"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Dari Poso ke Teheran: Strategi Komunikasi Politik Jusuf Kalla di Tengah Badai Geopolitik

Peran Jusuf Kalla dalam Diplomasi Global

Pertemuan antara Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi, dengan Jusuf Kalla (JK) di kediaman pribadinya di Jalan Brawijaya pada awal Maret 2026 bukanlah sekadar kunjungan biasa. Di tengah situasi yang memanas akibat serangan udara ke wilayah Teheran, langkah ini menunjukkan upaya nyata untuk mencari solusi perdamaian melalui diplomasi multi-track.

Pertemuan yang dilakukan di ruang privat, bukan di kantor resmi, menunjukkan bahwa isu yang dibahas sangat mendesak dan membutuhkan pendekatan khusus. Hal ini menjadi tanda bahwa dialog formal antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sedang mengalami kebuntuan. Dengan demikian, para pemangku kepentingan berusaha mencari alternatif untuk menciptakan jalan keluar.

Secara teori, fenomena ini dapat dilihat melalui lensa Track Two Diplomacy. Dalam studi hubungan internasional, ketika jalur resmi (Track One) mengalami stagnasi karena hambatan birokrasi, sanksi, dan kekakuan sikap politik, aktor-aktor kunci sering kali beralih ke figur transisional yang memiliki otoritas moral dan pengalaman empiris di lapangan.

Jusuf Kalla adalah contoh dari mediator yang mampu melebihi batas-batas jabatan formal. Bagi Iran, JK bukan hanya mantan Wakil Presiden RI, tetapi juga simbol dari keberhasilan rekonsiliasi yang bersifat komunal dan identitas. Teheran tampaknya melihat kesamaan pola resolusi konflik yang dibutuhkan untuk meredam ketegangan Timur Tengah dengan apa yang pernah dilakukan JK dalam menangani konflik-konflik domestik yang sarat sentimen identitas di Indonesia.

Salah satu rujukan penting untuk memahami “naluri perdamaian” JK terdapat dalam buku Dendam Konflik Poso (Periode 1998-2001). Buku ini menjelaskan bagaimana komunikasi politik digunakan untuk mengurai kerumitan konflik yang telah menyebabkan banyak korban jiwa. Di dalamnya, dipaparkan bagaimana JK menekankan pentingnya memutus rantai kebencian yang bersifat generasional.

Sebuah kutipan kunci dalam buku itu yang sangat relevan dengan situasi Iran saat ini adalah mengenai urgensi beralih dari narasi masa lalu:
“Kalau kita bicara tentang masa lalu, yang ada hanyalah air mata dan darah. Mari kita bicara tentang masa depan.”

Dalam konteks ketegangan Iran dengan poros AS-Israel, kutipan ini menjadi sangat krusial. Iran tampaknya menyadari bahwa eskalasi bersenjata hanya akan berujung pada siklus balas dendam (tit-for-tat) yang tak berkesudahan, mirip dengan kondisi Poso sebelum lahirnya Deklarasi Malino. Dengan menemui JK, Iran secara implisit mencari metodologi untuk melakukan de-ekskalasi tanpa harus kehilangan harga diri di mata internasional sebuah prinsip Dignity for All yang selalu menjadi fondasi JK dalam setiap meja perundingannya.

Lebih jauh lagi, efektivitas seorang mediator sering kali ditentukan oleh persepsi kenetralan. Di tengah polarisasi Sunni-Syiah yang sering kali dieksploitasi dalam geopolitik Timur Tengah, posisi JK sebagai tokoh senior di dunia Islam (seperti perannya di DMI) memberikan jembatan yang kredibel. JK tidak datang dengan agenda ideologis, melainkan dengan pendekatan pragmatis dan kemanusiaan.

Hal ini selaras dengan Theory of International Mediation, di mana kesuksesan mediasi bergantung pada kemampuan aktor untuk beroperasi di luar struktur kekuasaan yang kaku namun tetap memiliki akses langsung ke pusat pengambilan keputusan.

Kehadiran sosok negosiator seperti Hamid Awaluddin dalam pertemuan tersebut mempertegas bahwa diplomasi di Jalan Brawijaya ini didukung oleh tim yang memahami aspek teknis perdamaian internasional.

Kunjungan Dubes Iran ini adalah pesan kuat bagi dunia internasional: bahwa diplomasi kemanusiaan yang berbasis pada pengalaman lokal Indonesia memiliki resonansi global. Poso dan Aceh telah membuktikan bahwa dendam bisa dipadamkan melalui komunikasi politik yang humanis namun tegas.

Kini, dengan bayang-bayang konflik besar di Timur Tengah yang mengancam stabilitas energi dan ekonomi dunia, dunia kembali menanti apakah “tangan dingin” dan insting perdamaian JK sekali lagi mampu memberikan arah bagi kompas diplomasi dunia yang sedang kehilangan haluan.

Pengalaman di Poso bukan sekadar catatan sejarah, melainkan manual praktis bagi dunia untuk berhenti menghitung luka masa lalu dan mulai merajut masa depan.


Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *