"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Banyak Orang Berpendidikan Tapi Terjebak Cinta Palsu

Tren Penipuan Bermodus Asmara di Indonesia

Dalam satu dekade terakhir, jumlah korban dan nilai kerugian dari penipuan bermodus asmara atau love scam menunjukkan fluktuasi yang signifikan. Pada 2016, tercatat 19 korban dengan kerugian sebesar Rp2,6 miliar. Jumlah tersebut meningkat pada 2017 menjadi 55 korban dengan kerugian Rp1,9 miliar, lalu relatif stagnan pada 2018 dan 2019. Namun, pada 2020 terjadi lonjakan tajam dengan 199 korban dan kerugian mencapai Rp12,6 miliar.

Dalam lima tahun terakhir, pola kejahatan love scam menunjukkan fluktuasi jumlah korban, namun dengan kecenderungan nilai kerugian yang kian membesar. Pada 2021, tercatat 107 korban penipuan berkedok asmara dengan total kerugian mencapai Rp4,9 miliar. Angka tersebut menurun pada 2023, ketika laporan korban susut menjadi 50 orang dengan kerugian sekitar Rp1,83 miliar. Namun, tren itu kembali berbalik pada 2024. Jumlah korban melonjak menjadi 111 orang, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, dengan total kerugian mencapai Rp11,3 miliar.

Meski demikian, eskalasi paling mencolok terjadi pada 2025. Sepanjang 2025, jumlah korban justru menurun menjadi 58 orang, tetapi nilai kerugian melonjak tajam hingga Rp18,8 miliar. Lonjakan ini mengindikasikan bahwa sindikat love scam kian menargetkan korban dengan kapasitas finansial lebih besar atau menggunakan skema penipuan yang lebih kompleks dan sistematis.

Penipuan Daring Bermodus Asmara: Bukan Sekadar Kejahatan Finansial

Penipuan daring bermodus asmara atau online love scam tidak lagi bisa dipahami sekadar kejahatan finansial. Di balik rayuan dan janji cinta, terdapat proses sistematis untuk menundukkan korban secara emosional, psikologis, hingga sosial. Modus ini bahkan kerap menjadikan korban sebagai alat kejahatan lanjutan.

Ketua RSC-WSC Diah Agung Esfandari menyebut love scam sebagai kejahatan berbasis grooming, proses manipulasi bertahap yang bertujuan mengontrol korban secara total. “Online love scam adalah bagaimana scammer memanipulasi korban agar tunduk berdasarkan cinta. Bukan hanya diambil uangnya, tapi korban dibuat mau melakukan apa saja. Itu proses grooming,” kata Diah lewat Podcast Awas KBGO bertajuk Love Scam: Modus KBGO dengan Total Kerugian Mencapai Miliaran.

Menurutnya, scammer sejak awal telah memetakan calon korban yang bisa dieksploitasi lebih jauh. Korban tidak hanya dijadikan sumber uang, tetapi juga ATM berjalan, kaki tangan pengambil dana di bank, bahkan objek eksploitasi seksual. Scammer tahu siapa yang bisa dijadikan ‘budak’.

Bukan Hanya Korban Lemah, Tapi Juga Orang Terdidik

Diah-sapaannya menepis anggapan bahwa korban love scam adalah individu yang lemah secara intelektual atau emosional. Berdasarkan pendampingan yang dilakukan komunitasnya, justru banyak korban berasal dari kelompok berpendidikan, memiliki pekerjaan mapan, stabil secara emosi, dan bermoral baik. Kemampuan scammer dalam membaca psikologi korban membuat siapa pun berpotensi terjebak.

Apalagi, kejahatan ini tidak dijalankan oleh individu tunggal, melainkan komplotan terorganisasi yang terus memperbarui strategi. “Kita bukan cuma berhadapan dengan pelaku, tapi sistem dan sindikat. Mereka selalu improvisasi. Sementara korban di Indonesia terus bertambah,” ujar Diah.

Proses Grooming yang Cepat dan Sistematis

Diah menjelaskan, love scam diawali dari perkenalan melalui akun palsu atau identitas fiktif. Scammer membuat persona yang menarik agar korban merespon. Jika akun tersebut terbongkar, pelaku bisa dengan mudah menyangkal karena tidak pernah menggunakan identitas asli.

Proses grooming bisa berlangsung cepat. Dalam waktu satu minggu, korban dibombardir pesan, perhatian intens, dan kalimat manis yang menciptakan ikatan emosional semu. “Mereka punya guide book. Kalau korban seperti ini, harus pakai pendekatan apa. Kalau mulai curiga, harus bilang apa. Itu semua sudah ada skenarionya,” kata Diah.

Dalam tahap lanjutan, korban mulai diuji, dimintai uang dengan alasan sakit, bisnis, atau darurat. Lalu meningkat ke permintaan dokumen pribadi seperti KTP. Jika semua telah diberikan dan korban mulai menolak, permintaan berubah menjadi pengorbanan lain, termasuk yang bernuansa seksual. “Uang, dokumen pribadi, sampai harga diri, semua sudah diberikan. Dalam seminggu saja, minimal mereka bisa dapat Rp500 ribu dari satu korban,” ujarnya.

Ancaman dan Pemerasan

Ketika korban mulai menyadari penipuan atau menolak permintaan, nada komunikasi berubah. Rayuan berganti ancaman dan pemerasan. Tidak sedikit korban akhirnya dipaksa menjadi bagian dari jaringan penipuan.

Meski kerugian emosional dan material sangat besar, banyak korban memilih diam. Rasa malu dan jijik karena pernah menjalin hubungan virtual membuat mereka enggan melapor. Karena itu, WSC berupaya mendampingi korban agar berani melapor dan memulihkan kembali martabatnya.

“Kami yakinkan mereka, Anda bukan pelaku, Anda korban. Harga diri, keluarga, hidup mereka hancur. Yang kami lakukan adalah mengembalikan mereka sebagai manusia yang berdaya,” kata Diah.

Tantangan dan Solusi

Menurutnya, selama literasi digital dan perlindungan korban masih rendah, sementara penanganan aparat belum sepenuhnya berpihak pada korban, kejahatan ini akan terus menemukan ruang. Love scam pada akhirnya bukan hanya soal cinta palsu, tetapi tentang sistem penipuan yang memanfaatkan kepercayaan manusia.




Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *