"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

COP Belem 2025: Hashim, Prabowo, dan Pembangunan Berkelanjutan Aceh Tengah

Kepemimpinan Global di Tengah Krisis

COP30, konferensi iklim terbesar dunia, berlangsung di Belém, Brasil, dengan bayang-bayang krisis kepemimpinan global. Salah satu faktor utama yang memicu krisis ini adalah ketidakhadiran Amerika Serikat, negara dengan jejak emisi historis terbesar dan salah satu arsitek diplomasi iklim modern. Absennya AS menjadi simbol dari krisis yang lebih dalam, di mana dunia bergerak menuju ambang pemanasan 1,5°C secara permanen, sementara negara-negara kunci justru melemahkan kehadirannya di forum yang menentukan masa depan planet.

Ketidakhadiran AS memiliki implikasi geopolitik yang luas: pendanaan iklim global menggantung, peta jalan penghentian energi fosil kembali kabur, dan konsensus politik tentang transisi energi kehilangan salah satu penopang terbesarnya. Di tengah kekosongan ini, Brasil dan Uni Eropa mencoba mengisi kekosongan, sementara negara-negara pemilik hutan tropis tampil sebagai alternatif.

Indonesia hadir dengan posisi strategis: hutan tropis terbesar ketiga di dunia dan ekonomi yang masih sangat bergantung pada energi fosil dan perkebunan kelapa sawit. Dalam konteks ini, pidato Ambisius Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, menjadi sorotan internasional. Dalam forum pendahuluan menuju COP30, Hashim membuka pidatonya dengan pernyataan ambisius, menyatakan bahwa Indonesia siap memperkuat komitmen iklim nasional, membangun kerja sama global yang inklusif, dan memasuki era “aksi nyata” setelah bertahun-tahun negosiasi panjang.

Namun, pidato ini juga mendapat kritik tajam dari berbagai organisasi masyarakat sipil. NGO menyoroti pernyataannya bahwa pemerintah akan “mengurangi, bukan menghentikan” penggunaan batu bara, yang bertentangan dengan logika ilmiah untuk menghentikan batu bara jauh sebelum 2030 agar Indonesia bisa mencapai net zero 2060. Mereka juga mengingatkan bahwa ekspansi biodiesel dan bioetanol sering memicu pembukaan hutan dan konflik agraria, terutama di Papua.

Reputasi Indonesia di Forum Global

Di Belém, suka tak suka, peran Hashim Djojohadikusumo menjadi penting dan strategis. Ia berupaya menunjukkan komitmen Indonesia terhadap agenda iklim global melalui diplomasi yang tegas di panggung COP30. Namun ia juga tetap realistis menghadapi kebutuhan domestik dan pertumbuhan ekonomi. Pendekatannya dapat dibandingkan dengan model Tiongkok: bersikap ambisius dalam mitigasi perubahan iklim, tetapi tetap mempertimbangkan pragmatisme ekonomi yang tak sepenuhnya sejalan dengan tuntutan ekstrim dari negara-negara Eropa atau tekanan NGO internasional.

Dengan strategi ini, Hashim menjaga reputasi Indonesia di forum global tanpa mengabaikan kenyataan bahwa ekonomi nasional masih bergantung pada sektor kelapa sawit, energi fosil, dan sektor industri besar. Di tengah kritik tersebut, inisiatif presiden Prabowo Subianto di Aceh Tengah menonjol sebagai contoh langkah nyata. Penyerahan lahan 90.000 hektar milik perusahaannya, untuk konservasi gajah di Aceh Tengah menjadi bukti komitmen Indonesia pada pelestarian keanekaragaman hayati.

Pembangunan Berkelanjutan di Wilayah Tengah Aceh

Pemerintah Prabowo memiliki peluang untuk menjadikan hutan tropis Sumatera—dalam hal ini Ekosistem Leuser—as a “model keseimbangan” antara ekonomi nasional dan kepemimpinan iklim. Strategi ini dapat menggabungkan perlindungan ketat, pemberdayaan masyarakat, ekonomi hijau, dan integrasi dengan pendanaan internasional untuk menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan nilai ekonomi nyata bagi Indonesia.

Salah satu strategi utama adalah pembangunan berkelanjutan di wilayah tengah Aceh yang mengedepankan prinsip ekoturisme, hortikultura dataran tinggi berkualitas, dan pengembangan hasil hutan non-kayu. Di wilayah Tengah Aceh—Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara—desa-desa di sekitar kawasan konservasi dapat dikelola sebagai kantong-kantong ekowisata. Jalur edukasi satwa liar, homestay ramah lingkungan, dan pengalaman wisata berbasis komunitas memungkinkan wisatawan belajar tentang gajah, orang hutan, harimau, badak, hutan tropis, dan kehidupan masyarakat lokal.

Produk hortikultura premium dari dataran tinggi—seperti kopi Arabika, sayuran organik, rempah, dan buah-buahan tropis bernilai tinggi—dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi komunitas lokal. Selain itu, hasil hutan non-kayu, termasuk madu, rotan, kapulaga, dan tanaman obat, dapat dikelola tanpa merusak pohon atau mengganggu ekosistem, memberikan insentif ekonomi yang selaras dengan konservasi.

Waktu Bertindak Hampir Habis

COP30 menjadi pengingat bahwa waktu untuk bertindak hampir habis—dan hanya tindakan nyata yang mampu menjawab krisis iklim yang semakin mendesak. Dalam konteks Indonesia, diplomasi Hashim menunjukkan bahwa negara ini tetap berkomitmen pada agenda global, sementara inisiatif Prabowo di Aceh Tengah membuktikan bahwa langkah konkret di tingkat lokal juga mungkin diwujudkan. Perbedaan pandangan antara pemerintah dan NGO bukanlah permusuhan, melainkan dinamika sehat yang mendorong transparansi, akuntabilitas, dan inovasi dalam kebijakan iklim.

Dengan strategi yang tepat, Ekosistem Leuser dapat menjadi paru-paru dunia sekaligus motor ekonomi berkelanjutan, menjembatani antara kebutuhan nasional dan tanggung jawab global. Langkah-langkah tersebut memberi harapan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat lebih dari sekadar jargon diplomatik. Wilayah Tengah Aceh bisa menjadi laboratorium nyata bagi integrasi ekowisata, hortikultura premium, hasil hutan non-kayu, dan konservasi satwa langka. Dengan dukungan finansial yang tepat, pelibatan masyarakat, dan kebijakan yang mendukung, model ini tidak hanya akan menjaga gajah, harimau, orang hutan, badak, dan hutan tropis, tetapi juga membuktikan bahwa pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan dapat berjalan seiring.




Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *