Kritik terhadap Pernyataan Kepala BNPB Mengenai Banjir di Sumatera
Pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, tentang banjir di Sumatera yang hanya terlihat mencekam di media sosial mendapat kritik tajam dari berbagai pihak. Salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menyoroti pernyataan tersebut adalah Generasi Aceh Peduli. Mereka menilai bahwa ucapan tersebut tidak cukup empati terhadap para korban bencana dan keluarga yang sedang berduka.
Kondisi warga di lapangan sangat memprihatinkan. Banyak dari mereka mengalami trauma, kehilangan rumah, serta harta benda. Jumlah korban jiwa juga mencapai 303 orang, menurut data terbaru dari BNPB. Ketua LSM Generasi Aceh Peduli, Burhanuddin Alkhairy, menyampaikan bahwa situasi di lapangan jauh lebih serius dari yang dibayangkan. Ia menegaskan bahwa pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepala BNPB sangat menyakiti hati para korban.
“Kami warga Aceh sangat tidak bisa menerima apa yang disampaikan tersebut. Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa bencana ini telah meluas dan melebar ke tingkat yang lebih berbahaya dan membutuhkan penanganan secara menyeluruh,” ujar Burhanuddin dalam keterangan tertulisnya.
Meskipun banjir di banyak wilayah telah surut, dampak turunan bencana masih terasa sangat berat. Warga masih berduka, trauma, serta kehilangan rumah dan harta benda. Di samping itu, Burhanuddin juga menyayangkan terjadinya tindakan penjarahan makanan di beberapa swalayan oleh warga di wilayah terdampak banjir.
Pihaknya menduga, insiden penjarahan ini merupakan dampak langsung dari kelambanan dan ketidaktepatan pihak terkait dalam menyikapi kebutuhan masyarakat yang paling urgen di lapangan. “Adanya penjarahan ini tentunya akibat dari pihak terkait lamban dan bias dalam menyikapi kebutuhan masyarakat yang paling urgen di lapangan,” kritik Burhanuddin.
Pernyataan Kepala BNPB dalam Konferensi Pers
Dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat (28/11/2025), Suharyanto menyampaikan bahwa kondisi banjir yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh sudah membaik. Ia menjelaskan bahwa meskipun di media sosial terlihat mencekam, saat tiba di lokasi, banyak daerah sudah tidak hujan. Wilayah yang paling serius adalah Tapanuli Tengah, namun wilayah lain relatif membaik.
“Yang pernah ditetapkan Indonesia sebagai bencana nasional itu hanya Covid-19 dan tsunami Aceh 2004. Sementara itu, bencana besar lain seperti gempa Palu, NTB, dan Cianjur pun tidak ditetapkan sebagai bencana nasional,” katanya.
Menurut Suharyanto, penetapan bencana nasional memiliki parameter utama, mulai dari kerusakan absolut, lumpuhnya pemerintahan daerah, sampai hilangnya kendali layanan publik. Situasi bencana di Sumatera, menurutnya, belum mencapai ambang tersebut. Struktur pemerintahan daerah disebut masih bisa menangani keadaan dengan bantuan pusat yang terus mengalir.
Data Korban Tewas dalam Bencana Banjir dan Tanah Longsor
Berdasarkan data terbaru, jumlah korban tewas dalam bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di tiga provinsi wilayah Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar), mencapai 303 orang. Berikut rincian jumlah korban tewas:
Sumatera Utara: 166 Orang Tewas
Sumut menjadi provinsi dengan korban meninggal terbanyak akibat banjir dan tanah longsor. Tercatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih dinyatakan hilang. Dampak terbesar bencana ini terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
Sumatera Barat: 90 Orang Tewas
Di Sumatera Barat, tercatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 lainnya mengalami luka-luka. Kabupaten Agam mencatat jumlah korban tertinggi.
Aceh: 47 Orang Tewas
Di Aceh, korban jiwa akibat bencana hidrimeteorologi ini mencapai 47 orang, 51 orang hilang, dan 8 luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga yang tersebar di berbagai wilayah.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











