Pengertian Gempa Susulan
Gempa bumi sering kali diikuti oleh gempa kecil yang disebut dengan gempa susulan. Gempa ini biasanya terjadi tidak lama setelah gempa utama dan berada di sekitar pusat gempa utama. Meskipun kekuatan guncangannya lebih rendah dibanding gempa utama, gempa susulan sering kali menyebabkan kerusakan hingga kematian yang lebih parah. Oleh karena itu, gempa susulan selalu menjadi perhatian utama dalam setiap kasus gempa besar.
Proses Terjadinya Gempa Bumi
Secara geologi, Bumi terdiri dari beberapa lapisan seperti inti dalam, inti luar, mantel, dan kerak Bumi. Di antara mantel dan kerak Bumi, terdapat bagian yang tidak utuh menyerupai puzzle yang disebut lempeng tektonik. Lempeng-lempeng ini terus bergerak, saling bertabrakan, dan meluncur melewati satu sama lain.
Pada bagian tepinya, lempeng tektonik memiliki batas lempeng yang terdiri dari banyak patahan kasar. Patahan-patahan ini bisa memicu terjadinya gempa bumi. Ketika patahan-patahan tersebut tiba-tiba tergelincir dan tersangkut di antara patahan lainnya, tekanan di area tersebut meningkat. Saat tekanan mencapai titik maksimal, batuan akan melepaskan energi besar yang merambat dalam bentuk gelombang seismik. Gelombang ini mengguncang bumi dan menyebabkan gempa bumi.
Mengenal Gempa Susulan

Gempa susulan merupakan gempa yang terjadi setelah gempa utama yang lebih besar. Gempa ini terjadi di lokasi dekat pusat gempa utama, biasanya dalam jarak sekitar 1–2 patahan dan selama periode waktu sebelum tingkat kegempaan kembali normal. Gempa susulan dapat terjadi dalam beberapa jam, hari, minggu, bulan, atau bahkan bertahun-tahun setelah gempa utama.
Menurut informasi dari laman Britannica, gempa susulan umumnya paling parah dan sering terjadi pada jam-jam serta hari-hari pertama setelah gempa. Semakin besar magnitudo gempa utama, semakin besar pula kemungkinan gempa susulan yang terjadi.
Kenapa Sering Terjadi Gempa Susulan?

Pelepasan energi mendadak saat gempa utama menyebabkan perubahan tegangan di dalam dan di antara batuan di sekitar pusat gempa. Energi ini dipindahkan ke batuan di sekitarnya, menciptakan tekanan baru atau meningkatkan tekanan yang sudah ada. Ketika tekanan ini menumpuk dan cukup besar, maka akan terjadi gempa susulan.
Gempa-gempa kecil ini cenderung menurun seiring waktu. Gempa susulan terjadi untuk menghilangkan tekanan di antara batuan, agar kembali stabil. Oleh karena itu, gempa susulan sering disebut sebagai proses penyesuaian kembali. Proses ini membantu mengembalikan tekanan di antara batuan ke kondisi semula sebelum gempa terjadi.
FAQ Seputar Gempa Susulan
Mengapa gempa susulan harus terjadi setelah gempa utama?
Sederhananya, gempa utama meninggalkan kondisi kerak Bumi yang tidak stabil. Gempa susulan terjadi karena batuan di sekitar patahan sedang berusaha mencari posisi keseimbangan baru dan melepaskan sisa-sisa tekanan yang masih tertinggal.
Berapa lama biasanya gempa susulan akan berlangsung?
Durasi gempa susulan sangat bervariasi, bisa berlangsung selama beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Secara umum, frekuensi dan kekuatannya akan terus menurun seiring berjalannya waktu sejak gempa utama terjadi.
Mengapa gempa susulan tetap berbahaya bagi manusia?
Meskipun kekuatannya biasanya lebih kecil, gempa susulan tetap berbahaya karena dapat meruntuhkan bangunan yang sudah retak atau rapuh akibat gempa utama. Selain itu, gempa susulan juga bisa memicu tanah longsor di daerah lereng yang sudah tidak stabil.
Penyebab Utama Terjadinya Tsunami
Tsunami tidak hanya disebabkan oleh gempa bumi, tetapi juga oleh berbagai faktor lain seperti letusan gunung berapi, longsoran bawah laut, dan aktivitas vulkanik. Meski demikian, gempa bumi tetap menjadi penyebab utama tsunami, terutama di daerah pesisir dan laut dalam.
Langkah Jepang Menghadapi Gempa Bumi
Jepang memiliki langkah-langkah efektif dalam menghadapi gempa bumi, seperti sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur tahan gempa, dan pelatihan masyarakat. Langkah-langkah ini menjadi referensi penting bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengurangi risiko bencana alam.











