"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Siswa SD NTT Meninggal, Ketua BEM UGM Diteror, DPR: Ada Pembungkaman

Ketua BEM UGM Menghadapi Ancaman Teror Setelah Menyampaikan Kritik Sosial

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengalami ancaman teror setelah menyampaikan kritik terhadap pemerintah terkait kasus seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini memicu gelombang kecaman dari berbagai kalangan, termasuk anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi.

Hilman menilai tindakan teror yang dialami Tiyo adalah bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat. Ia menyatakan bahwa kritik yang disampaikan oleh Tiyo merupakan bagian dari hak demokratis yang semestinya dihormati, bukan ditekan. Ia juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut dalang di balik ancaman tersebut.

Perhatian publik terhadap Tiyo bermula ketika ia menyuarakan kasus seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT. Anak tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000,00. Setelah menyampaikan kritik sosial terkait kasus itu, Tiyo mengaku menerima sederet ancaman teror.

Kritik Keras Terhadap Pemerintah

Pada Jumat (6/2/2026), Tiyo mengunggah surat yang dikirimkan oleh BEM UGM kepada UNICEF. Surat dengan bahasa Inggris dan tertanggal Kamis, 5 Februari 2026 serta ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell tersebut diunggah di akun Instagram pribadi milik Tiyo. Dalam suratnya, Tiyo menyampaikan kritikan keras terhadap pemerintah Indonesia, buntut kasus tewasnya siswa kelas IV SD di NTT berinisial YBS yang diduga bunuh diri di dekat sebuah pondok tempat almarhum tinggal bersama sang nenek.

Tiyo menulis: “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?” Yang artinya: “Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?”

Menurut Tiyo, peristiwa tewasnya YBS adalah tragedi kemanusiaan yang tidak seharusnya terjadi. Ia menilai, tragedi tersebut bukanlah takdir maupun insiden terisolasi, melainkan hasil dari kegagalan sistemik. Ia menekankan, hak setiap anak untuk mendapat akses pendidikan dijamin oleh Undang-undang 1945 dan sejalan dengan Pasal 28 dalam Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak. Namun, menurutnya, kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto tidak memihak hal tersebut, dan kasus YBS adalah bukti kegagalan negara untuk melindungi warga yang paling rentan.

Deretan Ancaman Teror yang Dialami Tiyo

Dikutip dari artikel Kompas.com yang tayang pada Jumat (13/2/2026), Tiyo mengaku mendapat sejumlah ancaman teror pada periode 9-11 Februari 2026 setelah menyuarakan kritik sosial di media sosial terkait kasus anak bunuh diri di NTT. Mahasiswa Jurusan Filsafat UGM angkatan 2021 itu mengungkap, dirinya mendapat ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat. Lalu, ia juga mengaku sempat dikuntit oleh dua orang tak dikenal saat sedang berada di sebuah kedai pada Rabu (11/2/2026). Menurutnya, kedua penguntit tersebut adalah laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap. Tak hanya dikuntit, Tiyo juga menduga dirinya dipotret diam-diam.

“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” ujar Tiyo. Tiyo menjelaskan, dua orang yang diduga menguntit dirinya itu sempat dikejar, tetapi akhirnya menghilang. “Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.

Menurut Tiyo, kemungkinan kritik dan suara yang ia sampaikan dan tersebar di media sosial terkait kasus anak bunuh diri di NTT membuat pihak tertentu tersinggung. “Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung,” ucapnya.

Pernyataan Tiyo yang Tidak Takut

Pada Kamis (12/2/2026), Tiyo mengunggah tangkap layar artikel berita online yang bertajuk Ketua BEM UGM Diteror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT dalam akun pribadi media sosial Instagramnya. Dalam unggahannya itu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut maupun gentar dalam menghadapi berbagai ancaman teror. Tiyo juga berterima kasih atas dukungan dari masyarakat Indonesia dan meyakinkan bahwa dirinya akan terus baik-baik saja.

Berikut unggahan Tiyo:
Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di Republik ini, selama itulah penguasa yg zalim tidak akan hidup tenang. Terima kasih untuk Rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja.
Saya akan terus baik-baik saja.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *