"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Opini  

Resolusi 2026: Menulis, Langkah Kecil Menuju Pulang

Resolusi 2026: Menulis sebagai Langkah Kecil Menuju Jalan Pulang

Kalimat yang terdengar sederhana dan biasa, seperti “Bukankah dunia tidak pernah memaksa kita melangkah lebih jauh tanpa waktu yang tak ingin tergesa? Sebab, meski hanya langkah kecil yang kita ayunkan dengan pasti, sudah cukup memberi kelegaan dan ketenangan jiwa, meski hanya untuk hari ini,” sebenarnya menjadi bisikan yang membuat batin saya menjadi lebih tenang. Kalimat itu bukan sekadar jawaban tuntas, melainkan pengingat sejati yang mengajak saya untuk kembali berdamai dengan luka.

Kehadirannya menjadi tanda penanda bahwa pemulihan tidak harus selalu berlari menjauh dan meninggalkan setiap wajah luka. Sebaliknya, kita justru diajak untuk berani duduk sejenak bersamanya—menatap, menerima, lalu berdamai dengan luka itu sendiri.

Masih melekat dalam ingatan bagaimana tahun 2025 mengajarkan saya bahwa kesedihan dan kekecewaan bukanlah hal yang dapat disangkal. Demikian pula kehilangan, sebagai ruang rapuh, tempat saya belajar mengenal diri—yang tidak pernah bisa benar-benar dilupakan. Segelas adukan kopi senja yang menguar kenikmatan mengajak saya perlahan memeluk kegelisahan yang terus mengusik pikiran. Ia bukan sekadar rasa lelah yang singgah, melainkan bisikan panggilan yang tertunda.

Panggilan untuk kembali menulis dengan hati, menulis dengan rasa—bukan sebagai tuntutan orasi demi sebuah pengakuan, melainkan sebagai penunjuk jalan pulang untuk menjumpai diri sendiri yang terhanyut dalam ganasnya gelombang kekecewaan yang melukai.

Saya hanya ingin kembali melukis dalam goresan kata tentang kisah-kisah sunyi di balik papan tulis, yang menjadi saksi bisu ruang kelas yang hening, namun riuh oleh suara tawa para murid yang datang dengan tatapan mata penuh tanya. Saya tahu persis, bahwa pagi itu mereka datang bukan hanya membawa semangat, tetapi juga beban berat yang mereka susun rapi dalam tas yang disandang, lalu perlahan diletakkan di atas meja keheningan hingga bel pulang berbunyi, memanggil kembali sunyi yang senyap.

Di ruang sunyi itulah saya menemukan jejak panggilan yang tertunda itu—jejak yang menunjukkan bahwa kehadiran saya bukanlah sekadar pertemuan akademik demi menuntaskan materi pelajaran. Lebih dari itu, ruang kelas menjadi ruang perjumpaan yang saling membutuhkan untuk belajar dan bertumbuh bersama sebagai manusia. Di ruang itu, kami belajar bersama: guru belajar tentang kesabaran, sementara murid tentang keberanian.

Di ruang yang sama, kami hanya ingin belajar bersama. Saya belajar untuk menerima keterbatasan, sementara para murid belajar menemukan rasa percaya diri. Sungguh, ruang kelas yang sunyi dan papan tulis yang terdiam menjadi saksi bisu bagaimana guru dan murid saling membentuk karakter untuk menapaki kehidupan.

Di ruang itu pula cinta hadir—tanpa perlu kamus terjemahan untuk menjelaskan setiap untai kata yang indah terdengar—cinta tak membutuhkan kias kata. Ia cukup dirasa melalui kehadiran yang tulus dan perhatian yang setia.

Meski sederhana inilah yang menjadi cita, harapan, sekaligus resolusi saya di tahun 2026: kini menjadi ruang untuk menata kembali jejak mimpi yang belum terwujud di tahun 2025 yang sedang melangkah menuju purna. Meski titik harapan itu belum tampak, namun saya percaya bahwa kesetiaan melakukan perkara kecil—menyediakan waktu untuk menulis, menyimpan rekaman kisah sederhana di sekolah—akan menjelma menjadi awan putih kecil yang menggantung di langit harapan.

Dari sana saya ingin menuliskan tentang kegelisahan guru yang tidak selalu sempurna, juga tentang murid yang lelah dan lengah, serta tentang proses belajar yang menggunakan pendekatan kemanusiaan apa adanya. Saya merasa saatnya saya untuk putar haluan: bahwa menulis bukan lagi tentang mendapatkan pengakuan diri, melainkan sebagai proses penyembuhan luka atas rasa kehilangan yang mendalam.

Mulai sekarang, saya tak lagi perlu berlari kencang untuk menjauh dan memusuhi luka. Semoga menulis menjadi jalan pulang untuk menjumpai bahagia lewat kata yang tertulis—sebagai bukti bahwa saya masih ada, masih bertahan, dan masih memeluk harapan.

Meski bukan resolusi yang megah, menulis telah mengajarkan saya dengan jujur bahwa luka tidak harus disembunyikan. Sebab ia dapat menjelma menjadi sumber empati yang kaya, mampu mengubah cara kita memandang orang lain.

Saya tak peduli lagi atas sikap dunia yang kerap kali membenci, yang sering kali keras tak memiliki rasa—terlihat tak tergesa namun terus bergerak tanpa suara, berputar tiada henti, sekadar memastikan bahwa ia tak ingin terlambat kembali di tempat yang sama. Demikian pula saya, yang tak lagi menuntut diri untuk segera pulih sepenuhnya. Di akhir tahun 2025 yang kini sudah di ambang pintu, saya bertahan untuk tidak tenggelam—kembali bangkit tanpa tergesa.

Saya hanya ingin melangkah dengan setia, menulis dengan tekun, serta memberi ruang dan waktu bagi diri sendiri dan keluarga untuk menyambut pagi, perlahan mengusir sepi yang menyelimuti. Sore ini, saya kembali mendapatkan kembali diri sendiri: jika tahun 2025 sebagai tahun kehilangan, semoga di tahun 2026 akan segera hadir menyembuhkan dan menjadi tahun pemulihan.

Apabila nanti, setiap kata yang saya rangkai, menjelma menjadi lautan aksara bermakna, semoga ia kembali menjadi saksi bahwa luka yang pedih dapat menjadi jembatan untuk membangun kebijaksanaan diri. Akhir kata, saya ingin menuliskan bahwa menulis menjadi salah satu cara saya mencintai hidup yang tak pernah benar-benar selesai menjumpai persoalan.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *