Sejarah dan Peran Raden Hanan sebagai Walikota Palembang Pertama
Raden Hanan adalah sosok penting dalam sejarah pemerintahan Kota Palembang, terutama pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menjadi walikota pertama di era kemerdekaan dan juga pribumi pertama yang memimpin kota ini setelah enam walikota sebelumnya berasal dari pemerintahan kolonial Belanda. Unggahan Instagram @rajakelir tentang perjalanan hidup Raden Hanan menarik perhatian warganet, karena mengungkapkan kiprahnya sebagai tokoh penting dalam sejarah kota ini.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Nama “Raden” pada nama Raden Hanan merupakan gelar yang menunjukkan bahwa ia termasuk golongan darah ningrat, yaitu keturunan raja atau bangsawan lainnya. Hal ini juga terdapat pada nama ayahnya, yakni Raden Hanafiah, sedangkan kakeknya memiliki gelar pangeran, yakni Pangeran Fabil. Latar belakang keluarganya yang berkecukupan membuat Raden Hanan sejak kecil terbiasa dengan lingkungan birokrasi dan kepemimpinan lokal.
Pendidikan formal Raden Hanan dilakukan di sekolah-sekolah elite pada era kolonial Belanda. Ia tercatat mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan akhirnya menempuh pendidikan di Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). OSVIA merupakan sekolah khusus yang mencetak calon pegawai pemerintahan pribumi atau pamong praja. Pendidikan di OSVIA membentuk karakter Raden Hanan sebagai sosok yang disiplin, terlatih dalam administrasi pemerintahan, serta memahami sistem birokrasi kolonial.
Karier Politik dan Kepemimpinan
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Raden Hanan mulai berkarier sebagai pegawai pamong praja di wilayah Sumatera Selatan. Pengalaman lapangan yang ia peroleh sejak muda membuatnya memahami kondisi sosial masyarakat serta dinamika pemerintahan daerah, baik pada masa Belanda maupun Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, Raden Hanan sudah dikenal sebagai tokoh lokal yang memiliki pengaruh. Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Wedana Muara Enim.
Peran tersebut menjadi batu loncatan penting dalam kariernya hingga akhirnya dipercaya memimpin Palembang pada masa awal kemerdekaan. Raden Hanan tercatat sebagai Walikota Palembang pertama di era kemerdekaan, menjabat pada periode 1945 hingga 1947. Jabatan ini hanya berlangsung sekitar 3 tahun karena situasi politik dan pemerintahan Indonesia pada masa awal kemerdekaan masih sangat belum stabil.
Peran di Tingkat Nasional
Kariernya berlanjut di tingkat nasional. Pada 20 Februari hingga 16 Agustus 1950, Raden Hanan dipercaya menjadi anggota Senat Republik Indonesia Serikat (RIS) mewakili Negara Sumatera Selatan. Ia kemudian ditunjuk sebagai Residen Palembang sejak 1 Juli 1950, dan kembali dilantik secara resmi pada 1 Februari 1954 melalui surat pengangkatan dari Presiden Soekarno.
Kehidupan Pribadi dan Kematian
Raden Hanan lahir di Palembang, 5 November 1898, dan wafat di kota yang sama pada 31 Oktober 1979 dalam usia 80 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman para Sultan Palembang, Kawah Tengkurep. Istri Raden Hanan, Ratna Asmira, justru telah lebih dahulu diabadikan sebagai Jalan Ratna yang terletak di kawasan Talang Semut, Kota Palembang.
Nama Raden Hanan dalam Kenangan Masyarakat
Nama Raden Hanan kembali mencuat ke publik setelah terjadi kekeliruan penggunaan foto dirinya yang tertukar dengan foto Walikota Palembang kedua, M.R. Sudarman Ganda Subrata. Peristiwa tersebut berujung pada permintaan maaf dari Pemerintah Kota Palembang serta wacana pengabadian nama Raden Hanan sebagai salah satu nama jalan di kota tersebut.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











