Identitas yang Membuat Heboh
Nama Dewi Astutik mungkin terdengar biasa bagi masyarakat Indonesia. Namun, di balik nama tersebut tersembunyi sosok yang menjadi otak dari jaringan narkoba lintas negara, khususnya di wilayah Golden Triangle. Kasus yang melibatkan Dewi Astutik tidak hanya berupa gram-gram kecil, tetapi mencapai jumlah sabu seberat 2 ton dengan nilai mencapai Rp 5 triliun.
Pertanyaan tentang siapa sebenarnya Dewi Astutik masih menjadi misteri karena identitasnya masih kabur. Di kampung yang tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya, warga mengaku mengenal wajahnya, tetapi tidak mengenal nama Dewi Astutik. Mereka lebih mengenal perempuan tersebut dengan inisial PA.
Asal dari Ponorogo
Dewi Astutik diduga memiliki KTP beralamat di Dusun Sumber Agung, Desa Balong, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Menurut penelusuran, Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, menyatakan bahwa tidak ada nama Dewi Astutik di wilayahnya. Meski demikian, ia mengakui bahwa foto yang ada di fotokopi KTP tersebut adalah warga setempat.
“Kalau warga di sini yang bernama Dewi Astutik tidak ada, tetapi alamat itu memang warga sini dan fotonya juga kenal,” ujar Gunawan kepada media, Selasa (27/5/2025). Ia juga menyebutkan bahwa perempuan dalam foto tersebut bernama PA.
PA disebut telah lama bekerja sebagai pekerja migran Indonesia. “PA ini pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan. Dan terakhir, sesuai informasi, katanya bekerja di Kamboja. Memang kerja di luar negeri, dan sudah lama berangkatnya,” tambah Gunawan.
Salah satu warga setempat, Sri Wahyuni, memberikan pernyataan senada dengan informasi yang diberikan oleh Gunawan.
Awal Mula Masuk Radar BNN
Nama Dewi Astutik pertama kali muncul di radar Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui kasus heroin seberat 2,76 kilogram di Bandara Soekarno-Hatta. Pada 24 September 2024, seorang pria berinisial ZM yang baru turun dari penerbangan Singapura kedapatan membawa heroin seberat 2,76 kilogram.
Dari pemeriksaan, ZM mengaku barang tersebut akan diserahkan ke SS. BNN kemudian menangkap SS dan menemukan nama lain, AH. AH diketahui sebagai orang yang memerintahkan ZM dan SS mengambil heroin dari Dewi Astutik di Kamboja. AH akhirnya ditangkap di Medan, Sumatera Utara.
Dari kasus ini, Dewi Astutik diketahui sebagai “bos kurir” yang merekrut kurir-kurir asal Indonesia.
Operasi 2 Ton Sabu Senilai Rp 5 Triliun
Setelah kasus pada tahun 2024, nama Dewi Astutik kembali terdengar dalam operasi pengamanan dua ton sabu dari kapal Sea Dragon Tarawa di Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025 lalu. Nilai perkiraan sabu tersebut disebut mencapai sekitar Rp 5 triliun, angka yang menggambarkan betapa besar taruhan keuangan jaringan ini.
Empat awak kapal yang semuanya warga negara Indonesia diduga terkait langsung dengan Dewi. Tiket perjalanan para kurir disebut BNN dibelikan oleh orang yang berhubungan dengan Dewi Astutik, artinya ada koordinasi terpusat dari luar negeri untuk mengatur pergerakan mereka.
“Kita bisa pastikan kurir-kurir ini tiketnya dipesan oleh orang yang berhubungan dengan Dewi Astutik,” ujar Kepala BNN, Komjen Marthinus Hukom, dalam tayangan Rosi di KompasTV. “Dewi Astutik memainkan peran penting dalam proses rekrutmen ini,” tambah dia.
Bahkan, kurir asal Indonesia yang diasuh oleh Dewi Astutik diperkirakan lebih dari 110 orang.
Status Buronan Internasional Sejak 2024
Sejak 2024, Dewi Astutik sudah berstatus buronan internasional. BNN mengeluarkan red notice sehingga namanya resmi masuk daftar buronan Interpol. Pada Selasa (2/12/2025), Dewi Astutik akhirnya berhasil ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, dalam operasi senyap lintas negara yang melibatkan BNN, Interpol, kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan, dan BAIS TNI.
Dewi ditangkap saat akan menuju lobi sebuah hotel. Setelah itu ia dibawa ke Phnom Penh untuk verifikasi identitas dan serah terima antarotoritas, sebelum nantinya diterbangkan ke Indonesia untuk pemeriksaan intensif.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











