Marosdaily.com – JAKARTA – Siapa yang tidak mengenal permainan Monopoli? Permainan papan yang sangat populer di seluruh dunia ini ternyata memiliki kisah yang menarik di baliknya. Selain sebagai sarana hiburan, permainan ini juga menyimpan kritik terhadap orang-orang kaya.
Dilansir oleh redaksi marosdaily.com, Monopoli awalnya dibuat oleh Elizabeth Magie pada awal abad ke-20 sebagai kritik terhadap para tuan tanah yang rakus dan praktik kapitalisme. Magie yang merupakan seorang wanita ambisius ingin mengubah pandangan masyarakat Amerika Serikat terhadap kepemilikan tanah dan pajak.
Bahkan, dalam permainan ini, Magie mengadaptasi para tokoh berpengaruh pada masa itu seperti John D. Rockefeller, Cornelius Vanderbilt, dan Andrew Carnegie. Namun, siapa sangka bahwa dalam beberapa dekade mendatang, permainan ini akan berubah menjadi sesuatu yang bertentangan dengan ideologi dan niat mulianya.
Magie lahir di Macomb, Illinois pada tahun 1866 dari seorang ibu rumah tangga dan ayah yang bekerja sebagai penerbit surat kabar. Ayahnya, James, mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa ketidaksetaraan antara orang kaya dan orang miskin adalah ancaman terbesar bagi masyarakat. Ide-ide progresif Magie yang mendekati sosialisme ini terus ia praktikkan dalam kehidupannya.
Salah satu ide Magie yang sangat progresif adalah tentang kepemilikan tanah. Ia menganut teori ekonomi politik Henry George yang menyatakan bahwa nilai ekonomi tanah seharusnya dimiliki secara sama oleh semua anggota masyarakat. Hal ini membuatnya menciptakan permainan Monopoli sebagai demonstrasi praktis dari sistem perampasan tanah yang ada saat itu.
Dalam patennya, tujuan permainan Monopoli adalah untuk mendapatkan kekayaan atau uang sebanyak mungkin. Namun, definisi ini tidak terdengar seperti permainan untuk anak-anak. Magie sendiri bertekad untuk tetap mengungkapkan ide-idenya dan berbicara secara jujur tentang apa yang ia yakini, termasuk tentang hak-hak perempuan pekerja dan melawan seksisme dalam masyarakat.





