Keterlibatan Tambang di Poboya: Rekaman Percakapan yang Menghebohkan
Sebuah rekaman percakapan antara Kepala Komnas HAM Sulawesi Tengah, Livand Breemer, dengan seorang pria berinisial I, telah beredar dan memicu kontroversi terkait dugaan keterlibatan tambang di Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Rekaman tersebut disebut terjadi pada 16 Maret 2026, beberapa hari setelah aksi demonstrasi masyarakat lingkar tambang Poboya.
Dalam rekaman itu, terdengar percakapan singkat antara Livand dan I saat keduanya bertemu. Livand menyampaikan bahwa ia baru saja ketemu dengan “kawan (kamu)”, sedangkan I menjawab bahwa ia juga baru saja ketemu. Namun, Ibrahim—yang merupakan pria berinisial I—membantah keterkaitannya dengan Livand Breemer.
Ibrahim sebelumnya disebut-sebut sebagai karyawan Livand yang mengendalikan alat berat di lokasi kolam perendaman emas di Poboya. Namun dalam rekaman tersebut, ia menegaskan bahwa dirinya bukan karyawan Livand. Menurutnya, ia hanya diminta oleh seseorang berinisial A untuk memfoto kolam perendaman. Foto tersebut kemudian diduga digunakan untuk menggiring opini seolah-olah kolam itu milik Livand Breemer.
Dalam percakapan yang sama, saat ditanya Livand mengenai pihak yang membayarnya, Ibrahim menyebut inisial A sebagai pihak yang memberikan perintah. Tak hanya itu, dalam rekaman berbeda yang juga beredar, Ibrahim kembali menegaskan bantahannya saat dihubungi seorang wartawan. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Pak Livand.
“Bukan, tidak ada sangkut pautnya dengan Pak Livand ini,” ujarnya melalui sambungan telepon. Ia juga menegaskan bahwa dirinya bukan karyawan Livand Breemer. “Saya bukan karyawannya Pak Livand,” tandasnya.
Ibrahim kemudian menceritakan kronologi singkat keterlibatannya. Ia mengaku hanya diminta oleh seseorang yang disebutnya sebagai Haji A untuk mengambil foto kolam. “Saya cuma disuruh Haji (A) kemarin, fotokan dulu itu bak, ada bak itu katanya mungkin kongsinya Komnas HAM, cuma saya fotokan. Saya tidak tahu ini mau jadi masalah besar, saya tidak mengerti ujung-ujungnya saya yang dijadikan sasaran,” jelasnya.
Sementara itu, Livand Breemer yang dikonfirmasi mengaku kecewa terhadap tudingan yang dialamatkan kepadanya. Ia menyebut telah membantu masyarakat Poboya secara resmi, khususnya masyarakat adat. “Saya bantu Poboya secara resmi, terutama masyarakat adatnya,” ujarnya.
Livand juga mengisyaratkan mengetahui sosok yang diduga menjadi aktor di balik aksi demonstrasi terhadap dirinya pada 9 Maret 2026 lalu. Ia menyebut inisial FD sebagai pihak yang berada di balik gerakan tersebut. Menurutnya, FD juga masuk dalam radar Satgas PKH sebagai pemodal dan pihak yang memiliki alat berat.
Diketahui, Livand Breemer telah dimutasi atau nonjobkan dan kini bertugas sebagai ASN biasa di kantor Komnas HAM Papua. Ia bertolak ke Papua pada Senin (13/4/2026). Sementara itu, posisi Kepala Komnas HAM Sulawesi Tengah saat ini diisi oleh Pelaksana Tugas, Edy Sutichno.
Polemik ini pun masih terus bergulir dan menjadi perhatian publik di Sulawesi Tengah.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











