Kritik Psikolog terhadap Aksi Komika Indra Frimawan
Aksi yang dilakukan oleh komika Indra Frimawan kembali menjadi sorotan publik setelah diduga melakukan tindakan meludah ke arah Fajar Sadboy dalam sebuah podcast. Peristiwa ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat, termasuk kritik keras dari psikolog Lita Gading. Ia menilai bahwa tindakan tersebut bukan sekadar candaan biasa, melainkan sebuah tindakan yang tidak sopan dan merendahkan martabat seseorang.
Dalam unggahannya di Instagram @litagading, Lita Gading menegaskan bahwa tindakan meludah tidak dapat dibenarkan dalam interaksi antarmanusia. Menurutnya, hal tersebut melanggar norma kesopanan dan penghormatan. “Kita bicara soal adab, ini lagi viral Indra diludahin fajar sadboy, saya nggak kenal siapa Indra,” ujar Lita, dikutip Tribunnews, Jumat (13/2/2026). Ia menekankan bahwa siapa pun yang terlibat, tindakan meludah tetap tidak bisa dibenarkan karena menyangkut etika dasar dalam interaksi antarindividu.
Lita juga mengkritik cara pandang yang terlalu santai terhadap tindakan tersebut. “Orang kalau sudah meludah, itu bukan lagi lucu, tapi sebuah penghinaan, sekalipun kamu bercanda atau seorang komika,” tambahnya. Ia menyarankan agar para tokoh publik lebih bijak dalam bertindak, terutama ketika berada di ruang terbuka. “Tolong batasi yang namanya norma, belajar soal adab, jangan adab dikesampingkan, jangan hanya mementingkan urusan perut kulu,” sambung Lita.
Menurut Lita, interaksi antar sesama manusia harus saling menghormati, bukan memperlakukan orang lain secara tidak pantas. “Disini anda berinteraksi dengan manusia, bukan hewan,” tandasnya. “Ini bukan lucu lagi, ini penghinaan, terlepas fajar terima atau tidak, ini soalnya tidak lucu,” pungkasnya.
Sosok Indra Frimawan
Indra Frimawan dikenal sebagai salah satu pelawak tunggal dan aktor berbakat Indonesia. Ia memiliki nama lengkap Benedictus Nathanael Indra Frimawan, lahir pada 13 Mei 1991. Nama Indra mulai mencuat di dunia stand up comedy berkat gaya komedinya yang khas, absurd, dan tak terduga.
Sejak 2013, Indra aktif bergabung dengan komunitas Stand Up Indo Jakarta Barat, sebuah langkah awal yang menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya. Karier Indra mulai mendapat perhatian publik saat ia bersama komunitasnya mengikuti Liga Komunitas Stand Up yang diselenggarakan Kompas TV pada 2014. Dalam ajang tersebut, Stand Up Indo Jakarta Barat berhasil melaju hingga babak grand final.
Meski harus puas sebagai runner up setelah kalah poin dari Stand Up Indo Medan, pencapaian itu menjadi batu loncatan besar bagi Indra untuk melangkah lebih jauh. Tahun 2015 menjadi momentum penting dalam kariernya. Indra terpilih sebagai salah satu finalis Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim ke-5 (SUCI 5).
Di kompetisi ini, ia bersaing dengan sejumlah komika berbakat, termasuk rekan-rekannya satu komunitas. Dengan gaya absurd yang menjadi ciri khasnya, serta sesekali menyelipkan trik sulap sederhana seperti sulap kartu dan kipas salju, Indra berhasil mencuri perhatian penonton dan juri. Ia melaju hingga grand final dan meraih posisi juara ketiga sebuah prestasi yang mengukuhkan namanya di kancah stand up comedy nasional.
Gaya komedi Indra dikenal bertipe one liner, yakni melontarkan kalimat-kalimat singkat yang padat namun mampu memancing gelak tawa. Materinya sering kali tak terduga, mengandalkan permainan logika yang absurd dengan penyampaian deadpan ekspresi wajah datar tanpa banyak gestur. Di balik kesederhanaannya, tipe komedi ini menuntut ketelitian tinggi dalam penulisan materi, sesuatu yang menjadi kekuatan utama Indra.
Berkat konsistensinya, Indra juga dinobatkan sebagai Komika Persahabatan di SUCI 5. Ia pun kerap disejajarkan dengan komika absurd lainnya yang sukses menembus tiga besar SUCI. Hingga kini, Indra Frimawan dikenal sebagai sosok komika dengan karakter unik tenang, sederhana, namun mampu menghadirkan tawa lewat cara yang tak biasa.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











