Pengertian Child Grooming
Child grooming, atau yang dikenal juga sebagai pembiusan anak, merupakan proses manipulasi yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, rasa percaya, dan koneksi dengan seorang anak. Proses ini biasanya dilakukan oleh individu yang memiliki niat jahat, seperti memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan seksual terhadap anak.
Salah satu kasus yang paling dikenal adalah kisah Aurelie Moeremans, seorang aktris sekaligus penyanyi Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban child grooming saat berusia 15 tahun melalui buku yang berjudul Broken Strings. Dalam penjelasannya, Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, menyatakan bahwa tujuan dari child grooming adalah untuk memanipulasi atau melakukan kekerasan seksual terhadap anak.
Child grooming sering dikaitkan dengan tindakan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Namun, bagaimana para pelaku melakukan hal tersebut? Berikut beberapa cara yang digunakan oleh pelaku untuk memperdayai anak-anak.
Cara Pelaku Child Grooming Bekerja
Membangun Relasi dengan Korban
Child grooming termasuk salah satu bentuk kekerasan seksual terhadap anak, dan kekerasan ini tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Menurut Women’s Reproductive Health Center (WRHC), pelaku akan mencoba membangun relasi dengan korban melalui berbagai cara. WRHC adalah pusat kajian kesehatan reproduksi perempuan Indonesia yang lahir dari kesadaran bahwa kesehatan perempuan adalah pondasi bagi lahirnya generasi yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Menurut Novita Rina Antarsih, M.Biomed, dalam bab Child Grooming di buku tersebut, child grooming dilakukan dengan cara anak didekati, dibujuk dengan menggunakan berbagai teknik agar anak dapat diakses dan dikontrol untuk melakukan aktivitas seksual.
Pelaku umumnya memiliki akses, waktu, dan keterampilan interpersonal yang membuat mereka mampu membuat anak secara tidak sadar “bekerja sama” dengan para pelaku. Mereka pun terampil dalam memilih, mengidentifikasi korban termasuk kebutuhannya, merayu korban yang rentan, mengendalikan korban, dan mengatur waktu yang dibutuhkan untuk mendekati korban.
Tidak Dilakukan Secara Terang-terangan
Farraas menjelaskan bahwa proses child grooming tidak dilakukan secara terang-terangan atau dengan paksaan fisik seperti penculikan. Sebaliknya, pelaku menggunakan pendekatan halus seperti memberikan perhatian, menunjukkan rasa sayang, atau menciptakan situasi yang membuat anak merasa nyaman.
Tujuan utama pelaku adalah meraih kepercayaan anak, sehingga mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi. Misalnya, pelaku sering memberikan perhatian melalui pesan teks, menunjukkan kepedulian berlebihan, memberikan hadiah, sering memuji, dan mengapresiasi. Ketika kepercayaan sudah terbangun, pelaku dapat mulai membuat permintaan-permintaan, yang umumnya bernuansa seksual.
Beraksi di Dunia Nyata
Dalam kasus Aurelie, proses grooming lebih banyak terjadi di dunia nyata, mulai sejak pertemuan di lokasi syuting iklan. Lewat bukunya, Aurelie mengungkapkan bagaimana seorang laki-laki bernama Bobby (bukan nama sebenarnya) yang kala itu sudah berusia 29 tahun, mulai mendekatinya. Sejak pertama kali saling kenal, Bobby mulai mengirim pesan-pesan lucu, menunggu Aurelie selesai syuting sampai esok pagi, bahkan mengantar Aurelie sekeluarga pulang.
Seiring berjalannya waktu, Aurelie mulai terjerat dan terjebak dalam manipulasi yang Bobby lakukan.
Beraksi di Dunia Maya
Selain beraksi di dunia nyata, teknologi yang semakin canggih juga sering dimanfaatkan oleh para predator anak-anak untuk menjaring korbannya. Novita menjelaskan bahwa software yang digunakan pelaku child grooming biasanya berupa aplikasi game online yang sering digunakan korban. Pelaku juga menggunakan situs web dari berbagai media sosial, dan aplikasi pesan untuk menghubungi korban.
Mereka menggunakan platform tersebut untuk mempelajari tentang anak-anak atau remaja, bagaimana mereka melalui profil online mereka, dan menggunakan informasi tersebut untuk menjalin hubungan. Selanjutnya, ketika sudah mulai dekat di dunia maya, pelaku child grooming dan korban akan saling bertukar nomor telepon agar bisa melakukan video call dengan korban.
Pelaku juga menyuruh korban melakukan hal-hal bersifat pornografi untuk direkam oleh tersangka, dan menggunakan rekaman tersebut untuk mengancam korban agar mau melakukan aksi serupa secara berulang kali.
Memberi Perhatian Secara Berlebihan
Sering kali, para pelaku child grooming memberikan perhatian secara berlebihan. Farraas menjelaskan bahwa tujuan awalnya adalah meraih kepercayaan anak, sehingga anak mungkin tidak menyadari bahwa ia sedang dimanipulasi. Contohnya, pelaku sering memberikan perhatian melalui pesan-pesan teks, menunjukkan kepedulian berlebihan, memberikan hadiah, sering memuji, dan mengapresiasi.
Ketika kepercayaan sudah terbangun, pelaku dapat mulai membuat permintaan-permintaan, yang umumnya bernuansa seksual. Misalnya, meminta foto, hingga mengarahkan anak untuk melakukan tindakan seksual yang tidak sesuai usianya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











