Suasana Syahdu di Masjid Agung Kota Tasikmalaya
Pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026, suasana syahdu menyelimuti Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Para pecinta roda dua dan roda empat yang tergabung dalam berbagai komunitas kembali menggelar agenda rutin bulanan mereka, SATMORI (Saturday Morning Religious). Acara ini menjadi momen penting bagi para peserta untuk memulai tahun baru dengan kekhusyukan dan semangat spiritual.
Kehadiran sosok penceramah kondang Ustadz Shufi Zainal Mutaqin, atau yang akrab disapa Ustadz Anti Galau, menjadi magnet utama bagi para jamaah yang hadir. Meskipun acara dilaksanakan di tengah suasana libur tahun baru yang menyebabkan jumlah peserta tidak membludak seperti biasanya karena banyak anggota yang masih berlibur di luar kota, kekhusyukan acara tidak berkurang sedikit pun.
Para pejuang shubuh dari berbagai klub otomotif tetap setia hadir untuk memulai lembaran baru tahun ini dengan sujud berjamaah. Ini menunjukkan betapa kuatnya komitmen mereka untuk menjaga ketaatan kepada Sang Pencipta meski dalam situasi yang tidak sepenuhnya ideal.
Pesan “Anti Galau” di Awal Tahun
Dalam tausiyahnya, Ustadz Shufi Zainal Mutaqin memberikan siraman rohani yang segar dan relevan dengan kehidupan pecinta mesin. Sesuai dengan julukannya, ia mengajak para peserta untuk membuang rasa galau dalam menghadapi tahun 2026 dan menggantinya dengan ketaatan kepada Sang Pencipta.
“Awal tahun bukan sekadar ganti kalender, tapi ganti niat. Jangan galau soal rezeki atau urusan dunia, yang penting ‘mesin’ iman kita tetap dipanaskan dengan sholat berjamaah,” ujar Ustadz Shufi di hadapan para anggota komunitas.
“Tidak terasa sekarang sudah di tahun 2026 dan waktu akan terus berjalan maju. Bulan Rajab berganti menjadi bulan Sya’ban. Maka celakalah orang yang tidak mengetahui kadar kemampuannya,” lanjutnya.

“Celaka bagi orang yang tidak tahu diri, setiap tahun keadaannya tetap begitu saja, tidak ada perubahan,” kata penceramah muda ini.
“Ibadah sholat masih karena terpaksa, sedekah pun masih merasa terpaksa. Tidak apa-apa jika dimulai dengan terpaksa, namun jika tidak disertai dengan keikhlasan, itulah yang berbahaya. Oleh sebab itu memasuki tahun 2026 ini mari kita perbaiki iman, Islam, ketakwaan, serta keikhlasan kita,” tegas Ustadz Anti Galau.
Kebersamaan di Halaman Masjid
Setelah rangkaian acara di dalam masjid usai, suasana kekeluargaan semakin terasa saat para peserta bergeser ke halaman Masjid Agung. Tidak langsung membubarkan diri, para pecinta otomotif ini melanjutkan acara dengan ngopi bersama.
Asap kopi yang mengepul di udara pagi Kota Tasikmalaya yang sejuk menambah hangatnya obrolan antar komunitas. Dalam sesi ngopi bareng ini, sekat-sekat antar klub kendaraan hilang, digantikan dengan gelak tawa dan diskusi ringan. Ustadz Anti Galau pun tampak membaur, ikut menikmati kopi sambil sesekali melayani pertanyaan santai dari para peserta.
Agenda Rutin sebagai Pengingat
Pihak penyelenggara berkomitmen agar SATMORI tetap eksis sebagai agenda tetap di setiap awal bulan. Meski peserta kali ini terbatas karena faktor libur panjang, semangat untuk memakmurkan masjid tetap menjadi prioritas utama.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Bendahara SATMORI, Nandang Ginanjar atau Abah. “Kami akan senantiasa berupaya melaksanakan Satmori setiap awal bulan dengan harapan jamaah kembali meriah dan semua komunitas hadir seperti sedia kala, meskipun saat ini antusiasme sedikit berkurang karena faktor libur awal tahun, hal tersebut justru menjadi penyemangat bagi pengurus untuk lebih giat lagi mengajak saudara-saudara agar dapat hadir kembali di SATMORI,” tutur Abah.
SATMORI Sabtu pagi di awal tahun 2026, menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sejauh apa pun roda kendaraan menggelinding dan secepat apa pun mesin memacu adrenalin, pada akhirnya, sujud di rumah-Nya jugalah tempat terbaik untuk mengistirahatkan jiwa. Karena di jalanan kita mencari kawan, namun di masjid kita menemukan tujuan.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











