Tragedi Kemanusian di Sekolah Dasar Minab, Iran
Tragedi kemanusian yang mengerikan terjadi di wilayah selatan Iran pada Sabtu sore. Gedung Sekolah Dasar (SD) Shajareye Tayabeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, menjadi sasaran serangan rudal militer yang menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa yang sangat banyak.
Berdasarkan data terbaru hingga Sabtu sore, peristiwa memilukan ini telah menewaskan 57 siswi dan melukai 60 lainnya. Mayoritas korban adalah anak-anak perempuan yang sedang mengikuti jam pelajaran saat ledakan dahsyat meruntuhkan seluruh struktur bangunan sekolah tersebut.
Korban Jiwa dan Operasi Penyelamatan
Situasi di lokasi kejadian sangat mencekam. Hingga Sabtu sore waktu setempat, Gubernur Minab, Mohammad Radmehr, mengungkapkan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung untuk mengevakuasi siswi yang tertimbun di bawah reruntuhan beton.
“Setidaknya 53 siswi dilaporkan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Tim penyelamat dan bantuan kemanusiaan sedang bekerja keras di lokasi untuk mengevakuasi para korban,” ujar Radmehr dalam pernyataan resminya.
Meskipun duka mendalam menyelimuti kota, pemerintah setempat mengklaim situasi keamanan di Minab saat ini telah berada di bawah kendali otoritas keamanan.
Penghancuran Kompleks Kediaman Ayatollah Ali Khamenei
Selain menyasar fasilitas sipil, serangan ini juga menghantam jantung politik Iran. Kabar terkini menyebutkan penghancuran total istana kediaman dan kompleks resmi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Mengutip The New Voice of Ukraine, laporan awal menyebutkan istana Khamenei benar-benar runtuh sepenuhnya, meskipun belum jelas apakah Khamenei berada di dalam kompleks saat serangan berlangsung. Citra satelit memperlihatkan kerusakan berat di kompleks kediaman resmi tersebut di Teheran, dengan sejumlah bangunan roboh dan asap hitam mengepul.
Laporan kantor berita Iran menyebut roket dan rudal juga menghantam wilayah sekitar Istana Kepresidenan, merusak apartemen dan infrastruktur sipil lainnya di pusat kota Teheran.
Agresi Gabungan Israel-AS: Operasi “Epic Fury”
Insiden ini merupakan bagian dari gelombang agresi militer gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel melalui operasi pre-emptive strike bertajuk “Lion’s Roar” atau “Epic Fury”. Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu telah mengonfirmasi operasi tempur besar-besaran ini dengan dalih demiliterisasi, pencegahan program nuklir, serta putusnya negosiasi diplomatik mengenai pembatasan senjata nuklir dan balistik.
Pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Israel menyatakan serangan dilancarkan untuk menetralkan ancaman langsung terhadap keamanan nasional. Operasi ini dilaporkan telah direncanakan bersama selama beberapa bulan dengan target meliputi situs militer, fasilitas rudal, serta infrastruktur strategis di Teheran dan kota-kota lain di Iran.
Balasan Teheran dan Kondisi Darurat di Israel
Menanggapi gugurnya puluhan siswi dan serangan terhadap simbol negara, Angkatan Bersenjata Iran langsung meluncurkan serangan balasan besar-besaran. Teheran melaporkan telah menghujani wilayah pendudukan Israel dan pangkalan militer AS dengan gelombang rudal balistik serta pesawat tanpa awak (drone).
Dampaknya, tanda-tanda peringatan darurat berupa bunyi sirene semakin memenuhi berbagai lokasi di Israel. Akun media sosial X resmi Pasukan Pertahanan Israel @IDF melaporkan pada pukul 19.50 WIB (14.50 waktu Israel) bahwa simbol merah sirene telah bertumpuk pada sebagian besar perkotaan di utara hingga selatan Israel.
“Sirene kembali berbunyi di seluruh Israel!” tulis akun tersebut, seiring dengan perintah bagi warga Israel untuk segera berlindung.
Respons Internasional dan Desakan DK PBB
Pemerintah Iran secara tegas mengutuk serangan terhadap sekolah Minab sebagai tindakan kriminal karena tidak ditemukannya instalasi militer, gudang senjata, maupun personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di area tersebut. Melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta, Iran menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk bertindak atas pelanggaran Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB dan menegaskan hak bela diri berdasarkan Pasal 51.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh WNI di wilayah terdampak untuk tetap waspada dan menjauhi objek-objek vital. Kedutaan Iran di Jakarta juga menyerukan dukungan dari tokoh politik dan organisasi keagamaan di Indonesia untuk mengecam serangan terhadap warga sipil tak bersalah ini.
Reaksi global mulai bermunculan seiring kekhawatiran meningkatnya eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Teluk dan dampaknya bagi jalur energi internasional.











