Gempa Pacitan dan Potensi Megathrust di Pesisir Selatan Jawa Timur
Gempa yang terjadi di Pacitan telah memicu kewaspadaan terhadap potensi gempa megathrust di pesisir selatan Jawa Timur, termasuk wilayah Banyuwangi hingga Trenggalek. Zona ini berhadapan langsung dengan zona subduksi, yaitu daerah di mana dua lempeng tektonik bertemu.
BMKG menjelaskan bahwa megathrust terjadi akibat tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Fenomena ini memiliki potensi memicu gempa besar hingga magnitudo 9 dan tsunami, meskipun mayoritas gempa yang terjadi berkekuatan kecil.
Hingga saat ini, BMKG mencatat sebanyak 13 zona megathrust di Indonesia dengan potensi magnitudo berkisar antara 7,8 hingga 9,2. Ancaman gempa megathrust kembali menjadi perhatian publik setelah BMKG mengingatkan potensi gempa besar di beberapa wilayah Indonesia.
Peringatan ini muncul menyusul aktivitas kegempaan di selatan Jawa, termasuk wilayah Pacitan dan pesisir Jawa Timur. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa megathrust merupakan zona tumbukan antarlempeng tektonik, tepatnya pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Zona ini membentang di selatan Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan sejumlah daerah pesisir.
Beberapa wilayah yang dicatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim adalah Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek. Seluruh wilayah tersebut berhadapan langsung dengan zona tumbukan lempeng di selatan Pulau Jawa.
Daryono menambahkan bahwa aktivitas gempa di zona megathrust sangat bervariasi. Gempa yang terjadi tidak selalu berkekuatan besar, melainkan justru didominasi gempa kecil. “Jadi gempa yang terjadi sangat bervariasi dalam berbagai magnitudo, bisa kecil, sedang, dan besar. Mayoritas gempa kecil kurang dari magnitudo 5,” ujarnya.
Meski demikian, zona megathrust tetap memiliki potensi melepaskan gempa besar, dengan magnitudonya berkisar mulai dari 7, 8, hingga 9. “Gempa megathrust sendiri tidak bisa diprediksi waktu terjadinya. Tapi, biasanya akan didahului oleh gempa-gempa kecil yang berfungsi sebagai gempa pembuka dan itu bisa dipantau oleh BMKG melalui jaringan pemantauan kegempaan,” katanya.
Oleh karenanya, Daryono menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap megathrust agar tidak salah persepsi. “Edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan sangat penting diketahui masyarakat, terutamanya bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir selatan Jawa Timur yang berhadapan langsung dengan sumber gempa megathrust,” pungkasnya.
13 Wilayah Rawan Megathrust di Indonesia
Hingga saat ini, ancaman gempa Megathrust di Indonesia sudah tinggal menunggu waktu, kata BMKG. Peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut sempat menghebohkan Tanah Air.
Terbaru, BMKG merilis sebaran zona megathrust yang ada di wilayah Indonesia. Gempa megathrust adalah jenis gempa bumi besar yang terjadi di zona subduksi, yaitu wilayah di mana satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya. Kata “megathrust” sendiri berarti “dorongan besar”, mengacu pada patahan besar (thrust fault) di batas antar-lempeng tersebut.
Hal itu disampaikan melalui unggahan akun Instagram resmi mereka, @infobmkg pada Jumat (20/6/2025). Megathrust sendiri adalah zona di mana dua lempeng tektonik bertemu dan salah satunya menyusup ke bawah yang lain. Proses ini menimbulkan penumpukan energi yang suatu saat bisa dilepaskan dalam bentuk gempa besar atau gempa megathrust.
Disebutkan, gempa dari zona megathrust yang banyak terdapat di Indonesia tersebut juga berpotensi menyebabkan terjadinya tsunami. Sebaran zona megathrust dan potensi magnitudo:
- Megathrust Aceh-Andaman: Magnitudo 9,2.
- Megathrust Nias-Simeulue: Magnitudo 8,7.
- Megathrust Batu: Magnitudo 7,8.
- Megathrust Mentawai-Siberut: Magnitudo 8,9.
- Megathrust Mentawai-Pagai: Magnitudo 8,9.
- Megathrust Enggano: Magnitudo 8,4.
- Megathrust Selat Sunda: Magnitudo 8,7.
- Megathrust West-Central Java: Magnitudo 8,7.
- Megathrust East Java: Magnitudo 8,7.
- Megathrust Sumba: Magnitudo 8,5.
- Megathrust North Sulawesi: Magnitudo 8,5.
- Megathrust Philippine: Magnitudo 8,2.
- Megathrust Papua: Magnitudo 8,7.
BMKG menyatakan bahwa istilah “tinggal menunggu waktu” bukan untuk menakut-nakuti, namun sebagai bentuk pernyataan ilmiah. Dalam artian, zona tersebut menyimpan potensi besar memicu gempa besar, namun bukan berarti akan terjadi dalam waktu dekat. Istilah itu digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, sehingga bukan untuk menimbulkan kepanikan.
Segmen megathrust di Selat Sunda, terakhir kali melepaskan gempa besar pada tahun 1757. Hal tersebut dikenal sebagai seismic gap, yaitu wilayah yang secara geologis menyimpan potensi besar karena lama tidak melepaskan energi. Sehingga, meski kini belum terjadi gempa besar akibat megathrust tersebut, potensi hal itu terjadi sangat nyata dan perlu diwaspadai.
Bahkan, beberapa gempa yang terjadi di Indonesia, memiliki pusat atau episenter di segmen atau zona megathrust. BMKG menyatakan, hingga saat ini gempa bumi tidak bisa diprediksi. Sebab, hingga kini belum ada teknologi yang bisa memprediksi waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara pasti.
Persiapan yang Bisa Dilakukan
Mengenai potensi gempa megathrust tersebut, BMKG menyebutkan, setidaknya ada lima persiapan yang bisa dilakukan saat ini:
- Kenali potensi gempa bumi di lingkungan sekitar
- Pahami langkah-langkah sebelum, saat, dan sesudah terjadi gempa bumi
- Pelajari jalur dan rambu evakuasi, titik kumpul, serta dokumen rencana operasi kedaruratan
- Bangun rumah sesuai standar atau tahan gempa
- Ikuti informasi dari kanal resmi BMKG.











