"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Nadiem Kembali ke Keluarga di Tengah Sidang



JAKARTA,

Ruang sidang Hatta Ali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada pagi itu terasa lebih seperti ruang keluarga. Di tengah borgol yang dilepas dan rompi tahanan yang ditanggalkan, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim disambut oleh elusan istri, pelukan dukungan, serta kehadiran kedua orang tuanya.

Nadiem berjalan melewati jalur menuju pintu kayu megah di sebelah resepsionis. Layar komputer menunjukkan tanggal Senin, 19 Januari 2029. Ia mengangkat kepala setelah mendengar bisikan di sekitarnya. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

Mantan Menteri ini dijadwalkan mengikuti sidang lanjutan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook. Sekitar pukul 10.19 WIB, Nadiem digiring dari ruang tahanan sementara di basement menuju ruang sidang Hatta Ali di lantai satu.

Sentuhan pertama Franka

Tangan yang masih diborgol itu dikatupkan ke depan dada sejenak, sebelum turun lagi mengikuti langkah pria bertoga hitam di depannya. Di belakang Nadiem yang berdiri tegap, Franka Franklin, istrinya, terus menatap lantai.

Sesampainya di ambang pintu kayu besar, tangan Franka spontan menyentuh punggung Nadiem yang baru saja mengangkat kedua tangan setinggi pinggang di hadapan petugas berseragam coklat Kejaksaan. Petugas yang membawa Nadiem bergegas memutar anak kunci. Belum selesai borgol dilepas, dengan mata yang masih menatap lempeng besi di tangan Nadiem, tangan Franka mengelus punggung suaminya. Elusan itu jatuh di rompi pink yang masih dikenakan Nadiem.

Borgol terbuka, senyum mengembang

Saat tangan hendak dibebaskan, Franka berhenti mengelus punggung suaminya dan bergegas meraih tas hitam yang sejak tadi dipegang Nadiem. Mata Franka belum lepas dari borgol yang baru setengah terbuka. Di saat yang sama, Nadiem terlihat bicara sepatah dua patah kata kepada pria bertoga di samping petugas kejaksaan.

Ketika pergelangan tak lagi dikunci lempengan logam, Nadiem menengadah. Senyum mengembang lebar di wajahnya, menyambut dukungan dari para pengunjung sidang. Masih di ambang pintu, sahutan dari para ojek online (ojol) sudah terdengar, menyemangati Nadiem. Franka ikut menoleh dan tersenyum.

Dengan satu tangan dikepalkan dan diangkat ke samping kepala, Nadiem melangkah masuk ke ruang sidang. Baru berjalan satu langkah, Franka menarik lengan Nadiem cepat, meminta rompi pink itu ditanggalkan. Kain label tahanan itu pun diserahkan ke petugas kejaksaan yang memegang borgol.

Dukungan ojol dan orangtua

Franka terlihat mengekor langkah Nadiem, tapi ada ruang kurang dari satu meter antara mereka. Di tengah riuhnya dukungan untuk Nadiem, ada dua sosok dengan rambut abu-abu dan yang sudah memutih duduk tenang di bangku pengunjung paling depan. Dengan satu tangan bertumpu di tongkat kayu, Nono Anwar Makarim, ayah Nadiem, terus duduk hingga kepala sang putra mencium tangannya. Setelah keningnya menyentuh telapak tangan sang ayah, Nadiem segera mencium pipi Nono yang sudah keriput.

Hal yang sama dilakukan Nadiem ketika menghampiri sang ibu, Atika Algadrie yang duduk di samping Nono. Begitu selesai mencium tangan dan pipi orang tuanya, Nadiem beranjak untuk menyalami pengunjung di ruang sidang sebelah kanan untuk sejenak sebelum kembali ke orang tuanya.

Saat itu, jam menunjukkan pukul 10.21 WIB. Nadiem duduk di tengah ayah dan ibunya. Ketika sang putra duduk di ruang kosong antaranya dan suami, Atika yang memakai baju terusan atau dress dengan corak menyerupai batik kawung, duduk terdiam. Tangan Atika yang tadi memegang sandaran kursi beralih menyentuh punggung Nadiem. Selama beberapa menit, Nadiem terlihat kaku. Barang semenit dia mengatur napas dengan tubuh terduduk tegak dan kepala menghadap lurus ke depan.

Menunggu hakim, menunggu waktu

Sementara, ayah Nadiem, Nono, terlihat menatap lurus ke depan dengan kedua tangan menggenggam erat gagang tongkat yang membantunya masuk ke ruang sidang. Di belakang Nono, duduk Franka yang ketika duduk langsung menyender pada kerabat yang ikut mengawal sidang. Kepala Franka ditaruh di bahu perempuan berkacamata itu. Sementara, tangan kanannya refleks meraih lengan kerabat yang ditaruh di atas paha. Tangan Franka itu lantas dielus dan ditepuk lembut oleh pengunjung sidang itu.

Berhubung kursi di depan penuh, Franka tidak bisa ikut duduk di samping Nadiem atau mertuanya. Dia hanya bisa menatap punggung Nadiem yang terus dielus Atika sembari keduanya masih saling berbincang. Masih dengan tangan Atika menyentuh punggungnya, Nadiem menoleh untuk mengajak ngobrol sang ayah.

Dakwaan Nadiem di Kasus Chromebook

Dalam kasus ini, eks Mendikbudristek Nadiem Makarim bersama tiga terdakwa lainnya disebut telah menyebabkan kerugian keuangan negara senilai Rp 2,1 triliun. Nadiem didakwa memperkaya diri sendiri senilai Rp 809 miliar. Angka ini disebut berasal dari investasi Google ke Gojek atau PT AKAB.

Nadiem disebutkan telah menyalahgunakan kewenangannya sehingga membuat Google menjadi satu-satunya penguasa pengadaan TIK, salah satunya laptop, di ekosistem teknologi di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan mengarahkan agar kajian pengadaan mengarah pada satu produk, yaitu perangkat berbasis Chrome yang merupakan produk Google.

Perbuatan ini Nadiem lakukan bersama tiga terdakwa lainnya, yaitu Ibrahim Arief, eks Konsultan Teknologi di lingkungan Kemendikbudristek; Mulyatsyah, Direktur SMP Kemendikbudristek tahun 2020–2021 sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA); serta Sri Wahyuningsih, Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek tahun 2020–2021 yang juga menjabat sebagai KPA.

Atas perbuatannya, Nadiem dan terdakwa lainnya diancam dengan Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *