"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Pesan Hasto untuk Keluarga Hagios, Perkuat Kekuatan Keluarga di Natal

Perayaan Natal GPdI Hagios Family dengan Tema “Tuhan Hadir untuk Penyelamatan Keluarga”

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi terhadap tema perayaan Natal yang diusung oleh Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) Hagios Family Sosrowijayan Kota Yogyakarta, yaitu “Tuhan Hadir untuk Penyelamatan Keluarga”. Ia menilai tema tersebut sangat relevan dengan berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini.

Dalam sambutannya pada perayaan Natal GPdI Hagios Family, Kamis (25/12/2025), Hasto menyampaikan ucapan selamat Hari Natal dan Tahun Baru sekaligus memberikan apresiasi kepada gereja yang menyelenggarakan acara tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat tidak hanya bersifat religius, tetapi juga menyentuh persoalan nyata yang dialami keluarga-keluarga di tengah masyarakat.

“Kami sangat berharap tema ‘Tuhan Hadir untuk Penyelamatan Keluarga’ dapat menjadi suatu upaya yang sangat strategis. Karena pada hari ini, tentu masih banyak keluarga yang menghadapi berbagai persoalan, bahkan persoalan-persoalan yang sederhana,” ujar Hasto.

Ia menyoroti kondisi sosial yang menunjukkan adanya kehilangan dalam kehidupan keluarga, baik kehilangan keutuhan rumah tangga maupun kehilangan tempat tinggal dan infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kehidupan rumah tangga. Selain itu, persoalan ekonomi juga masih menjadi beban besar bagi banyak keluarga.

“Di tengah masyarakat, kita juga melihat adanya kehilangan dalam keluarga, baik kehilangan keutuhan rumah tangga maupun kehilangan tempat tinggal dan infrastruktur yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Selain itu, masih banyak persoalan ekonomi yang menimpa keluarga-keluarga kita. Kondisi ekonomi rumah tangga menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini,” kata dia.

Hasto mengakui bahwa secara material, kondisi masyarakat saat ini mengalami peningkatan dibandingkan sepuluh tahun lalu. Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan tersebut tidak selalu sejalan dengan kondisi sosial.

“Jika kita melihat kondisi material dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, saat ini memang terjadi peningkatan. Namun di sisi lain, persoalan sosial juga ikut meningkat. Banyak anak-anak muda yang lahir dan tumbuh dalam suasana keluarga yang tidak utuh,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai tema Natal yang diangkat GPdI Hagios Family sangat tepat dan relevan dengan kondisi kekinian. Hasto berharap perayaan Natal ini dapat mendorong meningkatnya kepedulian terhadap ketahanan keluarga.

“Oleh karena itu, tema ‘Tuhan Hadir untuk Penyelamatan Keluarga’ ini sungguh sangat tepat dan relevan dengan kondisi yang kita hadapi saat ini. Semoga melalui tema ini dapat meningkatkan perhatian dan kepedulian terhadap ketahanan keluarga, khususnya yang ada di Kota Jakarta dan pada umumnya di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Rasa Syukur dan Kebersamaan di Tengah Ujian Kehidupan

Sementara itu, Ketua Panitia Natal GPdI Hagios Family Hariyanto dalam sambutannya menekankan pentingnya rasa syukur dan kebersamaan di tengah berbagai ujian kehidupan yang dihadapi sepanjang tahun. Ia menyampaikan bahwa perjalanan hidup tidak selalu mudah, namun iman menjadi kekuatan untuk tetap bertumbuh.

“Pertama-tama, pada hari ini kita menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan, dan itu tidaklah mudah. Namun kita patut mengucap syukur karena sepanjang tahun yang telah kita lalui, kita masih diberi kesempatan untuk kembali berkumpul dan saling menguatkan,” kata Hariyanto.

Ia menyebut berbagai peristiwa yang dihadapi bersama, mulai dari suka dan duka, tangis dan tawa, sebagai proses pembelajaran untuk saling mendukung. Menurut dia, kehadiran Tuhan memberikan pengharapan dan kekuatan, termasuk dalam menghadapi masa-masa sulit.

“Tuhan telah datang ke dunia ini dan memberikan pengharapan serta dukungan bagi kita semua sebagai umat-Nya, sehingga kita mampu menjalani kehidupan ini, termasuk dalam masa-masa sulit seperti pandemi,” ujarnya.

Hariyanto juga menekankan pentingnya iman dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari, serta ajakan untuk tidak saling menyalahkan di tengah perbedaan dan tantangan.

“Teruslah berjaya dan berjuang untuk menang, walaupun ada perbedaan dan tantangan. Jangan pernah kita saling menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, karena setiap kita memiliki panggilan dan rencana terbaik dari Tuhan,” katanya.

Menutup sambutannya, Hariyanto menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Natal GPdI Hagios Family, termasuk panitia, organisasi acara, serta jemaat yang memberikan dukungan dalam berbagai bentuk.

“Kami selaku panitia mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang setia mendampingi serta memberikan arahan kepada kami selama masa persiapan. Terima kasih juga kepada seluruh jemaat GPdI Hagios Family yang telah mendukung acara ini, baik melalui dana, doa, maupun dukungan lainnya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan,” ujar Hariyanto.

Fokus pada Yesus sebagai Pemimpin Iman

Dalam kesempatan yang sama, Pendeta Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) Hagios Family, Samuel Suwondo, mengajak jemaat untuk memusatkan iman kepada Yesus sebagai kunci ketekunan dan kemenangan dalam perjalanan hidup orang percaya. Ia menegaskan bahwa iman hanya dapat disempurnakan ketika fokus tidak teralihkan oleh hal-hal lain di luar Kristus.

Dalam khotbahnya, Samuel menekankan pentingnya memandang Yesus sebagai pemimpin dan penyempurna iman. Menurut dia, banyak orang gagal menyelesaikan perjalanan iman bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena pandangan yang terpecah.

“Pandanglah Yesus, jangan pandang pada yang lain. Karena Yesus berkata bahwa Dialah yang menyempurnakan iman kita,” ujar Samuel.

Untuk menjelaskan pesannya, Samuel menggunakan ilustrasi lomba bayi merangkak. Ia menggambarkan bagaimana keberhasilan seorang bayi mencapai garis akhir sangat ditentukan oleh siapa yang menjadi fokus pandangannya.

“Kalau ada lomba bayi, lomba merangkak misalnya, bayi-bayi itu berlomba merangkak menuju garis akhir. Siapa yang bayinya bisa sampai ke garis finis, itu sangat tergantung pada bayi tersebut memandang siapa. Kalau yang dipandang bayi itu balon, cokelat, atau hal-hal lain yang mengalihkan perhatiannya, maka dia tidak akan sampai-sampai,” katanya.

Sebaliknya, lanjut Samuel, bayi yang memusatkan pandangan kepada ibunya akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan. “Kalau bayi itu memandang mamanya atau ibunya—yang melambaikan tangan, tersenyum, atau melakukan gerakan untuk menarik perhatian—maka bayi itu akan berusaha sekuat tenaga. Dia akan merangkak lebih cepat dan akhirnya sampai ke tujuan. Tetapi kalau dia melihat ke kanan dan ke kiri, dia bisa berputar-putar dan tidak maju,” ujarnya.

Samuel menegaskan bahwa prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan iman orang percaya. Ia mengutip ajaran Alkitab yang mendorong umat untuk menanggalkan segala beban dan dosa yang menghambat, serta menjalani perlombaan iman dengan tekun.

“Demikian juga dengan iman kita. Alkitab berkata supaya kita menanggalkan segala beban dan dosa yang merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Yesus adalah pemimpin dan penyempurna iman kita. Dialah yang melihat iman kita dan menolong iman kita, supaya pada akhirnya kita bisa sampai pada garis akhir,” kata Samuel.

Teladan William Borden: Kehidupan yang Berorientasi pada Tuhan

Dalam bagian lain khotbahnya, Samuel mengisahkan teladan hidup William Borden, seorang pemuda yang memilih mengabdikan hidupnya bagi pelayanan. Ia menceritakan bahwa setelah lulus SMA, Borden melakukan perjalanan keliling dunia dan menyaksikan langsung kondisi masyarakat di berbagai negara.

“Ketika melihat kondisi dunia—melihat orang-orang di Asia, di Mesir, dan di China—dia mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Dia berkata, ‘Aku akan memberikan hidupku bagi dunia’,” tutur Samuel.

Keputusan tersebut, menurut Samuel, tercermin dari catatan yang ditulis Borden di Alkitabnya. Ia menulis No Reserves, yang berarti tidak menyisakan apa pun bagi dirinya sendiri. Setelah menolak tawaran masuk universitas-universitas ternama dan memilih sekolah Alkitab, Borden menambahkan tulisan No Retreats, sebagai tanda bahwa ia tidak akan mundur dari panggilannya.

Samuel melanjutkan bahwa Borden akhirnya pergi melayani ke Mesir, namun meninggal dunia karena penyakit pada usia 25 tahun. Ketika barang-barangnya dikumpulkan, ditemukan satu kalimat terakhir yang ia tulis di Alkitabnya.

“Di halaman belakang Alkitabnya tertulis satu kalimat terakhir: ‘No Regrets’—tidak ada penyesalan. Banyak orang mungkin berpikir hidupnya terlalu singkat, kekayaannya besar, namanya terkenal, dan dia sebenarnya bisa menjadi pengusaha besar. Tetapi dia berkata bahwa semuanya tidak berarti dibandingkan dengan melakukan kehendak Tuhan,” kata Samuel.

Menutup khotbahnya, Samuel menegaskan bahwa kehidupan Borden menjadi kesaksian tentang kekuatan iman yang terarah sepenuhnya kepada Kristus.

“Hidupnya menyatakan satu hal: tidak ada batasan bagi orang yang memandang kepada Yesus,” ujarnya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *