.CO.ID,
JAKARTA — Indonesia kini menghadapi berbagai ancaman bencana yang semakin kompleks. Selain ancaman bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem, risiko bencana geologi juga terus meningkat, khususnya dari aktivitas gunung api. Hal ini memerlukan kesiapan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menghadapi potensi bahaya yang bisa terjadi.
Pemerintah telah mengaktifkan Posko Nasional Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi gangguan selama masa libur akhir tahun. Salah satu fokus utama posko ini adalah meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas gunung api yang dapat berdampak pada jutaan penduduk.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat bahwa ada tiga gunung api dengan status Level III atau Siaga, yaitu Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur. Selain itu, sebanyak 24 gunung api lainnya berada dalam status Level II atau Waspada.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Priatin Hadi Wijaya menyebut, jumlah penduduk yang tinggal di sekitar gunung api berstatus Level II dan III bisa mencapai sekitar 15 juta jiwa. Angka ini menunjukkan besarnya potensi dampak jika mitigasi dan kesiapsiagaan tidak dilakukan secara optimal.
“Kami berharap tidak ada korban jiwa. Sepanjang tahun ini, tidak ada korban jiwa akibat aktivitas gunung api, dan hanya tiga orang yang terluka di Gunung Semeru,” kata Hadi saat pembukaan Posko Nasional Sektor ESDM, Senin (15/12/2025).
Badan Geologi saat ini mengoperasikan 74 pos pengamatan gunung api dan memantau secara real time 69 gunung api aktif di seluruh Indonesia. Pemantauan diperketat selama periode Natal dan Tahun Baru karena meningkatnya mobilitas masyarakat, termasuk di kawasan rawan bencana.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani menilai tantangan pengamanan akhir tahun kali ini lebih kompleks karena bertepatan dengan puncak musim hujan dan meningkatnya aktivitas vulkanik. Kombinasi faktor tersebut berpotensi memicu bencana ikutan yang dampaknya lebih luas.
“Data dari Badan Geologi menunjukkan adanya kemungkinan tekanan di wilayah lain yang dapat memicu potensi bencana. Ini harus kita waspadai bersama,” kata Ahmad.
Selain erupsi, Badan Geologi mengingatkan potensi bahaya lanjutan seperti awan panas guguran, hujan abu, dan aliran lahar, terutama saat intensitas hujan meningkat. Gunung Semeru menjadi salah satu titik perhatian karena aktivitas erupsi yang dapat memperbesar risiko lahar di daerah aliran sungai.
Risiko Longsor dan Banjir
Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung dari pertengahan Desember 2025 hingga akhir Januari 2026. Kondisi ini meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang, sekaligus memperparah dampak erupsi gunung api, terutama di wilayah hulu sungai dan lereng gunung.
Wilayah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi meliputi Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sejumlah ruas jalan nasional dan provinsi di wilayah tersebut juga dinilai rawan tertutup longsor atau material lahar.
“Antisipasi dan koordinasi lintas sektor sangat penting, terutama di jalur transportasi yang ramai dilalui masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru,” ujar Priatin.
Selain ancaman erupsi dan longsor, Indonesia juga mencatat peningkatan signifikan kejadian gempa bumi. Hingga pertengahan Desember 2025, tercatat 38 gempa merusak, tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Meski terdapat dua kejadian tsunami, keduanya tidak menimbulkan kerusakan berarti.
Menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks, Ahmad Erani menegaskan Posko Nasional ESDM tidak hanya berfungsi menjaga pasokan energi, tetapi juga sebagai pusat koordinasi mitigasi bencana. Seluruh pemangku kepentingan diminta memastikan kesiapsiagaan tetap terjaga di tengah lonjakan aktivitas masyarakat.
Posko Nasional Sektor ESDM beroperasi selama 22 hari, mulai 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, dengan pemantauan 24 jam terhadap aktivitas gunung api, potensi erupsi, serta dampaknya terhadap infrastruktur dan mobilitas publik.
Seperti diketahui, Indonesia berada di jalur cincin api Pasifik, kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, sehingga memiliki tingkat kerawanan bencana geologi yang tinggi. Dari sekitar 500 gunung api, sebanyak 127 di antaranya berstatus aktif dengan karakter dan tingkat ancaman yang beragam.
Gunung Merapi, Semeru, Anak Krakatau, Kelud, dan Sinabung, merupakan beberapa gunung api dengan sejarah erupsi panjang dan aktivitas tinggi.
Gunung Semeru, misalnya, sejak awal bulan saja sudah beberapa kali mengalami erupsi. Pada Ahad (7/12/2025), Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur mengalami empat kali erupsi dengan tinggi letusan mencapai 1 kilometer di atas puncak.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 04.14 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 900 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah selatan dan barat daya. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 124 detik.
“Erupsi kedua terjadi pada pukul 05.10 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian.
Menurutnya, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah selatan dan barat daya. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 153 detik.
Erupsi ketiga terjadi pada pukul 07.12 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati mencapai 1.000 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 156 detik.
Pada pukul 14.19 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali erupsi dengan visual letusan tidak teramati, namun erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 102 detik.
Status Gunung Semeru masih pada Level III atau siaga, sehingga pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi, yakni tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” katanya.
Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Imbauan yang dikeluarkan otoritas terkait patut dipatuhi masyarakat guna menghindari risiko bencana. Sementara itu, pemda juga harus bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi dari potensi bencana erupsi.











