"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Tipu Daya Ayah Tiri Alvaro, Menipu Keluarga Setelah Menculik dan Membunuh



JAKARTA, –

Kasus kematian Alvaro Kiano Nugroho, bocah 6 tahun asal Pesanggrahan, Jakarta Selatan, akhirnya terungkap setelah polisi mengungkap fakta bahwa ayah tirinya, Alex Iskandar (49), adalah pelaku penculikan dan pembunuhan. Selama ini, Alex berhasil menyembunyikan kejahatannya dengan baik hingga membuat penyelidikan sulit berjalan.

Alex sebelumnya tidak menjadi fokus utama dalam penyelidikan. Ia tampak tenang dan bahkan membantu keluarga mencari Alvaro hingga ke luar kota. Hal ini memperkuat kesan bahwa ia tidak memiliki niat jahat, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan di pihak keluarga.

Sejak Alvaro dilaporkan hilang pada 6 Maret 2025, Alex sudah beberapa kali diperiksa oleh polisi. Namun, ia selalu memberikan alasan yang melepaskan diri dari dugaan sebagai pelaku. Menurut AKBP Ardian Satrio, Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, penyelidikan awal tidak menemukan bukti kuat karena keterangan Alex masih banyak yang menyangkal.

Dugaan mulai mengarah pada Alex setelah adanya informasi dari saksi kunci. Dari laporan tersebut, polisi melakukan pemeriksaan terhadap 20 saksi lainnya. Akhirnya, petunjuk tersebut mengarah pada Alex dan lokasi pembuangan jasad Alvaro.

Bantuan dalam Pencarian Alvaro

Saat keluarga mencari Alvaro, Alex turut serta dalam pencarian. Istrinya, Arum, yang saat itu sedang berada di luar negeri, meminta bantuan Alex untuk mencari Alvaro bersama kedua orangtua korban. Dalam percakapan telepon, Arum merasa ada perbedaan pada suara Alex, yaitu napasnya pendek dan cepat, seperti orang lelah setelah melakukan sesuatu yang melelahkan.

Menurut Arum, saat itu Alex baru saja menyembunyikan Alvaro ke dalam plastik setelah tewas karena mulutnya disumpal handuk. “Akhirnya dia ke rumah, itu saya baru sadar, ‘Oh iya waktu itu dia ngangkat telepon dalam kondisi ngos-ngosan,’ atau mungkin dia lagi habis eksekusi Alvaro,” ujar Arum.

Meski begitu, Arum tetap fokus mencari Alvaro. Ia bahkan ikut mencari bersama Alex ke Bogor hingga Karawang, meskipun saat itu sudah memutuskan hubungan dengannya. Arum juga berjanji pada Alex agar kembali rujuk jika Alvaro ditemukan dalam kondisi sehat.

Kepercayaan Keluarga Dimanfaatkan

Kakek Alvaro, Tugimin, dan neneknya, Sayem, awalnya percaya pada Alex karena sikapnya yang tampak baik dan penurut. Alex sering mengajak Alvaro membeli mainan atau jajanan, mengantar jemput kakek hingga larut malam, bahkan menyarankan paranormal untuk membantu pencarian.

Sayem mengaku percaya pada paranormal itu selama ada petunjuk tentang keberadaan Alvaro. Terlebih, Alex selalu bersedia mengantarkan mereka mencari hingga keluar kota. “Dia seperti orang enggak punya salah, terus nganterin saya ke orang ‘pinter’, diarahkan ke Kerawang, ke Bogor. Namanya kami pengen ketemu cucu, diajak ke mana aja, ya sudah, yuk,” ungkap Sayem.

Tugimin menelusuri berbagai kota di Pulau Jawa mengikuti petunjuk paranormal, namun hasilnya nihil. Ia menilai kepercayaannya pada Alex membuat pengungkapan kasus ini tertunda.

Sikap Alex yang Menipu Lingkungan

Tetangga dan warga juga tertipu oleh sikap Alex. Ia disebut tetap tampak tenang saat Alvaro hilang. Tugimin merasa telah dikhianati oleh Alex setelah semua terungkap. “Saya itu enggak sangka, ternyata kebaikan dia itu hanya ibaratnya ya buat kedok saja,” ucap Tugimin.

Begitu pula dengan Arum. Ia merasa telah diledek oleh Alex secara tak langsung selama mencari Alvaro bersama. “Saya cari (Alvaro) sampai ke mana pun itu sama dia (Alex). Berarti kan dia kayak ngeledek ya kan, dia tahu, tapi dia ya sudah, enggak ngerti lagi deh sama dia. Enggak habis pikir, ternyata dia bunuh,” kata dia.

Akhir Tragis Pelaku

Setelah polisi mengungkap lokasi pembuangan jasad Alvaro, Alex mengakhiri hidupnya di ruang tahanan Mapolres Jakarta Selatan. Sebelumnya, ia sempat meminta celana ganti karena buang air kecil. Posisi gantung diri ditemukan oleh rekannya, inisial G, melalui celah pintu. Jenazah Alex langsung dibawa keluarga untuk dimakamkan.

“Dari pukul 6.30 sampai 8.00 atau 9.00 pagi, ditemukan oleh rekannya, dilihat dari pintu, itu ada bilah kaca di tengah, melihat tersangka sudah gantung diri,” ungkap Ardian.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *