Pengalaman Liburan di Kampung Halaman yang Mengajarkan Kesederhanaan
Mudik selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh para perantau. Terlebih bagi mereka yang sudah lama meninggalkan kampung halaman sejak usia belia. Saya sendiri merantau sejak lulus SMA karena harus sekolah di ibu kota, sebuah SMA favorit satu kabupaten Ciamis, lalu kuliah di Bandung semakin menjauh dari tanah kelahiran.
Rasa rindu pada kampung halaman kerap datang tiba-tiba. Rasanya kampung halaman selalu mengajak pulang, lagi dan lagi. Karena itu, ketika masa liburan tiba adalah waktu yang tepat untuk mengobatinya.
Libur panjang akhir tahun kali ini saya manfaatkan untuk kembali ke Desa Indragiri, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis. Sebuah desa yang bukan sekadar tempat kelahiran, tetapi juga ruang tumbuh, belajar, dan merajut mimpi.
Di sanalah saya pertama kali mengenal kehidupan—minum dari airnya yang jernih, menghirup udaranya yang bersih, serta menyatu dengan alam dan kearifan lokal yang sederhana namun bermakna. Tak heran jika setiap orang yang pernah meninggalkan kampung halaman dengan segala kesempurnaan ciptaan-Nya, akan selalu menyimpan rindu untuk kembali.
Menariknya, liburan di kampung halaman bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga menghadirkan pengalaman berharga yang nyaris tak membutuhkan biaya besar. Biaya liburan hemat dan tak menguras isi kantong.
Ada banyak serba-serbi unik yang rasanya sayang jika tidak saya tuliskan, sebagai kenangan sekaligus pengingat bahwa kebahagiaan sebenarnya bisa hadir dari kesederhanaan. Hal-hal tersebut adalah:
-
Silaturahmi dengan berjalan kaki
Cara kami bersilaturahmi ke rumah saudara adalah dengan berjalan kaki sejauh tiga hingga empat kilometer. Di kampung, tidak semua orang memiliki kendaraan bermotor. Kalaupun ada, kondisi jalan yang terjal sering membuat orang berpikir dua kali untuk menggunakannya jika lokasi rumah saudara ada di lokasi yang berada di lereng bukit. Terutama bagi perempuan rute tersebut sangat menakutkan jika dilewati dengan membawa kendaraan sendiri. Maka berjalan kaki menjadi pilihan utama. Meski melelahkan, justru di sanalah letak kenikmatannya—berbincang sepanjang jalan, menyapa alam, dan merasakan kedekatan yang jarang ditemui di kota. -
Makan buah yang dipetik langsung dari kebun saudara
Setibanya di rumah saudara, suguhan yang disajikan pun sederhana namun penuh rasa. Selain opak dan kripik khas pilemburan, kami disuguhi buah-buahan hasil petikan sendiri seperti markisa dan nanas. Kebun berada tepat di samping rumah, sehingga buah bisa dipetik langsung saat itu juga. Rasanya segar, alami, dan terasa lebih nikmat karena disertai cerita. Perjalanan di kampung juga menghadirkan sensasi tersendiri ketika harus melewati jalan berbatu dari batu kali. Bongkahannya kasar dan tidak rata, menghadirkan rasa nyeri kecil di telapak kaki. Namun justru sensasi itulah yang membuat pengalaman berjalan menjadi tak terlupakan. -
Turun ke sungai dan main air di sana
Liburan ke kampung halaman rasanya belum lengkap tanpa turun ke sungai. Airnya masih jernih dan bersih, jauh dari limbah. Sekadar merendam kaki saja sudah cukup membuat tubuh dan pikiran terasa segar. Sungai ini berjarak sekitar 2,5 kilometer dari rumah, dengan jalanan menurun yang membuat langkah terasa lebih ringan. Nama tempatnya Handiwung—sebuah kemewahan alam yang kini sulit ditemukan di perkotaan. -
Menemukan Hanjeli, tanaman yang sudah sangat jarang ditemukan
Di sela-sela perjalanan, saya juga menemukan kembali tanaman hanjeli yang kini semakin langka. Bahkan sejak kecil pun tanaman ini sudah jarang dijumpai. Hanjeli biasanya diolah menjadi bubur suro yang hanya hadir setahun sekali, saat Tahun Baru Islam. Meski saya sudah lupa rasanya, ingatan tentang bijinya yang dulu sering dijadikan kalung, gelang, tasbih, atau hiasan figura masih tersimpan rapi. -
Menikmati nasi tiwul hangat buatan uwak
Kenangan lain yang tak kalah hangat adalah menikmati tiwul buatan uwak. Makanan berbahan dasar singkong ini dulu menjadi solusi agar keluarga tidak boros beras. Dimakan hangat dengan parutan kelapa dan ikan mujair goreng, rasanya sederhana namun mengenyangkan. Ayah sering bercerita, dari makanan seperti inilah mereka belajar hidup cukup dan bersyukur. -
Membuat kue Ketimus untuk dinikmati bersama
Malam hari pun tak kalah seru. Uwak datang membawa daun pisang dan parutan singkong, mengajak membuat kue ketimus. Kami membungkus adonan bersama-sama, mengisi singkong parut dengan gula kelapa, lalu mengukusnya hingga matang. Ketimus hangat yang dimakan bersama terasa istimewa, bukan karena rasanya semata, tetapi karena kebersamaan yang tercipta.
Penutup
Liburan di kampung halaman benar-benar mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan pengeluaran. Dengan biaya liburan hemat, saya bisa pulang, tenang, kenyang, dan bahagia. Bahkan, jika direnungkan lebih dalam, kampung halaman menawarkan lebih dari sekadar liburan—ia memberi pelajaran hidup tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa cukup. Tak heran jika bagi saya, pulang kampung selalu menjadi bentuk liburan terbaik dengan biaya liburan hemat namun kaya makna.











