"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Fakta Terbaru: Semua Korban Ditembak dalam Penyerangan Tambang Emas Ratatotok

Perkembangan Terbaru Kasus Penyerangan dan Pembunuhan di Tambang Emas Ratatotok

Polres Minahasa Tenggara telah mengungkapkan perkembangan terbaru terkait penyidikan kasus penyerangan dan pembunuhan yang terjadi di area pertambangan emas Ratatotok, Mitra, Sulawesi Utara. Kasus ini menimbulkan korban jiwa dan berbagai barang bukti yang diamankan oleh pihak kepolisian.

Semua Korban Meninggal Ditembak

Dalam hasil autopsi, tiga korban yang meninggal dalam kasus ini semuanya ditemukan tertembus peluru. AKP Lutfi Arinugraha Pratama, Kasat Reskrim Polres Mitra, menjelaskan bahwa dari hasil otopsi, ketiga korban tewas akibat tembakan. Dirinya juga menyebut adanya satu selongsong peluru yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).

Menurutnya, ukuran peluru tersebut tidak sama dengan pistol yang biasa digunakan oleh polisi. Peluru tersebut diduga berasal dari senapan angin yang sering dibawa oleh para penambang ke lokasi tambang PETI. Hal ini menunjukkan bahwa senjata yang digunakan dalam peristiwa tersebut adalah senapan angin.

9 Orang Ditetapkan sebagai Tersangka

Pihak kepolisian telah menetapkan sembilan orang sebagai tersangka dalam kasus ini. AKP Lutfi menjelaskan bahwa penyidik masih terus mendalami kasus tersebut. Dalam proses penyidikan, pihaknya menemukan bahwa peristiwa ini dipicu oleh sengketa lahan tambang.

Awalnya, salah satu kelompok ingin bekerja mencari rejeki di lokasi tambang yang diklaim milik oknum berinisial SM. Kelompok ini awalnya ingin berbicara baik-baik, tetapi terjadi perdebatan yang memicu situasi tidak terkontrol. Pihak kepolisian meminta masyarakat untuk menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kasus ini kepada mereka.

10 Barang Bukti Disita

Polres Mitra telah menyita 10 barang bukti dari kasus ini. Empat di antaranya adalah senapan angin, sedangkan enam lainnya adalah parang dan pisau badik. Barang bukti ini diduga kuat digunakan oleh para pelaku saat melakukan penyerangan di PETI Kebun Raya.

AKP Lutfi menjelaskan bahwa senjata angin yang digunakan oleh para pelaku dibeli sendiri dan dibawa ke lokasi pertambangan. Saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami peran masing-masing tersangka dalam kasus ini.

Kronologi Kejadian

Sebelumnya diketahui bahwa kasus penembakan terjadi di lokasi PETI Kebun Raya, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Mitra. Berdasarkan kesaksian korban, mereka memang diserang oleh para pelaku. Peristiwa berdarah itu terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Empat orang menjadi korban, tiga di antaranya meninggal dan satu kritis. Korban meninggal adalah Safrudin Makalalag, Mawandi Lakamunte, dan Fathan Kalipe. Korban kritis adalah Anisa Mamonto, seorang perempuan berusia 57 tahun.

Yamin, suami dari Anisa Mamonto, menjelaskan kronologis penembakan yang menyebabkan tiga rekannya meninggal dan istrinya kritis. Ia mengaku sudah menerima ancaman sehari sebelumnya. Pada hari penembakan, sekelompok orang menyerang tempat mereka.

Melihat tembakan deras dan rekan-rekannya diburu, Yamin sempat keluar dan mengangkat tangan. Ia mengatakan ada perempuan di sana, tetapi tembakan terus berdatangan. Saat berlindung, ia mendengar suara seorang rekannya yang mengatakan dirinya terkena tembakan dan akhirnya wafat.

Setelah mengurus rekannya, Yamin sadar bahwa istri terluka. Ia membekap sang istri dan teriak agar dibawa. Hujan turun setelah serangan, dan Yamin menggendong istrinya yang terluka di tengah hujan deras.

Ada Penertiban Aktivitas PETI

Polda Sulut dan Polres Mitra sempat melakukan penertiban aktivitas PETI di Kebun Raya Ratatotok. Namun, meski sudah dilakukan penertiban, aktivitas PETI masih terus berlangsung secara diam-diam. Bahkan alat berat yang sempat diturunkan kembali dinaikkan ke lokasi tambang.

Aktivitas pertambangan di Ratatotok memang sulit dibendung. Daerah ini dikenal sebagai salah satu penghasil emas di Sulawesi Utara. Meskipun jaraknya sekitar 96 kilometer dari kota Manado, pertambangan di sini tetap berkembang.


Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *