"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Basuki, Dari Gareng Hingga Mas Karyo



Setelah keluar dari Srimulat, Basuki mendapat tawaran sebagai Mas Karyo di Si Doel. Awalnya sebagai bintang tamu.

Artikel ini pertama kali terbit dalam majalah edisi Mei 1998 dengan judul “Wes-ewes-ewes, Basuki Siap Melawak Gratisan” | Penulis: Shinta Teviningrum/Yds Agus Surono


Keberhasilan di Panggung dan Layar

Basuki dikenal sebagai pelawak yang memiliki kelebihan dalam menampilkan kelenturan kata-kata, mimik, maupun gerak tubuh dalam merespon lawan main. Di Srimulat, dia menjadi bintang karena kemampuan tersebut. Sementara di Si Doel, ia berperan sebagai Mas Karyo yang polos, ceplas-ceplos, dan terkadang agak menyebalkan.

Dengan sifat nakal dan plesetan kuno, Basuki mampu memainkan setiap kesempatan untuk menghibur. Celetukan lucunya seringkali bisa menggugah tawa, meski tidak jarang menyentil dan membuat risih. Salah satu contoh adalah tembang “Suwe Ora Jamu” yang dipelesetkannya menjadi:

Suwe ora ngono, ngono ora suwe, suwe ora ngono, ngono-ngono ora suwe

Ini bisa membuat wajah orang tertentu memerah. Belum lagi ujaran seperti “Wes-ewes-ewes, bablas angine” yang kemudian menjadi populer dan bahkan pernah digunakan sebagai judul berita di sampul sebuah majalah.

Spontanitas dan kreativitas memang telah menyatu dengan pria berperawakan kecil ini. Tanpa tedeng aling-aling, Basuki mengaku bahwa kalimat seperti “Yen tak pikir-pikir”, “Wes-ewes-ewes”, dan yang lainnya sudah ditentukan oleh sutradara. Ia hanya perlu mengucapkannya dengan menampilkan gerakan yang sesuai untuk situasi itu. Menurutnya, hal ini harus disesuaikan antara ide sutradara dengan “golek”-nya.

Kreativitas dan Tanggung Jawab

Tidak heran jika dalam pembuatan iklan atau sinetron, Basuki sering keluar dari garis naskah karena tiba-tiba mendapat ide memadukan dialog dengan gerak atau mimik tertentu yang dianggapnya cocok. Tujuannya agar iklan itu mengena dan gampang diingat oleh masyarakat.

Ia juga mengakui adanya tanggung jawab moral dalam pekerjaannya. “Nggak enak, wong sudah dibayar, tapi barang yang saya promosikan tidak laku,” katanya serius sambil menambahkan bahwa ia tidak ingin memanfaatkan momen itu untuk jadi lebih terkenal.

Kreativitas dirinya harus selalu dikembangkan agar penampilannya tidak membosankan, klise, atau itu-itu saja. Pengalaman dengan mencermati kejadian di masyarakat, yang hanya diingat-ingat, adalah faktor utama agar dia dapat dengan mudah menampilkan guyonan kocak yang bervariasi.

Masalah ingat-mengingat bagi Basuki memang tidak mudah dilakukan. Terutama bila melawak di panggung, “Angkat tangan, menyerah deh kalau harus menghapalkan joke-joke yang akan dipakai. Karena situasi panggung gampang berubah,” katanya.

Keluarga dan Bakat Seni

Seperti hukum alam, seorang seniman akan menurunkan darah seni pada anaknya. Tanpa bisa menolak prakondisi itu, Basuki kecil yang lahir di Surakarta, 5 Maret 1956, di mata teman-temannya pun memiliki bakat melucu. “Entah ya, mungkin jadi pelawak memang cita-cita saya sejak kecil. Saya cuma senang melihat dagelan dan meniru-niru gaya Bing Slamet di sekolahan,” kenangnya akan masa kecil yang dilakoninya di Semarang.

Bakat itu didapatkannya karena dalam dirinya mengalir darah Pete alias Suwito yang juga mantan anggota Srimulat. Pete dan Basuki memang serupa tapi tak sama. Yang satu bapak, satunya anak. Uniknya, dalam kancah wayang orang yang pada awalnya mereka libati, khususnya Wayang Orang (W.O.) Sri Wanito Semarang, keduanya sama-sama sering mendapat peran sebagai anggota punakawan Gareng.

Karier dan Tantangan

Usai berkarier di W.O. Sri Wanito, Basuki mencoba ikutan di Srimulat. Melalui proses penyesuaian dan belajar beberapa lama, akhirnya dia diterima di Srimulat. Maka, mulai 1981–1986 Basuki pun mengembangkan karier di gudang para pelawak itu.

Sekeluarnya dari Srimulat dia pernah membentuk grup Merdeka bersama Kadir, Timbul, Nurbuat, dan Rohana yang tidak bertahan lama. Tiga orang yang tertinggal yaitu Basuki, Kadir, dan Timbul lalu membangun Batik Grup yang ternyata juga hanya bertahan tiga tahun. Dia pun luntang-lantung sendirian seiring dengan 1988.



Pada masa sulit itu Basuki menempati rumah kos di kawasan Pejompongan, Jakarta. Mungkin tak banyak yang tahu, ketika itu uang Rp 1.500,- untuk bensin tiga hari sudah dirasakannya amat berat. Dia bahkan sempat ditolong oleh anggota W.O. Bharata, mendapatkan tumpangan tidur serta makan. Sampai suatu hari di tahun 1992, datang Tino Karno menyampaikan tawaran Rano Karno untuk mendukung serial Si Doel.

Peran dalam Sinetron

Berawal sebagai bintang tamu hanya untuk dua atau tiga episode dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan 1, akhirnya pada Si Doel III dan IV dia dipercaya sebagai pemain tetap. Namun usaha Basuki untuk menjadi pemain tetap tidak ringan. “Tantangan pertama adalah menghapal dialog, kondisi yang tidak pernah saya temui di panggung. Selain itu belajar akting, dan tentu menyesuaikan diri dengan yang lain,” katanya.

Kerja kerasnya tak sia-sia. Jiwa Mas Karyo tampak pas dalam sosok Basuki. Padahal, “Saya melakukannya dengan biasa-biasa, lugu sajalah. Yah, seperti kehidupan sehari-hari, agar tidak tampak aneh saat syuting. Kalaupun dia dianggap pas jadi orang Jawa, lha wong saya memang orang Jawa.”

Pilihan dan Kesadaran

Di sisi lain ke-sejiwa-annya dengan Karyo, dia pun pernah jadi sasaran tembak kritik. “Pernah diceritakan, Karyo itu suka ngutang tapi berat bayar. Kok kesannya menjelek-jelekkan orang Jawa. Yah, saya ‘kan cuma mengikuti skenario. Apa, ya, mau menjelek-jelekkan orang Jawa, wong saya sendiri orang Jawa,” tuturnya lirih.

Basuki kembali muncul, permintaan untuk turut bermain dalam berbagai pertunjukan pun semakin deras berdatangan. Namun, dia mengaku lebih mengutamakan Si Doel. Mata Basuki menerawang jauh. “Yah, saya dikenal masyarakat lagi, malah dikenal banget, melalui Si Doel. Saya tidak mau melupakan bantuan yang datang tepat pada waktunya, saat saya sedang benar-benar down.” Baginya, inilah jodoh. “Istilahnya, Si Doel adalah istri yang saya cintai, sudah pas cocok benar. Sedangkan kelompok sebelumnya adalah pengalaman pahit kawin-cerai, atau perempuan-perempuan pengganggu,” kembali dia mrenges.

Namun bukan berarti dia tidak ingin mencoba peran di sinetron lain, hanya sayang, rasanya tidak ada sinetronnya yang seberhasil Si Doel. Dia menceritakan pengalamannya bermain dalam sinetron Sama-sama Tahu bersama Tarzan yang dinilainya kurang berhasil karena isinya kurang menggigit.

Basuki juga pernah mendapatkan tawaran peran antagonis, jadi orang sadis. Tapi, “Wah, angel, sulit tenan. Biar pun saya sudah sadis-sesadis-sadisnya, penonton pasti akan ketawa. Saya masih bisa memilih, ‘kan? Nah, sebisanya saya menolak karena saya bukan pemain antagonis, lagi pula bisa-bisa hilang penggemar saya,” ceritanya.

Dia yakin, biasanya sutradara sudah mengetahui karakter calon pemain serta peran apa yang pas untuknya. “Jadi, dengan karakter saya sekarang, pasti. tidak ada adegan yang terlalu sulit, sepanjang masih ada contoh yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya sambil menyebut buku sebagai sumber lain belajar akting.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *