JAKARTA — Bulan suci ramadhan seharusnya menjadi momen yang penuh makna bagi para konglomerat untuk membayar utang sosial mereka kepada rakyat. Bukan justru menjadikan ramadhan sebagai kesempatan untuk terus menguras laba dari rakyat.
Menurut Toto Izul Fatah, Ketua Umum Ikatan Alumni PP Ibadurrahman YLPI Sukabumi, Jabar, utang sosial para konglomerat itu nyata dan ada, meskipun tidak tercatat dalam laporan keuangan maupun audit. “Itu adalah kewajiban moral dan sosial minimal dari mereka yang sudah diuntungkan oleh republik ini,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kepedulian konglomerat bukanlah kemurahan hati yang harus dipuji berlebihan. Namun, itu merupakan tanggung jawab mereka karena telah memperoleh keuntungan dari pasar Indonesia, tanah Indonesia, tenaga kerja Indonesia, dan konsumen Indonesia. “Ketika keuntungan itu dibangun dari sumber-sumber tersebut, maka seharusnya mereka punya kewajiban moral untuk mengembalikan sebagian manfaat itu kepada rakyat,” katanya.
Toto menyebutkan bahwa saat ini rakyat sedang tertekan akibat kenaikan harga bahan pokok seperti beras, minyak, gula, dan telur. “Di sinilah tanggung jawab moral dan sosial itu seharusnya muncul. Bukan justru memanfaatkan kecemasan itu sebagai peluang bisnis,” ujarnya.
Menurutnya, hal ini bukan sekadar soal amal, tetapi lebih pada keadilan sosial minimum. Kekayaan besar yang diperoleh konglomerat tak boleh berjalan tanpa tanggung jawab moral. Selama ini, publik sering disuguhi narasi bahwa konglomerat adalah “penggerak ekonomi”, “pencipta lapangan kerja”, atau “mitra pembangunan”. Meski tidak salah, namun narasi itu menjadi hampa jika tidak disertai keberanian untuk hadir di tengah penderitaan rakyat.
“Apa artinya puja-puji tentang kontribusi ekonomi, jika saat banjir melanda, longsor menelan rumah warga, atau harga bahan pokok menyesakkan jelang Lebaran, yang bergerak justru komunitas kecil, relawan, masjid, gereja, anak-anak muda, dan warga biasa yang patungan seadanya?” tanya Toto.
Sementara itu, ia menyoroti bahwa sebagian pemilik modal besar yang menguasai rantai pasok pangan, jaringan distribusi, gudang, dan ritel modern justru lebih sering terlihat menjaga margin daripada menjaga empati. “Kita tidak sedang meminta mereka menjadi malaikat. Kita hanya meminta mereka menjadi elite ekonomi yang punya rasa malu. Bahwa mereka itu punya utang sosial kepada rakyat,” tegasnya.
Toto berharap, ramadhan bukan hanya dijadikan musim panen semata, tetapi juga bulan solidaritas dan kepedulian. Pada titik inilah, para konglomerat, khususnya mereka yang selama ini sering disebut “9 naga” harus membuktikan bahwa mereka bukan hanya piawai menghitung laba, tetapi juga paham membaca penderitaan sosial.
Jika mereka benar peduli pada negeri ini, lanjut Toto, menjelang Lebaran nanti tidak cukup hanya membagikan ucapan selamat berlebaran dan memasang iklan bertema kebersamaan. Masyarakat butuh tindakan konkret, terukur, dan masif, salah satunya dengan menggelar Bazar Pangan Murah skala besar di kawasan padat penduduk.
“Bagi konglomerat dengan aset triliunan, langkah seperti ini bukan pengorbanan. Ini bahkan belum seberapa. Tetapi bagi rakyat kecil, selisih harga beberapa ribu rupiah pada beras, minyak, gula, atau telur bisa sangat membantu. Jangan sembunyi dibalik CSR seremonial,” papar Toto.
Sudah waktunya publik berhenti dibuai CSR kosmetik. “Foto penyerahan bantuan, spanduk besar, konferensi pers, lalu selesai. Itu bukan kepedulian yang dibutuhkan bangsa ini. Itu hanya ritual pencitraan,” kata dia.
Kepedulian yang dibutuhkan masyarakat adalah yang siap diuji dampaknya. Misalnya, berapa warga yang terbantu, berapa ton pangan yang disalurkan, dimana wilayah sasarannya, berapa hari program berjalan, siapa yang mengawasi, dan apakah benar harga di lapangan turun atau lebih terjangkau.
Toto mengingatkan, jika para konglomerat itu tidak peduli, jangan salahkan publik bila mereka sinis. Mereka harus paham, bukan hanya citra perusahaan yang dipertaruhkan, tapi juga legitimasi sosial. Publik hari ini semakin kritis. Rakyat bisa melihat siapa yang sungguh-sungguh hadir, siapa yang sekadar tampil, dan siapa yang diam saat rakyat sedang sulit.
“Ramadhan dan bencana alam seperti yang terjadi di Sumatra, adalah dua cermin paling jelas untuk menguji siapa para konglomerat itu. Mereka harusnya tahu bahwa Indonesia itu rumah bersama. Siapa pun yang sudah mengambil manfaat paling besar darinya, sudah seharusnya pula memberi kembali paling nyata,” tegasnya.











