Peresmian Hunian Sementara di Sumatera Barat
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno bersama Menteri Dalam Negeri meresmikan ratusan hunian sementara (huntara) untuk korban bencana di empat kabupaten wilayah Sumatera Barat (Sumbar), pada hari Sabtu (24/1/2026). Peresmian ini mencakup Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Limapuluh Kota, dan Padang Pariaman. Rombongan hanya datang secara langsung ke Kayu Pasak, Agam, sedangkan tiga kabupaten lainnya dilakukan secara virtual.
Di lokasi peresmian, sebanyak 117 unit huntara di Agam dinyatakan siap huni untuk korban galodo. Total huntara yang dibangun di Sumbar mencapai 358 unit. Pemerintah menargetkan warga segera keluar dari pengungsian melalui percepatan pembangunan huntara.
Kabupaten Agam Terdampak Parah
Bupati Agam, Benni Warlis menyampaikan bahwa daerah tersebut merupakan wilayah terdampak bencana terparah di Sumbar, baik dalam hal infrastruktur, korban jiwa maupun kerugian. Ia menjelaskan bahwa sebanyak 117 unit huntara telah selesai dibangun dan akan dihuni oleh 117 kartu keluarga korban galodo di Nagari Salareh Aia dan Salareh Aia Timur.
Selain itu, Pemkab Agam juga telah memberikan Dana Tunggu Hunian (DTH) tahap satu kepada korban terdampak. Hal ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi selama masa pemulihan.
Peran Huntara dalam Pemulihan Bencana
Menko PMK, Pratikno menjelaskan bahwa pemerintah tidak hanya menyediakan huntara, tetapi juga berjibaku memulihkan logistik, jalan, jembatan, telekomunikasi hingga infrastruktur pasca bencana di tiga provinsi di Sumatera. Ia juga menegaskan bahwa huntara memang tidak sempurna, namun masyarakat tidak boleh lama berada di pengungsian karena pentingnya kebersamaan dengan keluarga.
“Huntara dapat membantu memulihkan kembali rumah-rumah masyarakat yang hancur akibat bencana,” ujarnya. “Sehingga, nantinya masyarakat bisa bersama keluarga dan merasa tenang setelah menghuni huntara.”
Desain dan Fasilitas Huntara
Hunian sementara di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, tampak berjajar rapi dengan bentuk menyerupai barak. Secara keseluruhan, terdapat 21 barak dengan lima pintu yang terdiri dari 105 unit. Selain itu, tiga barak lainnya memiliki empat pintu dengan total 12 unit, sehingga jumlah keseluruhan mencapai 117 unit.
Setiap barak huntara berukuran sekitar 8,5 x 6,4 meter. Bangunan tersebut menggunakan dinding asbes dan seng putih, serta telah dicor pada bagian lantai. Permukaan lantai masih tampak kasar dan dilapisi tikar abu-abu bermotif sebagai alas.
Di depan setiap pintu, terpasang stiker bertuliskan nama blok serta kepala keluarga yang akan menempati huntara tersebut. Di dalam, terlihat sejumlah warga sudah mulai menempati unit masing-masing. Ada yang duduk, tidur, hingga bersantai bersama keluarga.
Perlengkapan Dasar dan Bantuan Sembako
Beberapa perlengkapan dasar seperti kipas angin, sapu, serta kasur lipat bertuliskan BNPB telah tersedia di dalam huntara. Selain itu, warga juga menerima bantuan sembako yang beragam, mulai dari minyak goreng, gula, beras, hingga makanan ringan.
Di sekitar kawasan huntara, tampak pula pemasangan bendera marawa untuk menyambut kedatangan para pejabat negara yang dijadwalkan meresmikan bangunan tersebut. Sejumlah menteri yang akan hadir antara lain Menko PMK, Menteri Dalam Negeri, Kepala BNPB, Wakil Menteri Koperasi dan UMKM, serta Wakil Kepala BPS RI.
Tanggapan Warga
Salah seorang warga, Amir, menilai bangunan huntara tersebut cukup layak untuk ditempati para korban galodo di Nagari Salareh Aia dan Nagari Salareh Aia Timur. “Huntara untuk korban galodo ini kualitasnya cukup layak. Total ada sekitar 117 kartu keluarga yang akan menempati lokasi ini,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026), sembari bersantai bersama keluarga di dalam huntara.
Sementara itu, hingga pukul 12.48 WIB, petugas masih berjaga di sekitar lokasi. Warga lainnya tampak berkeliaran di kawasan huntara sambil menunggu kedatangan rombongan menteri yang dijadwalkan tiba sekitar pukul 14.00 WIB.











