Peran Presiden dalam Penanganan Bencana Sumatra
Pengamat ekonomi dan politik, Ichsanuddin Noorsy, menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki “tongkat Nabi Musa” untuk memulihkan bencana di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) secara instan. Pernyataan ini disampaikan oleh Prabowo saat mengunjungi Posko Pengungsian Takengon, Aceh Tengah, pada Jumat (12/12/2025).
Menurut Ichsanuddin, meskipun benar bahwa Prabowo tidak memiliki tongkat Nabi Musa secara fisik, ia tetap memiliki kekuasaan penuh atas segala yang terjadi di negara ini sebagai seorang Presiden RI. Dengan posisi tersebut, Prabowo dapat mengambil keputusan tanpa batasan apapun dalam penanganan bencana.
“Tadi saya sudah sampaikan bahwa pasti pemerintah akan turun dan bantu, tentunya ini yang terkena musibah, kami juga manusia tidak punya tongkat Nabi Musa,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Prabowo memiliki tim, pasukan, serta kemampuan keuangan untuk menangani bencana tersebut.
Namun, dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sedang terbatas, khususnya untuk penanganan bencana di Sumatra, Ichsanuddin merasa heran karena Prabowo tetap menolak bantuan dari negara lain.
“Betul bahwa yang namanya anggaran sekarang ini terjadi defisit sebesar Rp479,7 triliun per Oktober kemarin. Disebabkan penerimaan hanya mencapai Rp2.113,3 triliun, belanja Rp2.593 triliun sehingga terjadi defisit (pengeluaran melebihi pendapatan). Itu menunjukkan memang APBN terbatas untuk mengatasi (bencana),” paparnya.
Ichsanuddin menilai bahwa alasan penolakan bantuan dari negara lain mungkin berkaitan dengan paradigma dan konflik kepentingan. “Problem-nya menjadi secara struktural menurut saya di paradigma, di konflik kepentingan. Jadi ada kesalahan paradigma, ada konflik kepentingan, ada kegagapan menghadapi yang namanya manajemen bencana. Itu yang saya lihat,” jelasnya.
Prabowo: Indonesia Mampu Tangani Bencana Sendiri
Sementara itu, Prabowo sebelumnya telah menegaskan bahwa Indonesia masih mampu menangani bencana Sumatra secara mandiri. Hal tersebut diungkapkan Prabowo saat menceritakan adanya sejumlah pimpinan negara sahabat yang menawarkan bantuan kepada Indonesia.
Prabowo mengapresiasi kepedulian tersebut, tetapi ia menegaskan bahwa Indonesia masih mampu menangani bencana secara mandiri. “Saya ditelepon banyak pimpinan kepala negara ingin kirim bantuan. Saya bilang terima kasih, konsen Anda, kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini,” tegasnya saat memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Kenapa Tak Kunjung Ditetapkan sebagai Bencana Nasional?
Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Inf Teddy Indra Wijaya menanggapi terkait pihak-pihak yang hingga sekarang masih terus mempermasalahkan status bencana nasional Sumatra. Teddy menjelaskan bahwa meski tidak ada penetapan status bencana nasional, penanganan bencana di 3 provinsi Sumatra tersebut sudah berskala nasional.
“Masih ada pihak-pihak yang terus saja membahas status bencana nasional. Jadi gini, bencana ini ada di tiga provinsi, ketiganya terdampak, tapi mungkin 1-2 minggu ini, semua fokusnya hanya ke Aceh,” ungkapnya.
Teddy menambahkan bahwa sejak hari pertama tanggal 26, pemerintah pusat sudah melakukan penanganan skala nasional di tiga provinsi ini, langsung mobilisasi nasional. “Sudah ada 50 lebih pasukan di sana, TNI-Polri, 50.000 lebih pasukan di sana, TNI, Polri, Basarnas, dan relawan-relawan banyak sekali.”
Penanganan Bencana Secara Nasional
Teddy juga menjelaskan bahwa banyak pihak ingin ditetapkan status bencana nasional karena khawatir soal anggarannya. Namun, kata dia, soal anggaran tersebut sudah dijawab oleh Presiden Prabowo Subianto langsung, yakni menggunakan dana pusat sepenuhnya.
“Disampaikan Rp60 triliun sudah dikeluarkan secara berangsur untuk membangun kembali rumah sementara, rumah hunian tetap, fasilitas semuanya, gedung DPRD, kecamatan juga dan juga langsung seluruh bupati-wali kota 52 itu diberikan uang cash untuk di hari itu gitu,” paparnya.
Selain itu, Teddy menjelaskan bahwa di lokasi bencana sudah diterjunkan banyak kapal hingga helikopter. “Dibilang kalau tidak bencana nasional, sarana prasarana fasilitas tidak ada dari pusat. Sudah dijawab juga di lapangan, 100 lebih kapal, pesawat, helikopter sudah ke sana. Ada alat berat dari PU (Pekerjaan Umum) mungkin totalnya sekitar 1.000 mungkin, diangkut dari mana pun di Indonesia ini diangkut ke sana.”
Kolaborasi dan Koordinasi untuk Pemulihan
Teddy menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, semua pihak harus saling mendukung dan berkoordinasi satu sama lain agar semua bisa teratasi dengan baik. “Apakah semuanya sudah dapat logistik? Apakah yang dilakukan sudah sempurna? Tentu belum. Makanya ayo kita sama-sama bahu membahu, saling dukung. Kalau niat bantu, ayo ikhlas, tulus.”
Ia menambahkan bahwa jika ada yang kurang, masyarakat bisa langsung menyampaikan ke petugas, TNI, Polri, Basarnas, atau BNPB. “Bisa Anda sampaikan ke bupati, semua bupati, kepala daerah, gubernur, bupati, wakil, walikota, wakil dan pegawainya, semua di sana bisa dijangkau, bisa dihubungi. Aparat-aparat di sana bekerja semua.”
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











