Iran dilaporkan telah melakukan perubahan signifikan dalam strategi pertahanannya hari ini, Senin (2/3/2026), dengan mengaktifkan sistem pertahanan yang dikenal sebagai “Decentralize Mosaic Defence”. Sistem ini merupakan doktrin perang gerilya yang dijalankan secara serentak di seluruh wilayah Iran. Perubahan ini dilakukan setelah serangan AS dan Israel menargetkan jalur komando pusat pada Ahad kemarin.
Strategi baru ini telah mengubah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi 31 unit operasional otonom. Satu unit berada di Teheran, sementara 30 unit lainnya tersebar di bawah komando tingkat provinsi. Setiap komandan unit diberikan kebebasan penuh untuk membuat keputusan taktis tanpa memerlukan persetujuan dari pusat di Teheran. Hal ini bertujuan untuk mencegah kelumpuhan sistemik jika terjadi gangguan komunikasi atau upaya pemecatan pemimpin.
Menurut pejabat Iran, serangan AS dan Israel baru-baru ini telah menargetkan infrastruktur utama dan pusat komando militer. Meskipun detail mekanisme operasional belum diungkapkan secara rinci, sejumlah tokoh senior telah menyatakan bahwa restrukturisasi ini dimaksudkan untuk menjaga kemampuan bertahan dalam situasi kritis.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa Iran telah lama mempelajari cara bertempur melawan AS dan sekutunya. “Pengeboman di Ibu Kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk berperang. Decentralized Mosaic Defence memungkinkan kami untuk memutuskan kapan dan bagaimana perang akan berakhir,” kata dia melalui X pada Ahad kemarin.
Melalui platform yang sama, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, juga menegaskan kesiapan pasukannya untuk menghadapi perang panjang. “Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” tulis Larijani.
Bagaimana Cara Kerja Decentralized Mosaic Defence?
Dilansir dari beberapa sumber, IRGC yang terbagi menjadi 31 unit mandiri masing-masing akan bertindak seperti potongan puzzle. Setiap komandan mendapatkan kekuatan taktis penuh. Menembakkan rudal, meluncurkan drone, dan serangan gerilya akan menjadi keputusan mereka tanpa perlu menunggu lampu hijau.
Seperti perang gerilya yang dikenal luas, pegunungan terjal dan gurun akan berubah menjadi zona penyerangan. Pertahanan berlapis itu diyakini akan melemahkan penjajah secara perlahan. Perubahan strategi ini penting bagi IRGC yang tengah menjadi target besar agresor AS-zionis. Jika sebelumnya semua komando disalurkan melalui Teheran, maka satu serangan besar bisa melumpuhkan seluruh pasukan.
Dengan cara baru ini, setiap unit bisa terus bertempur sendiri-sendiri. Cara itu telah diuji dalam latihan ‘Smart Control’ pada Februari lalu, dan kini akan diterapkan di tengah perang nyata yang bisa meningkatkan pertahanan dengan pesat.
Tujuan strategi ini adalah melelahkan penyerang. Manfaatkan medan untuk penyergapan, dan menjadikan invasi ke Iran sebagai mimpi buruk. Sejarah mencatat, bagaimana jebakan memainkan peran penting di perang Vietnam atau Afghanistan.
Pasukan darat, angkatan laut dan udara IRGC akan terlibat secara bersamaan. Setiap provinsi menjalankan peran mereka. Walaupun Teheran diserang, yang lain akan meningkatkan kekuatan. Araghchi mengatakan, hal itu menjadi kunci kendali akhir Iran.
Latihan kontrol cerdas pertengahan Februari lalu dianggap berhasil. Kapal serang cepat berkerumun di Hormuz. Sistem peperangan elektronik (EW) membutakan radar. Perintah terdesentralisasi diterbangkan tanpa persetujuan pusat. Terbukti siap. Sekarang, pasca-serangan, saatnya beraksi. 190.000 pasukan IRGC ditambah pasukan cadangan menyebar dengan cerdas.
Risiko Bagi AS dan Israel
Tersebarnya unit IRGC yang mendiri menandakan serangan mendadak bisa terjadi di mana saja. Titik-titik rawan semakin menyempit. Aliran minyak terhambat. AS-Israel akan menghadapi serangan kecil yang tak berujung. Tidak ada kemenangan cepat. Peluang eskalasi meningkat tajam. Namun, dunia sedang mengawasi, seberapa lama gurita pertahanan ini akan mengacaukan strategi AS-Israel.
Perang Iran dimulai pada Sabtu (28/2/2026), ketika gabungan kekuatan AS dan zionis Israel menyerang sejumlah kota di Iran secara mendadak. Serangan itu menggugurkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah petinggi militer. Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan kota-kota penting di Israel dan semua pangkalan militer AS di Timur Tengah. Bahrain, Qatar, UEA, dan Kuwait yang menjadi rumah pangkalan AS ikut menjadi target rudal Iran.











