"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Semua Syarat Reformasi Terpenuhi, Tiyo Ingatkan Pemerintah

Kondisi Politik dan Ekonomi yang Menggerakkan Gerakan Mahasiswa

KUDUS – Seluruh prasyarat terjadinya reformasi di negeri ini sudah terpenuhi. Ini yang membuat pikiran Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM, berkecamuk dan mengimajinasikan adanya reformasi jilid II. Ia memetakan syarat adanya reformasi, antara lain kemerosotan demokrasi, krisis politik, dan mungkin krisis ekonomi.

“Rakyat tidak percaya dengan pemimpinnya, lembaga negara tidak berfungsi, dan ekonomi menjelang krisis,” begitu kata Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Ibnu Taufik Juwariyanto di teras Omah Dongeng Marwah, Kamis (26/2/2026) sore.

Imajinasi ini rupanya tidak hanya disimpan dalam pikirannya. Tiyo mengumbar imajinasinya tersebut kepada kawan-kawan sesama aktivis mahasiswa. Berangkat dari imajinasinya tersebut, Tiyo mencoba mengonversi imajinasinya menjadi gerakan melalui konsolidasi. Terakhir konsolidasinya dilakukan bersama aktivis mahasiswa se-Solo Raya.

Indikasi Kemerosotan Demokrasi

Isu kemerosotan demokrasi ini menurutnya sudah sangat jelas terlihat. Apa yang dikatakan Tiyo rupanya selaras dengan laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) di mana pada tahun 2025, indeks demokrasi Indonesia pada tahun 2024 skornya 6,44 dari skor tertinggi 10. Skor tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-59 dari total 167 negara yang diukur indeksnya (Kompas.id, 2025). Skor inilah yang kemudian Indonesia berada dalam kategori demokrasi cacat.

Indeks yang dicapai Indonesia sepanjang 2024 rupanya terbilang menurun jika dibanding dengan tahun 2023 yang skornya mencapai 6,53. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi demokrasi semakin memprihatinkan.

Krisis Politik yang Membayangi

Kemudian krisis politik juga terjadi di Indonesia. Tiyo menilai krisis politik ini terjadi pada level tertinggi, di mana masyarakat Indonesia sudah bisa dibilang apatis nan apolitis. Menurut Tiyo karena masyarakat putus asa. Kekuasaan yang konon dipilih secara demokratis selama lima tahunan rupanya secara signifikan tidak mampu mengubah nasib warganya.

Terbukti sampai saat ini mencari pekerjaan untuk sesuap nasi susah. Ditambah adanya ketidaksinkronan antarlembaga pemerintah. “Lihat saja, barusan terjadi ketidakstabilan eksekutif antara Purbaya dengan Trenggono. Lihat, mereka masih dalam satu kabinet saja tidak bisa koordinasi,” kata Tiyo.

Ancaman Krisis Ekonomi

Yang tidak kalah mencekam di antara prasyarat reformasi dalam imajinasi Tiyo yaitu adanya ancaman krisis ekonomi. Tiyo menjelaskan, belakangan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons perihal utang Indonesia yang kian bertambah dari tahun ke tahun. Dari situ kemudian Purbaya menjelaskan alasan menambah utang karena pilihannya kalau tidak utang akan terjadi krisis seperti 1998. Hal inilah yang kemudian menurut Tiyo membuat Indonesia di ambang terjadinya krisis.

Bagi Tiyo, selama ini diamnya masyarakat Indonesia atas seluruh kenyataan yang tidak enak didengar maupun dirasakan karena mereka memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Namun jangan salah, tingkat kesabaran masyarakat yang tinggi atau diamnya masyarakat itu menurutnya justru membahayakan bagi rezim.

Melihat gejolak penolakan kenaikan pajak yang terjadi di Pati Jawa Tengah merupakan buah dari diam dan sabarnya masyarakat yang kemudian meletus secara kolektif. “Pemerintah harus takut pada rakyat yang sabar. Justru mereka yang sabarlah kemarahannya menakutkan,” kata Tiyo.

Penolakan Terhadap Program MBG

Kemudian belakangan sempat terjadi pembangkangan warga Jawa Tengah dalam memboikot membayar pajak kendaraan. Ini semua terjadi karena menurutnya masyarakat sudah muak dan frustasi. Semua itu ketika terdapat pantikan sedikit, maka bisa terjadi kaos. Masyarakat marah.

Dari seluruh penjelasan tersebut menjadi latar belakang Tiyo untuk melakukan kritik tajam terhadap penguasa. Selama ini yang paling sering dilontarkan yaitu kritiknya atas program MBG singkatan dari Makan Bergizi Gratis yang oleh Tiyo diplesetkan menjadi Maling Berkedok Gizi.

Bagaimana tidak, program tersebut sangat membebani keuangan negara yang mayoritas berasal dari pajak rakyat. Banyak yang dikorbankan akibat program MBG ini. Di antara yang paling mendasar akibat adanya program MBG ini menurut Tiyo memangkas alokasi anggaran untuk pendidikan.

Kredo Tiyo dalam Berjuang

Dari seluruh rangkaian kritik tajam yang dia utarakan, Tiyo paham betul akan risikonya. Termasuk dia akan diteror. Namun dia telah memiliki kredo dalam dirinya: semakin ditekan semakin melawan, semakin diteror semakin gacor.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *