"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Bung Hatta dalam Kenangan Keluarga: Tidak Pernah Bangga Jadi Proklamator



Menurut Meutia Farida Hatta, ayahnya, Mohammad Hatta, tidak pernah membanggakan perannya sebagai proklamator kemerdekaan RI. Ia adalah sosok yang sangat sederhana dan rendah hati.

===

14 Maret 1980, salah satu putra terbaik bangsa Indonesia, Mohammad Hatta, meninggal dunia pada usia 77 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Taman Kusir, Jakarta Selatan. Pada 1988, sang putri, Meutia Farida Hatta, menuliskan kenangan tentang sosok ayahnya, terutama perannya sebagai seorang proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Sukarno. Tulisan ini tayang dalam sebuah majalah dengan judul “Bung Hatta dalam Kenangan Keluarga”.

===

Tanggal 17 Agustus selalu menjadi hari yang istimewa bagi keluarga kami. Bukan hanya karena hari itu merupakan hari ulang tahun kemerdekaan RI, tetapi juga karena ayah kami, Bung Hatta, terlibat langsung dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan tersebut, sebagai salah satu proklamator. Oleh karena itu, setiap tanggal 17 Agustus kami merayakannya dengan kesan dan kenangan yang unik, baik yang manis maupun menyentuh hati.

Ikut Upacara Bendera

Untuk mengenang kebersamaan antara anak dan ayah dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia, saya kembali mengingat masa lalu hingga sekitar 34 tahun silam. Saat itu, ayah masih menjabat sebagai Wakil Presiden pertama RI. Megawati Soekarnoputri dan saya, masing-masing sebagai putri dari Presiden dan Wakil Presiden RI, berusia tujuh tahun dan ikut serta dalam upacara penaikan bendera pusaka di Istana Merdeka di pagi hari, dan penurunan bendera pusaka di sore harinya.

Kami bertugas membawa baki yang masing-masing berisi tutup peti bendera pusaka dan kunci peti bendera pusaka, lalu berdiri di samping ayah masing-masing. Wakil Presiden membuka kain penutup peti dan meletakkannya di atas baki saya. Selanjutnya, Presiden membuka peti dari kunci yang diambil dari baki Megawati. Setelah itu, bendera diserahterimakan kepada penerima bendera, yang saat itu dikenal sebagai Paskibraka, untuk dikibarkan sepanjang hari itu. Pada penurunan bendera pusaka di sore harinya, kami mengulangi tugas tersebut.

Saya ingat, partisipasi saya dalam acara ini berlangsung selama tiga tahun, ketika berusia 7-9 tahun. Keterlibatan Megawati dan saya dalam upacara itu resmi dan memerlukan gladi resik yang intensif selama beberapa hari. Jadi, jika dihitung dari awal tradisi penaikan dan penurunan bendera pusaka sejak 17 Agustus 1945 hingga tahun 1988, saya merasa bahwa saya adalah anggota termuda yang pernah berpartisipasi dalam upacara penaikan dan penurunan bendera pusaka Sang Merah Putih.

Pernah Tak Diundang ke Istana

Ketika Bung Hatta tidak lagi menjadi Wakil Presiden RI, beliau sepenuhnya memberikan kesempatan kepada Bung Karno untuk tampil sendiri dalam arena politik dan pemerintahan. Hal ini juga berarti bahwa beliau tidak ingin tampil dalam acara-acara bersama dengan Bung Karno, terutama di mana peranannya hanya bersifat pasif atau hanya sebagai salah satu dari hadirin.

Oleh karena itu, sejak 17 Agustus 1957 hingga tahun 1968, beliau tidak lagi muncul di Istana Merdeka pada upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Meskipun dalam hal-hal tertentu, sikap Bung Hatta memudahkan protokoler istana, ada pula masa di mana terdapat kekeliruan administrasi, yaitu beliau memang tidak diundang oleh pihak istana pada peringatan hari bersejarah yang melibatkan namanya. Kekeliruan ini kemudian diperbaiki, sehingga sesudah tahun 1968 beliau kembali mendapat undangan. Bung Hatta sedapat mungkin menyempatkan diri hadir di istana, kecuali apabila kesehatannya tidak mengizinkan. Ibu tentu saja mendampingi beliau.

Jika ayah tidak hadir, ibu dan salah seorang anak menjadi wakil beliau untuk hadir, meskipun kami setiap tahun selalu hadir karena mendapat undangan tersendiri sebagai putra-putri proklamator Bung Hatta.

Ciuman untuk Ayah

Pernah suatu kali, pada tanggal 17 Agustus 1959, kami berada di rumah adik ayah, Ny. Sanusi Galib, di Bandung. Masyarakat Bandung merayakannya dengan mengadakan pawai massal, dan dari halaman rumah adik ayah saya itu, kami menyaksikan perayaan tersebut. Sejumlah orang merasa heran atau kaget melihat Bung Hatta berada di Bandung dan menyaksikan mereka berpawai, sehingga mereka memberi salam dan menegurnya dengan gembira.

Sejak adanya TVRI, kami tak pernah absen menyaksikan upacara tersebut dari TV. Ini terjadi pada tahun-tahun ketika Bung Hatta tidak hadir di istana. Di depan TV, kami ikut mengheningkan cipta dan berdoa bagi keselamatan dan kelanggengan negara. Adik saya, Halida, pernah mengutarakan perasaannya saat itu. Katanya, hatinya bergetar pada saat lagu kebangsaan Indonesia Raya – yang memang terasa berwibawa itu – dikumandangkan. Perasaan yang sama juga dialami oleh kami yang berkumpul di hadapan TV.

Demikian pula telah menjadi kebiasaan kami bahwa setelah dentuman meriam dan pembacaan teks proklamasi, kami, anak-anak, menghampiri tempat duduk ayah dan mencium kedua pipi beliau. Dahulu kami hanya melakukannya karena mengikuti ibu. Namun, setelah bertambah dewasa, kami makin merasakan bahwa ada kekhususan sendiri, mengapa kami selalu mencium ayah kami. Hal itu tidak lain karena kami merasa bahwa beliau patut diberi penghormatan dan ucapan terima kasih, karena berkat peranan beliaulah maka sekarang negara kita merdeka.

Foto Terakhir

Rupanya bukan kami saja yang mempunyai perasaan tersebut. Halida ingat bahwa dr. Hazniel Zainal yang tinggal di Jl. Pegangsaan Barat, selalu hadir di pagi itu. Cukup singkat, sekitar lima menit, untuk menyampaikan salam dan selamat hari kemerdekaan. Waktu Halida kecil, dia menganggap peristiwa itu biasa saja, karena dokter mempunyai kebiasaan berjalan-jalan di pagi atau sore hari dan kebetulan lewat rumah kami. Namun, setelah dia mulai besar, kenangan masa kecil itu membekas. Betapa mengharukan, pikirnya, ada kenalan ayah yang menaruh rasa hormat terhadap perjuangan beliau untuk tanah air.

Dia bukan sekadar mampir, tetapi memerlukan datang untuk memberi selamat pada Bung Hatta. Halida yakin, dalam hati, ayah kami sangat menghargai ucapan selamat dari dr. Hazniel yang tulus itu. Ada pula beberapa orang yang melakukan hal serupa, seperti Pak Wangsa Widjaja, Dr. Halim, Mr. Oei Jong Tjioe, Bapak Arnold Mononutu, Laksmana John Lie, dll.

Dianugerahi Bintang Republik

Ada suatu kenangan khusus dari 17 Agustus yang takkan kami lupakan, yaitu pada tahun 1972. Ayah kami lahir pada tanggal 12 Agustus 1902, berarti pada tahun 1972, beliau berusia 70 tahun. Karena bilangan itu bersifat khusus, maka sebagian handai tolan dan keluarga merayakannya secara khusus dengan pembentukan sebuah panitia ulang tahun. Pada tahun itu juga, pemerintah menganugerahkan Bintang Republik (bintang tertinggi) atas jasa Bung Hatta bagi tanah air dan bangsa. Upacara pemberian bintang itu dilaksanakan di Istana Negara sebagai salah satu acara resmi kenegaraan menjelang peringatan 17 Agustus, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1972.

Kami keluarga terdekat dan sejumlah teman karib beliau turut diundang hadir dalam upacara itu. Oleh karena itu, bagi kami, bulan Agustus tahun 1972 itu bersifat khusus, dengan satu rangkaian peristiwa: ulang tahun ayah, penganugerahan Bintang Republik dan HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ber-17 Agustus-an di Tanah Kusir

Masih ada beberapa peristiwa khusus yang mengaitkan hari lahir Bung Hatta dengan peringatan 17 Agustus. Pada tanggal 12 Agustus 1981, pemerintah RI diwakili oleh Menteri Sekretaris Kabinet (sekarang Mensesneg) Moerdiono, meletakkan batu pertama pembangunan makam Bung Hatta di Tanah Kusir. Setahun kemudian makam tersebut selesai dibangun, dan tepat pada tanggal 12 Agustus 1982, diresmikan oleh Presiden Soeharto dalam salah satu upacara yang merupakan rangkaian acara memperingati 17 Agustus 1982. Itulah sebabnya, maka bagi kami sebagai anak-anak dan juga bagi ibu, kaitan antara tanggal ulang tahun ayah dan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia makin kuat tertanam dalam lubuk hati.

Kini, ayah kami telah beristirahat dengan tenang di Tanah Kusir, ditemani Hanum yang menyusul datuknya tiga tahun kemudian. Sejak wafatnya Bung Hatta, keluarga berusaha untuk sedapatnya tiap minggu datang ke makam beliau. Hanya melalui ziarah saya memperkenalkan anak saya, Tan Sri Zulfikar, kepada datuknya dan kakaknya, Hanum. Dia belum lahir ketika datuknya meninggal. Meskipun demikian, di luar hari-hari ziarah biasa itu, ada hari-hari khusus, di antaranya pada tanggal 12 Agustus, hari ulang tahun beliau, di mana kami datang ke Tanah Kusir untuk mohon kepada Allah s.w.t. agar ayah kami berbahagia di sisi-Nya.

Selanjutnya, lima hari kemudian, sepulang dari peringatan, 17 Agustus di Istana Merdeka, kami langsung menuju ke Tanah Kusir untuk menabur bunga yang khusus berwarna merah dan putih saja. Di hari itu, selain berziarah kami juga mengenang jasa beliau yang besar bagi kepentingan tanah air dan bangsa.

Bagi kami, ulang tahun ayah dan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia setiap tahun sama berkesannya seperti merayakan Idul Fitri.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *