"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

3 Fakta Penting Sebelum Pesawat 42-500 Jatuh, Awan Cumulonimbus Menghalangi Pendaratan

Fakta-Fakta Terkait Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung

Pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) jatuh di area pegunungan Gunung Bulusaraung, antara Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan. Insiden ini menimbulkan banyak pertanyaan terkait penyebab kecelakaan yang masih dalam penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Meskipun penyebab pasti belum diketahui, beberapa fakta mulai muncul dan memberikan gambaran mengenai kondisi sebelum kejadian.

Cuaca yang Tidak Menyenangkan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Maros pada saat kejadian relatif stabil. Angin bertiup dengan kecepatan 13 knot dan jarak pandang mencapai 9 km. Suhu udara berada di kisaran 31 derajat Celsius, sedangkan tekanan udara mencapai 1.007 mb. Namun, terdapat awan cumulonimbus yang cukup tebal di ketinggian 1.700 hingga 1.800 kaki. Awan tersebut bisa memengaruhi proses pendaratan pesawat.

Berdasarkan data citra satelit Himawari IR Enhanced, suhu puncak di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C. Hal ini menunjukkan adanya awan tinggi dan tebal di sekitar wilayah tersebut. Meski cuaca tidak ekstrem, keberadaan awan cumulonimbus tetap menjadi perhatian bagi pilot dan petugas pengatur lalu lintas udara.

Masalah Mesin Sebelum Penerbangan

Sebelum kejadian, pesawat ATR 42-500 sempat mengalami masalah mesin tiga hari sebelumnya. Namun, awak kabin tidak menyampaikan keluhan terkait kondisi pesawat ketika pesawat hendak terbang dari Yogyakarta menuju Makassar. Menurut Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta dinyatakan dalam kondisi baik dan tidak ada keluhan.

Pesawat dengan registrasi PK-THT terbang pada pukul 08.08 WIB dari Bandara Adisutjipto menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Meski ada masalah mesin sebelumnya, tidak ada keluhan yang disampaikan selama penerbangan terakhir.

Keluar Jalur Saat Mendarat

Saat pesawat hendak mendarat di runway 21, pesawat keluar jalur dan melewati Araja serta Openg sebelum akhirnya menabrak Gunung Bulusaraung. Proses pendekatan seharusnya dimulai dari poin Araja, kemudian menuju Openg dan berakhir di Kabip. Namun, pesawat tidak melewati poin Araja dan bahkan tidak menuju Openg meskipun diminta untuk melakukannya.

Akibatnya, pesawat diarahkan ke Kabip untuk melakukan intercept localizer pada sistem pendaratan otomatis. Namun, pesawat tetap keluar jalur hingga akhirnya mengalami kecelakaan. Komunikasi antara pilot dan pengatur lalu lintas udara (ATC) juga terputus sebelum pesawat berhasil kembali ke jalur pendaratan.

Korban dan Operasi Pencarian

Pesawat ATR 42-500 membawa tujuh kru dan tiga penumpang. Tiga penumpang adalah pegawai Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP yang sedang melakukan misi pengawasan sumber daya laut melalui udara. Setelah hilang kontak, tim SAR gabungan dikerahkan untuk melakukan pencarian melalui jalur darat dan udara.

Kondisi cuaca saat kejadian dilaporkan berawan dengan jarak pandang yang memungkinkan penerbangan. Namun, medan yang berupa pegunungan karst dengan hutan lebat serta tebing terjal menjadi tantangan utama bagi tim pencari. Upaya pencarian juga terkendala kabut tebal, hujan, dan angin kencang.

Pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, patroli udara mendeteksi serpihan berwarna putih di lereng Gunung Bulusaraung. Serpihan tersebut dikonfirmasi sebagai bagian dari pesawat ATR 42-500. Tim SAR berhasil menemukan beberapa bagian besar pesawat seperti jendela, ekor, dan badan pesawat, serta banyak serpihan kecil tersebar di berbagai titik.

Operasi pencarian intensif membuahkan hasil ketika tim SAR gabungan menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki beserta sejumlah barang pribadi penumpang. Korban ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter. Satu korban berjenis kelamin perempuan juga ditemukan pada Senin (19/1/2026) di jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

Daftar Kru dan Penumpang

Berikut daftar lengkap kru dan penumpang pesawat ATR 42-500:

Daftar Kru Pesawat:
* Andy Dahananto (Kapten/Pilot)
* Farhan Gunawan (Kopilot)
* Hariadi (Flight Operation Officer)
* Restu Adi P (Engineer)
* Dwi Murdiono (Engineer)
* Florencia Lolita (Awak Kabin)
* Esther Aprilita S (Awak Kabin)

Daftar Penumpang:
* Deden Maulana
* Ferry Irawan
* Yoga Naufal

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *