rudal BrahMos. Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, mengungkapkan bahwa rencana pengadaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
Pada tahun 2024, terdapat kesepahaman minat atau expression of interest dalam kerangka kerja sama pertahanan antara Indonesia dan India. Rico menjelaskan bahwa saat ini prosesnya masih terkait dengan ketersediaan anggaran dan mekanisme lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa informasi detail mengenai jumlah unit, nilai kontrak, maupun jadwal pengiriman bersifat kontraktual dan tidak dapat dipublikasikan secara terbuka.
Deskripsi Mengenai Sistem Rudal BrahMos
Rudal BrahMos adalah senjata yang dikembangkan melalui kerja sama antara India dan Rusia. Nama BrahMos diambil dari Sungai Brahmaputra di India dan Sungai Moskva di Rusia. Sistem rudal jelajah supersonik ini dirancang sebagai senjata dengan tingkat kepresisian tinggi yang mampu menyerang target baik di darat maupun laut.
Kecepatan rudal BrahMos mencapai sekitar Mach 2,8 hingga Mach 3, atau hampir tiga kali kecepatan suara. Kecepatan ini membuat rudal ini sulit dicegah oleh sistem pertahanan udara. Selain itu, BrahMos memiliki jangkauan yang cukup jauh. Varian standar dapat menjangkau target sekitar 300 hingga 500 kilometer, sedangkan varian ekspor biasanya dibatasi menjadi 290 kilometer sesuai aturan pengendalian teknologi rudal internasional.
Fleksibilitas dan Spesifikasi Rudal BrahMos
Rudal BrahMos tergolong fleksibel karena bisa diluncurkan dari berbagai platform seperti pesawat tempur, kapal selam, kapal perang, maupun peluncur darat bergerak. Untuk varian yang ditembakkan dari kapal maupun darat, panjangnya mencapai 8,2 meter dengan diameter badan 0,67 meter dan berat peluncuran 3.000 kilogram. Sedangkan untuk varian yang diluncurkan dari udara, panjangnya 8,0 meter, diameter 0,67 meter, dan berat peluncuran 2.200 hingga 2.500 kilogram.
Hulu ledak yang dibawa oleh rudal ini mencapai 200 hingga 300 kilogram atau hulu ledak submunisi sebesar 250 kilogram. Hal ini memberikan kemampuan serangan yang signifikan terhadap target-target strategis.
Pandangan Para Ahli dan Strategi Pertahanan
Peneliti dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, menyampaikan beberapa pertanyaan terkait kesiapan pelatihan awak serta pemeliharaan kendaraan pengangkut rudal BrahMos. Meski demikian, ia menilai pembelian rudal ini masih masuk dalam kerangka modernisasi militer pasca Minimum Essential Force tahun 2019–2024.
Menurut Beni, urgensi pembelian ini relevan karena situasi geopolitik yang tidak menentu, terutama di wilayah seperti Laut Cina Selatan. Ia juga menyebut bahwa Tiongkok tergolong agresif dalam melakukan manuver militer, baik di Laut Cina Selatan maupun Selat Taiwan. Kondisi ini bisa membuat Indonesia terseret dalam konflik jika otoritas Tiongkok gegabah.
Tujuan Pengadaan Rudal BrahMos
Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa pengadaan rudal BrahMos nantinya akan digunakan untuk mendukung kemampuan pertahanan pantai atau coastal defence. Hal ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pertahanan maritim Indonesia.
Dengan pengadaan sistem rudal ini, Indonesia berharap dapat meningkatkan kesiapan dan kemampuan pertahanan negara dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks.











