Pembunuhan Keluarga di Aceh Tenggara, Motif Diduga Terkait Klaim Asuransi
Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Tanah Karo berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi di Aceh Tenggara. Korban bernama Iwan Sudarto Simanjuntak (33), warga Desa Lawe Loning Sepakat, Kecamatan Lawe Sigala-gala, ditemukan tewas di pinggir Jalan Lintas Desa Kineppen, Kecamatan Munthe, Kabupaten Karo, pada Minggu 18 Januari lalu.
Iwan ditemukan dalam kondisi luka parah sekitar pukul 03:45 WIB. Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan, pelaku pembunuhan adalah kakak kandung korban sendiri berinisial TS. Selain TS, ada pelaku lainnya yang bertindak sebagai eksekutor, yaitu LN (57), seorang petani asal Desa Sihulambu, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara.
LN ditangkap pada Kamis 22 Januari lalu di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Cikampak, Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Sedangkan TS ditangkap di Polres Tanah Karo ketika sedang berusaha mengelabui polisi saat meminta surat kematian adiknya.
Menurut Kasat Reskrim Polres Tanah Karo AKP Eriks Raydikson Nainggolan, pembunuhan Iwan dilakukan secara rencana oleh kakaknya sendiri, yang menyuruh LN sebagai eksekutor. Hal ini terungkap berdasarkan pengakuan para tersangka dan alat bukti yang diperoleh.
“Dari hasil pemeriksaan, LN mengakui perbuatannya sebagai eksekutor. Ia juga menyebut keterlibatan TS, kakak kandung korban, sebagai pihak yang merencanakan pembunuhan,” kata AKP Eriks.
Polisi membeberkan bahwa motif TS membunuh adik kandungnya diduga dilatarbelakangi klaim asuransi. TS diduga ingin menguasai dana asuransi adiknya tersebut.
“Diduga kuat surat tersebut akan digunakan untuk keperluan klaim asuransi,” ungkap AKP Eriks.
Modus Pembunuhan yang Direncanakan
Modus pembunuhan Iwan Sudarto Simanjuntak dilakukan oleh kakak kandungnya inisial TS, dan LN sebagai eksekutor. Pada Minggu 18 Januari lalu, TS dan LN menjemput korban menggunakan mobil Toyota Avanza BK 1152 UZ di Desa Mardinding, untuk minum-minuman keras di salah satu kafe.
Setelah korban mulai mabuk, kedua pelaku mengajak korban pergi menggunakan mobil dengan alasan ada pekerjaan. Di perjalanan, dalam mobil inilah LN selaku eksekutor membunuh Iwan. Setelah korban meninggal, keduanya membuang jasadnya begitu saja di pinggir Jalan Lintas Desa Kineppen, Kecamatan Munthe, Kabupaten Karo.
“Saat perjalanan, LN melakukan kekerasan terhadap korban hingga meninggal dunia. Jenazah korban selanjutnya dibuang di pinggir jalan.”
Familicide dan Family Annihilation
Pembunuhan keluarga (familicide) adalah jenis pembunuhan atau pembunuhan-bunuh diri di mana seseorang membunuh beberapa anggota keluarga dekat secara berurutan, paling sering adalah anak-anak, pasangan, saudara kandung, atau orang tua. Dalam sebagian kasus, si pembunuh akhirnya bunuh diri dalam bentuk pembunuhan-bunuh diri. Jika seluruh anggota keluarga dibunuh, kejahatan tersebut dapat disebut sebagai pemusnahan keluarga (family annihilation).
Familicide dapat terjadi karena beberapa faktor. Menurut Denise Buiten (dalam The Conversation, 25/2/2020), familycide adalah kejahatan yang berbasis gender (gender-based violence). Kekerasan yang terutama didorong oleh dimensi sosial dan struktural gender. Ini berarti gender memainkan peran penting dalam menentukan siapa yang melakukan kekerasan, siapa yang menjadi sasaran, bagaimana dan mengapa.
Dalam kasus pembunuhan keluarga, penelitian menunjukkan bahwa pembunuhan tersebut hampir secara eksklusif dilakukan oleh laki-laki dalam hubungan keluarga heteroseksual. Riwayat kekerasan dalam rumah tangga merupakan faktor risiko utama. Namun pembunuhan keluarga tidak selalu didahului dengan kekerasan. Keinginan dan rasa berhak untuk mengontrol – terutama atas keuangan dan “unit” keluarga – adalah hal yang umum.
Pembunuhan keluarga sering kali terjadi ketika hilangnya kendali atas wilayah-wilayah tersebut, terutama oleh “kepala rumah tangga” laki-laki. Hilangnya kendali atas domain “maskulin” merupakan inti dari pembunuhan keluarga, meskipun tidak ada riwayat kekerasan dalam rumah tangga yang jelas.
Penyebab Pembunuhan Keluarga
Beberapa pelaku yang tindakannya mungkin tampak “tiba-tiba” telah dijelaskan dalam penelitian bahwa kehidupan mereka terurai dengan cara yang sangat terkait dengan identitas gender mereka. Kemudian, pembunuhan keluarga biasanya sudah direncanakan sebelumnya (premeditated).
Brad Garret (dalam ABCNews, 28/02/2019) menyampaikan bahwa pembunuh keluarga terdorong untuk membunuh keluarga mereka karena sejumlah alasan. Sering kali penyebabnya adalah masalah keuangan. Dan ada kepercayaan bahwa laki-laki, khususnya, akan membunuh keluarga karena mereka kehilangan kemampuan untuk menghidupi keluarga. Dan itu masuk ke dalam identitas ego laki-laki. Kehilangan identitas adalah komponen kuncinya di sini.
Sejatinya tidak ada sebab tunggal dalam kasus-kasus pembunuhan keluarga di Indonesia. Ada yang direncanakan dalam waktu lama. Ada juga yang terjadi karena spontan. Ada yang sebabnya sudah berlangsung menahun sehingga menggumpal menjadi emosi yang meledak suatu waktu. Ada juga yang terjadi karena emosi sesaat yang berproses tidak terlalu lama.
Ada yang disebabkan masalah tekanan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran, kecemburuan dan perselingkuhan, perebutan harta, ataupun provokasi dari pihak ketiga.











