Penjelasan Mengenai Sistem Rudal Kheibar Shekan
Iran telah meluncurkan rudal canggih yang dikenal dengan nama Kheibar Shekan (Penghancur Benteng). Sistem ini digunakan untuk membombardir Tel Aviv, Israel. Salah satu keunggulan utama dari sistem ini adalah kemampuannya melepaskan 20 hingga 80 bom kecil dalam satu kali peluncuran. Hal ini membuatnya menjadi senjata yang sangat efektif dalam menyerang target yang luas.
Sistem rudal Kheibar Shekan termasuk dalam kategori senjata canggih generasi ketiga dan mulai beroperasi sejak tahun 2022. Hulu ledak yang digunakan memiliki kemampuan bermanuver dan dapat melepaskan submunisi di ketinggian sekitar 7 kilometer. Berbeda dengan rudal konvensional yang meledak di satu titik, hulu ledak ini pecah di udara dan menyebarkan bom-bom kecil dalam radius hingga 8 kilometer.
Setiap submunisi membawa sekitar 2,5 kg hingga 7 kg bahan peledak. Daya hancur dari bom-bom ini setara dengan roket jarak pendek yang digunakan oleh Hamas atau Hizbullah. Selain itu, rudal ini memiliki jangkauan hingga 1.450 km dan mampu melakukan manuver di fase terminal untuk menghindari sistem pertahanan udara seperti Patriot atau Iron Dome.
Dampak Serangan Rudal Iran terhadap Israel
Menurut laporan dari NBC News, sejak agresi AS-Israel dimulai pada 28 Februari, serangan rudal Iran telah menewaskan sedikitnya 11 orang di Israel dan melukai lebih dari 1.000 lainnya. Dalam pernyataan resminya, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-19 Operasi True Promise 4.
Mereka menjelaskan bahwa setiap rudal yang diluncurkan membawa hulu ledak seberat 1 ton, yang ditembakkan ke pusat kota Tel Aviv, Bandara Ben Gurion, serta markas Skuadron ke-27 Angkatan Udara Israel yang berada di bandara tersebut. Peluncuran dilakukan pada waktu fajar dengan kode operasi “Ya Hassan ibn Ali” (damai besertanya).
Rudal-rudal strategis yang disertai drone serang tersebut dikatakan berhasil menembus beberapa lapisan pertahanan udara regional dan internal di wilayah pendudukan. Dalam aksi tersebut, IRGC menyatakan telah berhasil menciptakan “neraka” bagi para agresor.
Pernyataan IRGC Mengenai Operasi Militer
Selama gelombang ke-18 Operasi True Promise 4, IRGC mengeklaim telah menarget sebanyak 20 sasaran militer Amerika Serikat yang berada di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Mereka menekankan telah melakukan koordinasi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara angkatan bersenjata Iran, dengan serangan multi-arah yang dilakukan bersamaan.
IRGC juga menyatakan telah menulis ulang aturan keterlibatan jauh melampaui perhitungan militer AS maupun rezim Zionis. Pernyataan mereka menyebutkan bahwa penarikan pengecut pasukan Amerika dari pangkalan regional mereka dan bersembunyi di hotel negara tuan rumah tidak luput dari pengawasan aparat intelijen IRGC.
Tanggapan Militer Israel
Kepala militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengatakan lebih dari 60 persen peluncur rudal balistik Iran dan 80 persen sistem pertahanan udaranya telah dihancurkan dalam perang melawan Iran. Ia menyatakan bahwa sekarang pihaknya beralih ke fase operasi selanjutnya, di mana mereka akan lebih lanjut membongkar rezim dan kemampuan militernya.
Ia juga menyampaikan bahwa ada kejutan tambahan di depan yang tidak akan diungkapkan. “Kami telah menetralisir dan menghancurkan lebih dari 60 persen peluncur rudal balistik,” katanya.
Rencana AS dalam Menghadapi Iran
Militer AS yakin dengan rencana operasionalnya melawan Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth berjanji untuk meningkatkan serangan terhadap rezim Iran secara “dramatis”. Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan pasukan Amerika mengantisipasi kemampuan Iran dan menyusun strategi mereka sesuai dengan hal tersebut.
Cooper menambahkan bahwa pasukan AS terus beradaptasi seiring dengan perkembangan medan perang. “Seperti organisasi yang baik lainnya, kami menyesuaikan diri seperlunya untuk menghadapi lingkungan, dan kami telah melakukan penyesuaian yang tepat,” katanya.
Penggunaan Drone Kamikaze oleh AS
Sistem pertahanan AS terhadap pesawat nirawak telah lama menuai kritik karena rudal-rudal mahal sering digunakan untuk menembak jatuh pesawat nirawak yang relatif murah yang dikerahkan oleh Iran dan sekutunya. Namun, Cooper mengatakan AS telah “berada di sisi lain” dari ketidakseimbangan biaya tersebut.
AS juga mengerahkan unit drone kamikaze baru untuk pertama kalinya selama operasi Iran. Drone tersebut dikembangkan setelah bertahun-tahun AS menangkap dan merekayasa balik model-model Iran. Bagian dari kampanye yang lebih luas, yang disebut Operasi Epic Fury, bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan rudal balistik dan kekuatan angkatan laut Iran, kata para pejabat.
Serangan AS terhadap Target di Dalam Wilayah Iran
Cooper mengatakan bahwa pasukan pembom AS telah menyerang hampir 200 target jauh di dalam wilayah Iran selama 72 jam terakhir, termasuk lokasi-lokasi di sekitar Teheran. Dia juga mengungkapkan bahwa hanya satu jam sebelum pengarahan, pesawat pembom siluman B-2 menjatuhkan puluhan bom penetrasi seberat 2.000 pon ke peluncur rudal balistik yang terkubur dalam-dalam.
Cooper mengatakan pasukan AS juga telah menargetkan badan setara Komando Antariksa Iran. Menurutnya, serangan Iran telah menurun secara signifikan sejak awal perang. Serangan rudal balistik telah turun 90 persen sejak hari pertama pertempuran, sementara serangan pesawat tak berawak turun 83 persen.
Militer AS juga telah menyerang 30 kapal angkatan laut Iran. “Dan hanya dalam beberapa jam terakhir, kami menyerang kapal induk drone Iran, yang ukurannya kira-kira sebesar kapal induk Perang Dunia II. Dan saat ini, kapal itu terbakar,” kata Cooper.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











