Profil dan Biodata Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno
Try Sutrisno adalah seorang jenderal TNI yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia. Kariernya di dunia militer sangat mencolok, hingga akhirnya ia menduduki posisi penting sebagai wakil presiden. Perjalanan hidupnya penuh dengan tantangan, terutama karena latar belakang keluarganya yang sederhana. Meski begitu, ia berhasil mengukir prestasi yang mengesankan.
Biodata Singkat Try Sutrisno
Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno meninggal pada hari Senin, 2 Maret 2026 di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Ia berusia 90 tahun saat meninggal. Selama hidupnya, kariernya di militer berkembang pesat hingga akhirnya diberi amanah menjadi Wakil Presiden. Meskipun memiliki latar belakang dari keluarga sederhana, ia berhasil meraih prestasi yang luar biasa.
Berikut biodata singkat Try Sutrisno:
- Nama Lengkap : Try Sutrisno
- Tempat Lahir : Surabaya, Jawa Timur
- Tanggal Lahir : 15 November 1935
- Meninggal Dunia : Jakarta, 2 Maret 2026
- Nama Orangtua : Subandi (Papa) dan Mardiyah (Mama)
- Nama Pasangan : Tuti Sutiawati
- Nama Anak : Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari
- Almamater : SMA Bagian B (SMAN 2 Surabaya), Akademi Teknik Angkatan Darat
- Profesi : Politikus, Perwira Militer
- Afiliasi Politik : Partai Golkar (1993 – 1999)
- Partai Politik : Partai Keadilan dan Persatuan
Kehidupan Sebelum Masuk Militer, Pernah Jadi Penjual Koran

Try lahir dari keluarga yang sederhana dan tidak memiliki latar belakang militer maupun pemerintahan. Ayahnya, Subandi, bekerja sebagai sopir ambulans di Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Sedangkan ibunya, Mardiyah, adalah seorang ibu rumah tangga.
Setelah proklamasi kemerdekaan, keluarga Try pindah ke Mojokerto karena ayahnya menjadi petugas medis untuk Batalyon Angkatan Darat Poncowati. Hal ini menyebabkan Try harus putus sekolah. Untuk membantu keluarga, ia mulai menjual rokok dan koran.
Menjadi Kurir di Batalyon Angkatan Darat Poncowati

Meski bukan sebagai prajurit, Try akhirnya dipekerjakan sebagai kurir saat usianya masih 13 tahun. Ia bertugas mencari informasi di daerah-daerah yang diduduki oleh tentara Belanda pasca proklamasi. Ia juga bertugas mengambil obat-obatan untuk Angkatan Darat Indonesia.
Setelah Belanda mundur dan mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949, Try dan keluarganya kembali ke Surabaya. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya dan menyelesaikan SMA Bagian B atau SMA Negeri 2 Surabaya pada tahun 1966.
Lulus ATEKAD, Langsung Terlibat dalam Operasi Penumpasan PRRI

Setelah lulus SMA, Try ingin mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat namun sempat gagal dalam pemeriksaan fisik. Namun, ia akhirnya dipanggil oleh Mayor Jenderal GPH Djatikusumo yang tertarik dengannya.
Pengalaman militer pertamanya adalah saat terlibat dalam operasi penumpasan PRRI di Sumatra pada tahun 1957. Ia akhirnya lulus di ATEKAD pada tahun 1959 di tengah kondisi keamanan negara yang masih bergejolak.
Pada tahun 1972, ia dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Dua tahun setelahnya, Try terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto yang membuat karier militernya semakin melejit.
Karier Melejit, dari Panglima Kodam hingga Panglima ABRI

Pada tahun 1978, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf Kodam XVI/Udayana dan setahun kemudian diangkat sebagai Panglima Kodam XVI/Sriwijaya.
Pada tahun 1982, ia diangkat menjadi Panglima Kodam VI/Jaya dan ditempatkan di Jakarta. Ia juga terlibat dalam Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984 dan memerintah pasukan untuk menghadang perusuh.
Kariernya yang terus meningkat membuat Try Sutrisno akhirnya ditetapkan sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1985. Satu tahun setelahnya, ia naik menjadi Kepala KSAD.
Ia juga menginisiasi Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD untuk memudahkan prajurit memiliki rumah. Puncak karier militernya pada tahun 1988 setelah ditunjuk sebagai Panglima ABRI. Ia berhasil menumpas berbagai pemberontakan dan kerusuhan di Indonesia.
Dipilih Menjadi Wakil Presiden, Dampingi Presiden Soeharto

Setelah berhenti dari posisinya di militer, Try Sutrisno terpilih menjadi Wakil Presiden ke-6 untuk periode 1993–1998. Ia terpilih lewat Sidang Umum MPR 1993.
Posisinya sebagai wakil sempat tidak disukai oleh Soeharto, bahkan tidak melibatkan Try dalam proses pembentukan kabinet. Posisinya semakin jadi ancaman setelah semakin populer dan diduga akan menggantikan Soeharto sebagai Presiden Indonesia.
Latar belakangnya dari militer menilai dirinya akan diterima oleh ABRI. Pada tahun 1998, ia sempat diminta untuk mengisi posisi Wakil Presiden untuk periode selanjutnya. Meski memiliki dukungan kuat, Try Sutrisno tidak berambisi sehingga jabatan tersebut diserahkan kepada B.J Habibie.
Meski tidak aktif di pemerintahan, ia tetap aktif di kalangan purnawirawan dengan memimpin Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) pada 1998–2003 untuk menjaga stabilitas organisasi di masa transisi. Ia juga menjadi sesepuh Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
Itu dia profil Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 RI lengkap perjalanan kariernya. Rekam jejaknya di dunia militer dan politik Indonesia sangat mengesankan.
Selamat jalan, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno!
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











