marosdaily.com – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Adian Napitupulu heran dengan perbedaan perlakuan antara kasus buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Harun Masiku dan Kirana Kotama. Adian mempertanyakan mengapa kasus Kirana tidak mendapat perhatian yang sama seperti kasus Harun Masiku.
Adian mengungkapkan hal ini dalam program iNews Rakyat Bersuara yang berjudul ‘Kasus Keramat Harun Masiku, Siapa yang Dituju?’, pada Selasa (17/12/2024). Menurut Adian, Kirana Kotama telah menjadi buronan KPK sejak 2017, lebih lama dari Harun Masiku yang baru menjadi buronan pada 2020.
“Kenapa tidak ada keributan? Apakah karena Harun Masiku berasal dari PDI-Perjuangan? Jika begitu, siapa yang menjadi target? Harun Masiku atau PDI Perjuangan?” tanya Adian.
Adian juga mempertanyakan mengapa tidak ada tokoh yang menawarkan sayembara untuk menemukan Kirana Kotama seperti yang dilakukan untuk mencari Harun Masiku.
“Tidak ada sayembara untuk menemukan Kirana Kotama, tidak ada hadiah handphone, tidak ada hadiah uang tunai 8 miliar, atau hadiah lainnya. Mengapa? Apakah karena Kirana Kotama bukan anggota partai? Ini harus dijelaskan,” tegasnya.
Untuk diketahui, Kirana Kotama merupakan tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait penunjukan Ashanti Sales Inc sebagai agen eksklusif PT PAL Indonesia (Persero) untuk pengadaan kapal Strategic Sealift Vessel (SSV) untuk Pemerintah Filipina pada tahun 2014-2017. Kirana, yang merupakan pemilik PT Perusa Sejati, diduga menjadi perantara suap yang melibatkan Direksi PT PAL Indonesia. Dia telah menjadi buronan KPK sejak 15 Juni 2017.





