Iran Mengancam Putuskan Gencatan Senjata dengan AS Jika Israel Terus Serang Lebanon
Sebuah sumber anonim dari Iran mengungkapkan bahwa negara tersebut akan mengakhiri gencatan senjata dengan Amerika Serikat jika serangan terhadap Lebanon oleh Israel terus berlanjut. Pernyataan ini disampaikan pada hari Rabu (8/4/2026), dan dilaporkan oleh Tasnim News yang kemudian dikutip oleh Anadolu Agency.
Menteri Luar Negeri Iran Minta Israel Berhenti Serang Lebanon
Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, menyerukan kepada Israel untuk menghentikan serangan terhadap Lebanon. Ia menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran secara eksplisit mencakup Lebanon sebagai pihak yang terlibat.
“Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS sudah jelas dan eksplisit: AS harus memilih—gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak bisa mendapatkan keduanya,” tulis Aragchi dalam unggahan di X.
Ia juga menyoroti bahwa dunia melihat pembantaian di Lebanon, dan bola ada di tangan AS serta dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya.
Wakil Presiden AS Menyampaikan Respons atas Ancaman Iran
Ancaman dari Iran mendapat respons dari Wakil Presiden AS, JD. Vance. Ia menyatakan bahwa AS akan membiarkan Iran memilih opsi sendiri. Jika Iran benar-benar ingin menyudahi gencatan senjata, maka AS akan membiarkannya. Namun, ia menegaskan bahwa Iran harus siap dengan konsekuensi yang akan terjadi.
“Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal karena Lebanon yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan yang tidak pernah sekali pun disebut oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka,” kata Vance dilansir Al Jazeera.
Menurut Vance, ini adalah pilihan mereka meskipun ia menganggapnya sebagai kesalahpahaman yang sah. Ia percaya bahwa Iran mengira gencatan senjata termasuk Lebanon, padahal tidak.

Kesepakatan Gencatan Senjata Antara Trump dan Iran
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, telah menyepakati gencatan senjata dengan Iran pada Selasa (7/4/2026). Langkah ini diambil karena Iran bersedia membuka Selat Hormuz untuk kapal-kapal dari semua negara. Gencatan senjata ini juga mencakup Israel.
“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” kata Aragchi.
AS dan Israel menegaskan bahwa Lebanon tidak disertakan dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon.

Dampak Serangan Israel di Lebanon
Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 1.530 orang. Sementara itu, lebih dari 1,2 juta orang lainnya terpaksa mengungsi untuk menghindari serangan Israel.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa masyarakat internasional mulai mengkhawatirkan situasi di Lebanon, terutama setelah serangan terhadap pasukan PBB di wilayah tersebut. Banyak negara dan organisasi internasional seperti Uni Eropa dan PBB telah mengecam serangan Israel ke Lebanon, menganggapnya sebagai gangguan terhadap perdamaian Timur Tengah.
Presiden Iran juga memberikan pernyataan terkait serangan Israel ke Lebanon, yang menunjukkan bahwa situasi semakin memanas. Kecaman terhadap aksi Israel juga datang dari banyak pihak, baik dari negara-negara anggota PBB maupun organisasi internasional lainnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











