"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

8 Fakta Menarik Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran

Sejarah dan Peran Ayatollah Ali Khamenei dalam Pemimpinan Iran

Ayatollah Ali Khamenei, seorang tokoh penting dalam pemerintahan Iran, memiliki peran yang sangat signifikan dalam sejarah negara tersebut. Dari masa kecilnya hingga menjadi pemimpin tertinggi Iran, kisah hidupnya penuh dengan perjuangan, pengorbanan, dan kebijakan politik yang kompleks.

Keluarga Ayatollah Ali Khamenei Berkeyakinan sebagai Keturunan Nabi Muhammad SAW



Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada tahun 1939 dari orang tua asal Azerbaijan di Mashhad. Ia tumbuh dalam lingkungan sederhana, di mana ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama yang menjauhi kemewahan duniawi. Keluarga ini tinggal di rumah sederhana dengan satu kamar saja. Meskipun hidup sederhana, Javad Khamenei adalah tokoh yang disegani, sering menjadi imam salat di dua masjid di Mashhad. Keluarga Khamenei mengklaim keturunan dari Nabi Muhammad SAW, sehingga dua saudara kandung Ali Khamenei juga mengikuti jejak ayah mereka sebagai ulama. Untuk melegitimasi diri mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, tiga saudara kandung ini mengenakan sorban hitam.

Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah Guru Ali Khamenei



Sebagai seorang ulama terkemuka di daerahnya, Javad Khamenei ingin putra-putranya mengenyam pendidikan agama Islam. Ali Khamenei pun bersekolah di usia 4 tahun, di sekolah Muslim yang disebut maktab. Setelah menempuh pendidikan di Najaf, Irak, pada 1957, ia kembali ke Iran dan menjadi mahasiswa di Qom. Di sana, ia mengambil kelas dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, calon pemimpin Revolusi Iran. Kesadaran aktivisme Revolusioner Islam muncul dalam diri Ali Khamenei setelah mendengar khotbah dari Mutjaba Nawwab Safawi tentang penggulingan Syah dan mengembalikan sistem pemerintahan Iran yang berlandaskan ajaran Islam.

Tidak Ada yang Menyangka jika Ayatollah Ali Khamenei Akan Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran



Meski tidak ada yang menyangka bahwa Ali Khamenei akan menjadi tokoh politik Iran yang sangat disegani, kenyataannya ia menjadi pemimpin tertinggi Iran. Keponakannya, Mahmood Mordankhani, menjelaskan bahwa Ali Khamenei adalah orang yang mencintai puisi, ramah, dan terbuka. Namun, ia juga dikenal sebagai orang yang sederhana. Selama menjadi tahanan di penjara pada 1970-an, Ali Khamenei pernah satu sel dengan seorang aktivis komunis bernama Houshang Asadi. Houshang Asadi menganggap Ali Khamenei sebagai orang yang menyenangkan dan punya selera humor yang baik, tetapi tidak menyangka bahwa ia akan menjadi pemimpin Iran nantinya.

Ayatollah Ali Khamenei Pernah Jadi Presiden Iran Selama 2 Periode Meski Tak Punya Kekuasaan



Ali Khamenei sempat diasingkan dari ibu kota Teheran selama 3 tahun ketika Revolusi Iran meletus. Namun, karena dihormati dan dipercaya oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, ia naik jabatan dalam pemerintahan Iran. Setelah beberapa waktu menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, imam, dan wakil menteri pertahanan, Ali Khamenei terpilih menjadi anggota legislatif sebagai anggota Partai Republik Islam. Ali Khamenei didukung oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dalam pemilihan umum pada Oktober 1981, Ali Khamenei menang dengan 95 persen suara. Namun, presiden Iran pada saat itu hanya jabatan seremonial, karena kekuasaan politik dipegang sepenuhnya oleh perdana menteri.

Ali Khamenei Pernah Menjadi Target dari Upaya Pembunuhan yang Nyaris Menewaskannya



Pada Juni 1981, Ali Khamenei berpidato di sebuah masjid di Teheran. Di sana, sebuah bom yang disembunyikan di dalam perekam pita audio meledak. Akibatnya, lengan kanan Ali Khamenei lumpuh akibat ledakan itu. Tak hanya itu, paru-paru serta suaranya juga mengalami kerusakan. Ia pun harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Dalam masa pemulihan, Ali Khamenei menerima pesan pribadi dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memuji kesetiaan Ali. Ali Khamenei sendiri menganggap kalau keselamatannya itu merupakan tanda dari Allah SWT bahwa ia dipilih untuk melaksanakan tugas yang jauh lebih berat.

Suksesi Ali Khamenei Memerlukan Revisi Konstitusional



Setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia pada 1989, kekosongan dalam pemerintahan Republik Islam Iran terjadi. Awalnya, Hussein Ali Montazeri diasumsikan sebagai calon pengganti. Namun, karena kritiknya terhadap pemerintahan Ayatollah Ruhollah Khomeini, ia kehilangan dukungan dari kalangan politikus Iran. Sebelum meninggal, Ayatollah Ruhollah Khomeini menunjuk Ali Khamenei sebagai penggantinya. Namun, ada keraguan dari beberapa pihak jika Ali Khamenei menerima jabatan tersebut. Kendati begitu, Ali Khamenei akhirnya diangkat menjadi ayatollah, persyaratan untuk menjadi pemimpin tertinggi pun dilonggarkan, dan politisi terkemuka Iran—termasuk calon presiden Ali Akbar Hashemi Rafsanjani—mendukung pengangkatan Ali Khamenei.

Ali Khamenei Memiliki Hubungan yang Panjang dengan Garda Revolusi Iran (IRGC)



Sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989, Ayatollah Ali Khamenei didukung oleh Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Meskipun pernah menjadi pemimpin IRGC, para anggota IRGC tidak begitu yakin dengan pandangan Ayatollah Ali Khamenei sepanjang 1980-an. Namun, pada tahun 1989, Ayatollah Ali Khamenei justru menjadi pemimpin tertinggi Iran, meski tanpa kepercayaan penuh dari para tetua rezim. Untuk memastikan posisinya, Ayatollah Ali Khamenei menegosiasikan kesepakatan dengan IRGC. IRGC pun menerima kesepakatan tersebut dan IRGC telah menopang rezim Ali Khamenei sejak saat itu.

Ali Khamenei Dikenal Sederhana dan Tidak Suka Kemewahan



Contoh hidup sederhana yang ditunjukkan ayahnya masih melekat pada Ayatollah Ali Khamenei sepanjang hidupnya. Meskipun sebagai pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei lebih memilih hidup apa adanya dan tidak berlebihan. Selama masa kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei, pemerintahannya memang jauh dari kata sempurna, salah satunya protes besar-besaran setelah meninggalnya seorang perempuan bernama Mahsa Amini yang sempat viral di jagat maya. Ditambah lagi, hubungan Iran dan Israel semakin memanas, hingga membuat masyarakat dunia ketar-ketir tentang kemungkinan Perang Dunia III.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *