"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

8 fakta mengerikan pria dibakar di Bali: rencana kriminal hingga lima pelaku

Kekerasan Mengerikan di Pelabuhan Benoa Bali

Sebuah kejadian mengerikan terjadi di wilayah Pelabuhan Benoa, Denpasar, yang menyebabkan dua orang meninggal dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Kejadian ini mengejutkan banyak warga sekitar karena pelaku dilaporkan melakukan tindakan keji dengan membakar korban hidup-hidup.

Korban diketahui bernama HA dan EGI, sedangkan pelaku diperkirakan berjumlah enam orang saat kejadian pengeroyokan dan pembakaran terjadi. Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan di lokasi kejadian untuk mengungkap fakta-fakta lebih lanjut.

Berikut adalah beberapa fakta yang berhasil dihimpun:

Lokasi Kejadian

Aksi yang diduga pengeroyokan dan pembakaran hidup-hidup terjadi di area rawa depan Restoran B Sirip Tuna Biru kawasan Jalan Raya Pelabuhan Benoa. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.30 WITA.

Kronologi Awal

Warga setempat, Budi Listiyono (25), menceritakan bahwa penganiayaan bermula ketika dirinya bersama kedua korban, HA (28) asal Semarang dan Egi, mengonsumsi minuman keras di kawasan Benoa sejak pukul 02.30 WITA. Korban Egi kemudian mengajaknya membeli minuman tambahan menggunakan jasa ojek daring (Maxim). Namun, karena tidak menemukan warung yang buka di sekitar lampu merah (TL) Pesanggaran, mereka memutuskan untuk turun dan berjalan kaki kembali ke arah Benoa.

Saat ketiganya sedang duduk beristirahat di depan Restoran B Sirip Tuna Biru, tiba-tiba mereka didatangi oleh sekitar enam atau tujuh orang pelaku penganiayaan yang mengendarai sepeda motor. Tanpa basa-basi, kelompok pelaku langsung melakukan penganiayaan secara membabi buta. Budi berhasil menyelamatkan diri dengan lari dan bersembunyi ke bagian belakang restoran, tetapi kedua rekannya tidak berhasil meloloskan diri dari amukan para pelaku.

Tak Cuma Aniaya Fisik

Kekejaman para pelaku tidak berhenti pada penganiayaan fisik. Sekitar pukul 04.30 WITA, Yos Barliansyah yang tinggal di sekitar lokasi mendengar keributan dan melihat pemandangan mengerikan. Ia menyaksikan beberapa orang pelaku tengah membakar tubuh korban di kegelapan malam.

Lapor ke Kelian Adat

Melihat kejadian itu, Yos segera menghubungi Kelian Adat Banjar Pesanggaran yang kemudian menerjunkan petugas Pecalang ke lokasi penganiayaan tragis tersebut. Setibanya petugas Pecalang di TKP sekitar pukul 05.00 WITA, mereka menemukan kobaran api masih menyala di area rawa. Saat api mulai mereda, terlihat dua tubuh manusia tergeletak dalam kondisi memprihatinkan.

Kondisi Korban Mengenaskan

Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, S.H., M.H merinci kondisi kedua korban yang ditemukan di posisi berbeda. Korban HA ditemukan di sisi selatan dengan luka bakar pada kedua tangan dan punggung, serta luka terbuka di bagian pelipis kanan dan beberapa bagian kepala. Sementara itu, korban Egi ditemukan di sisi utara tanpa mengenakan baju, dengan luka robek di pinggang kanan serta luka terbuka di pelipis.

Polisi Sebut Indikasi Pengeroyokan Terencana

Di lokasi kejadian, tim Polresta Denpasar mengamankan sejumlah barang bukti yang memperkuat dugaan penganiayaan berencana. “Kami menemukan potongan kayu balok sepanjang 35 cm dan botol bekas bahan bakar yang sudah meleleh di lokasi,” bebernya. Selain itu, ada barang pribadi korban seperti ponsel Poco dan Realme, dompet berisi uang Ringgit Malaysia, jam tangan, sepatu, serta sandal yang tercecer.

Mulai Perhatikan CCTV

Polisi juga tengah mengumpulkan rekaman CCTV dan keterangan saksi-saksi lain di sepanjang jalur Pelabuhan Benoa guna mengidentifikasi para pelaku. “Pelaku saat ini masih dalam pengejaran tim gabungan,” ungkap Iptu I Gede Adi Saputra Jaya.

Pelaku Diduga Lebih dari 5 Orang

Hingga saat ini, tim Polresta Denpasar masih melakukan perburuan intensif terhadap kelompok pelaku yang diduga berjumlah lebih dari lima orang. Saat ini, jenazah kedua korban telah dievakuasi untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *